Ki Lawu mulai bisa berjalan lebih jauh dari kost, dan ke mana pun ia pergi, ia mencari tanah yang masih bernapas. Sebagian besar tidak. Tapi suatu sore, mengikuti firasat yang menarik dadanya seperti tali tak kasat mata, ia menemukan sebuah tempat yang membuat tengkuknya meremang.
Itu lahan kosong di antara dua gedung mati—bekas bangunan yang terbakar bertahun lalu dan tak pernah dibangun ulang, sengketa warisan kata orang. Pagar sengnya sudah berkarat dan miring. Di dalamnya, rumput liar tumbuh setinggi dada, dan di tengah-tengahnya berdiri puing tembok yang sudah dipeluk akar beringin liar—bukan beringin tua seperti miliknya, tapi cukup untuk membuat Ki Lawu berhenti dan menahan napas.
"Di sini tipis," gumamnya. Tabir. Lapisan antara dunia kasar dan halus, di tempat-tempat yang dilupakan manusia, menipis sampai hampir robek sendiri. Ia merasakannya seperti orang merasakan angin masuk dari celah dinding. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, menyibak rumput, dan di balik puing tembok itu, ia menemukan bukan sendirian.
Seekor makhluk meringkuk di pojok, di tempat paling gelap. Mula-mula Ki Lawu mengiranya anjing kurus. Lalu makhluk itu mengangkat kepala, dan Ki Lawu melihat bentuknya yang sebenarnya bergeser-geser—sebentar seperti monyet tua, sebentar seperti orang bungkuk berbulu, sebentar tak berbentuk sama sekali, seperti gambar yang dilukis di air yang bergoyang.
"Penjaga," makhluk itu mendesis, suaranya seperti daun kering bergesek. "Kau juga tersesat."
Ki Lawu tidak takut. Ia mengenali jenis ini—roh kecil penunggu tempat, sejenis dengan dirinya meski jauh lebih lemah dan lebih liar. "Aku Lawu, dari Sumberwangi," katanya, membungkuk sopan seperti pada sesama. "Siapa kau, dan bagaimana kau sampai di pojok yang terlupakan ini?"
Makhluk itu bergidik. "Aku tak ingat namaku lagi. Aku penunggu sebuah pohon asam di pasar lama, dulu. Pasar dibongkar, dibangun mal, asamku ditebang. Aku tertarik lewat robekan, sama sepertimu. Sudah lama. Sudah lupa berapa lama." Ia menatap Ki Lawu dengan mata yang berkedip-kedip seperti lampu mau mati. "Lihat aku. Beginilah jadinya jika tak ada tanah yang mengakui. Aku sudah lupa namaku. Sebentar lagi aku lupa bahwa aku pernah menjaga. Lalu aku jadi... lapar. Jadi seperti mereka."
"Mereka?" Ki Lawu mendekat. "Siapa mereka?"
Makhluk itu menggeleng cepat, ketakutan. "Jangan tanya di sini. Tipis di sini. Mereka mendengar lewat yang tipis." Ia merangkak lebih dalam ke bayang. "Tapi dengar, Penjaga dari Sumberwangi—kau bukan yang pertama, dan kau bukan yang terakhir. Robekan tabir bukan cuma di desamu. Banyak. Di mana-mana tanah dibongkar, tabir disobek. Kami berjatuhan ke kota seperti daun di angin. Yang kuat, bertahan, mencari tanah. Yang lemah—" suaranya pecah, "—lupa, lalu lapar, lalu jadi sesuatu yang lain."
Ki Lawu berdiri di tengah lahan terlupakan itu dengan jantung daging barunya berdebar. Selama ini ia mengira dirinya kecelakaan tunggal, satu pohon yang tumbang. Tapi kalau makhluk ini benar, ia hanya satu dari banyak. Robekan-robekan tabir menyebar di seluruh kota, di tiap tempat tanah dirobek paksa, dan dari tiap robekan, sesuatu menyeberang.
"Dengar," kata Ki Lawu, lembut, pada makhluk yang gemetar itu. "Aku belum punya tanah untuk diriku sendiri. Tapi kalau nanti aku menemukannya, aku akan kembali untukmu. Kau tak harus lupa sendirian."
Makhluk itu menatapnya, dan untuk sekejap, di balik wujud yang bergeser-geser, ada sesuatu yang sangat tua dan sangat sedih dan sangat haru. "Sudah lama," desisnya, "tak ada yang berjanji apa pun padaku." Lalu ia menambahkan, suaranya turun jadi bisikan ngeri: "Tapi hati-hati, Lawu dari Sumberwangi. Ada yang ikut lewat dari robekan-robekan ini yang bukan seperti kita. Bukan penjaga yang lupa. Sesuatu yang memang sudah lapar sejak dari sananya, dari sebelum ada desa, dari sebelum ada tanah yang perlu dijaga. Aku merasakannya lewat di sini beberapa malam lalu. Ia mencari sesuatu. Atau seseorang."
Matahari turun, dan bayang-bayang di lahan kosong itu memanjang dengan cara yang tidak wajar. Ki Lawu pamit, membungkuk hormat, dan keluar dari pagar seng yang miring. Tapi sepanjang jalan pulang, kata-kata terakhir makhluk itu menempel di punggungnya seperti tangan dingin. Ia mencari sesuatu. Atau seseorang.
Di kost, Nayla sedang menggambar di teras di bawah lampu kuning, lidah sedikit menjulur seperti tiap kali ia serius. Ki Lawu memandanginya dari ujung gang, dan untuk alasan yang ia sendiri tak mengerti, firasatnya mengencang seperti tali yang ditarik. Ia mempercepat langkah, ingin segera dekat, ingin memastikan gadis itu baik-baik saja, meski belum tahu dari apa ia harus melindunginya.