Malam itu, Jakarta tidak tahu bahwa ia sedang diselamatkan. Tapi di belasan, lalu puluhan, titik kecil yang tersebar di seluruh tubuhnya, orang-orang menunduk ke tanah dan melakukan hal yang sama persis dalam satu napas yang sama.
Di pekarangan kost, Bu Sari menekan kedua telapaknya ke tanah dan memikirkan anak-anak kostnya. Di pasar lama, Pak Darto dan Mbak Yuni dan nenek penjual gorengan berlutut di tanah yang baru mereka rebut kembali. Di kolong jembatan, roh asam tua merentangkan akarnya bersama dua pemuda yang menjaganya. Di embung masjid, jamaah yang baru selesai salat isya—yang Pak Karyo kabari lewat takmir—ikut menyentuh tanah pekarangan tanpa benar-benar tahu kenapa, hanya merasa malam itu istimewa. Di pekarangan SD, penjaga sekolah dan beberapa guru yang lembur. Di taman baca, relawan yang biasa membersihkannya. Tukang ojek yang mangkal di pojok gang. Pedagang kaki lima yang menutup lapaknya. Anak-anak yang seharusnya sudah tidur tapi ikut karena ibu mereka ikut.
Mereka tidak mengucapkan mantra. Mereka tidak membakar dupa. Mereka hanya memikirkan apa yang mereka cintai dari tanah tempat mereka berpijak—rumah, kenangan, masa kecil, orang tua yang sudah pergi, anak yang sedang tumbuh, gang tempat mereka pertama kali jatuh cinta, pohon tempat mereka berteduh, sumur tempat mereka menimba air saat masih kecil. Mereka menumpahkan cinta itu ke tanah lewat telapak tangan, dan setitik tanah Sumberwangi di tiap pos—ragi dari tanah keramat yang melepas Ki Lawu dengan restu—berdenyut dan menyebarkan panggilan itu ke dalam, ke akar-akar, ke lapisan-lapisan kota yang sudah lupa kapan terakhir kali ada yang mencintainya.
Dan kota mengingat.
Ki Lawu, berdiri di pusat dengan kedua tangan terangkat, merasakan gelombang itu datang. Dari segala arah sekaligus, dari tiap titik yang menyala, mengalir kehangatan ke arahnya, melewatinya, melalui tubuh tua dan rapuhnya yang kini menjadi jantung jejaring itu. Ia mengerang—bukan kesakitan, tapi dari beban dahsyat yang melewatinya—dan ia menarik gelombang itu, mengumpulkannya, mengarahkannya ke celah di tengah lahan. Ia tidak menariknya sendirian. Tiap pasak memompa balik kepadanya, tiap roh menopang, tiap warga menambah, dan beban yang seharusnya menghancurkan satu dhanyang sekarat terbagi rata ke seluruh kota, ringan di tiap pundak karena banyaknya pundak yang memikul.
Dan untuk satu malam, untuk satu napas panjang yang tidak akan tercatat di koran mana pun, Jakarta—kota yang sudah berpuluh tahun melupakan bahwa ia pernah jadi tanah yang dicintai—mengingat cara mencintai dirinya sendiri.
Tanah di seluruh kota menghangat. Bukan secara fisik—termometer tidak akan mencatatnya. Tapi sesuatu yang lebih tua dari suhu. Tanah yang diuruk dan dilupakan, tanah di bawah jalan tol dan gedung dan parkiran, tanah yang sudah lama berhenti diajak bicara—malam itu ada yang berbicara padanya, ada yang mencintainya, dan ia menjawab. Pohon-pohon tua di sepanjang jalan yang biasanya hanya bertahan kini berdiri sedikit lebih tegak. Rumput di sela trotoar tumbuh sejengkal dalam beberapa menit. Air tanah yang dalam berdenyut. Dan di tiap titik, kekosongan yang sebelumnya menghuni tanah yang dilupakan—kekosongan yang merupakan ladang makhluk lapar—terisi penuh oleh cinta yang dipanggil serentak.
Di tengah lahan groundbreaking, kekosongan menjerit.
Kali ini Nayla mendengarnya. Bukan dengan telinga—dengan tulang, dengan gigi, dengan sesuatu di dalam dadanya. Sosok tinggi yang berubah-ubah itu mulai menyusut. Tambal sulam wajah-wajah di permukaannya berguguran satu per satu—bukan dilepaskan, tapi diambil kembali, karena tiap tanah yang dihidupkan di kota mengklaim kembali penjaga yang dulu menjaganya, mengisi kekosongan tempat penjaga itu dulu dicabut. Kulit kayu beringin di lengannya rontok. Batu sumur di bahunya retak dan jatuh. Aspal di dadanya mengelupas. Dan di tiap tempat yang gugur, hanya tersisa lebih banyak gelap—tapi gelap itu tidak lagi punya tempat untuk pergi, karena di luar dirinya, kota sudah penuh.
"Dia nyusut," bisik Nayla, takjub dan ngeri sekaligus. "Pak, dia bener-bener nyusut."
Ki Lawu tidak bisa menjawab. Seluruh tubuhnya gemetar menahan gelombang yang melewatinya, keringat membanjiri wajahnya, dan dari hidungnya menetes darah. Tapi ia berdiri. Ia menjadi jantung, dan jantung tidak boleh berhenti di tengah denyut. Ia menarik lebih banyak, mengarahkan lebih kuat, dan celah di pusat—mulut tabir yang Wibawa buka—mulai merapat dari segala sisi, dijahit oleh seluruh kota sekaligus.
Makhluk lapar, yang berabad-abad menelan tanpa pernah kenyang, untuk pertama kalinya merasakan apa yang ia lakukan pada orang lain: dilucuti, dikecilkan, dikembalikan ke ketiadaan. Ia melemparkan dirinya ke arah Ki Lawu di pusat—serangan terakhir, putus asa, mencoba menelan jantung jejaring itu sebelum kota menutupnya penuh. Dingin yang tak berdasar menerjang ke arah dhanyang tua yang berdiri sendiri di tengah, dan Nayla berteriak.
Tapi Ki Lawu tidak sendiri. Dan kota, malam itu, sudah belajar cara menjaga yang dijaganya.