Kekosongan itu tidak bisa dibunuh. Ki Lawu memahaminya sepenuhnya saat ia berdiri di hadapannya, dan pemahaman itu, alih-alih membuatnya putus asa, justru memberinya jalan. Selama ini ia dan Nayla menyusun pertahanan seperti menyusun benteng melawan musuh: bagaimana mengusir, bagaimana mengurung, bagaimana menahan. Tapi musuh itu bukan makhluk yang bisa diusir. Ia adalah ketiadaan. Dan kau tidak melawan ketiadaan dengan kekuatan. Kau melawannya dengan mengisinya.
"Nayla," Ki Lawu memanggil, tanpa memalingkan pandang dari sosok yang berubah-ubah di seberang celah. "Dengerin baik-baik, karena aku mungkin nggak sempat ngomong dua kali." Nayla melangkah ke sisinya, jantungnya berdebar. "Makhluk ini nggak bisa dibunuh. Bukan karena dia terlalu kuat. Tapi karena nggak ada yang bisa dibunuh. Dia bukan sesuatu—dia ketiadaan sesuatu. Dia kekosongan yang muncul di tanah yang nggak dicintai, di tempat yang dilupain, di luka yang nggak disembuhin. Kamu nggak bisa nusuk lubang. Kamu nggak bisa mukul gelap."
"Terus gimana ngalahinnya?" tanya Nayla, suaranya tertahan.
"Kamu isi lubangnya." Ki Lawu menoleh padanya, dan di mata tuanya ada kejernihan yang belum pernah Nayla lihat—seperti orang yang akhirnya, setelah perjalanan panjang, sampai di tempat yang sejak awal ia tuju. "Lawan dari lapar itu bukan kuat. Lawan dari lapar itu kenyang. Lawan dari kosong itu penuh. Lawan dari yang nelan itu yang numbuhin. Dia ngosongin tanah—kita isi tanah itu dengan akar, dengan cinta-rawat, dengan hidup. Tiap petak tanah yang kita hidupin, satu suap diambil dari mulutnya. Hidupin cukup banyak, serentak, dan dia nggak punya kekosongan lagi buat dimakan. Dia nyusut. Karena makhluk yang lahir dari kosong nggak bisa hidup di tempat yang penuh."
Nayla menatap celah di pusat, lalu menatap titik-titik kota yang menyala di kejauhan—pasar lama yang baru saja ditegakkan ulang oleh warga, kolong jembatan, embung masjid, taman baca, pekarangan kost. Tiap titik adalah tanah yang dihidupkan. Tiap titik adalah suapan yang diambil dari mulut yang lapar. "Jadi ini bukan pertarungan kekuatan," katanya pelan, memahami. "Ini lomba. Dia ngosongin, kita ngidupin. Siapa yang lebih cepat."
"Iya." Ki Lawu mengangguk. "Dan selama ini kita kalah cepat, karena dia udah ngosongin kota ini berabad-abad, sedikit demi sedikit, lewat tiap gusuran, tiap lahan yang diuruk, tiap tempat yang dilupain. Tiap kali kota lupa cara mencintai tanahnya, dia makan setitik. Itu sebabnya dia bisa tumbuh di sini. Kota ini udah jadi ladangnya tanpa siapa pun tau."
Di seberang, kekosongan bergerak. Ia mengirim dinginnya ke sepanjang pagar lagi, mencari titik lemah baru, mencoba mengosongkan lebih cepat daripada kota bisa mengisi. Satu pos di pinggiran mulai meredup. Ki Lawu merasakannya seperti rasa lapar sendiri.
"Dia tau apa yang kita rencanain," kata Ki Lawu cepat. "Dia bakal ngosongin secepat dia bisa, nyerang tiap titik, mancing ketakutan lagi. Kalau dia ngosongin lebih cepat dari kita ngidupin, kita kalah. Mulut tabir kebuka penuh, dan dia nelan seluruh kota dalam semalam." Ia mencengkeram lengan Nayla. "Tapi kalau kita ngidupin SEMUA titik serentak—bukan satu-satu, tapi bareng, sekaligus, seluruh kota dalam satu napas—dia nggak akan sempat ngosongin secepat itu. Dia bakal kewalahan. Penuh dari segala arah sekaligus."
"Serentak," ulang Nayla. "Semua pos. Dalam satu waktu."
"Semua pos. Semua roh. Semua warga. Tiap petak tanah hidup yang kita tanem berbulan-bulan ini." Ki Lawu menatapnya. "Kamu yang ngatur, Nduk. Kamu arsiteknya. Kamu yang tau gimana caranya ngebagi beban biar nggak numpuk di satu tiang. Aku cuma jantungnya—aku yang bakal narik semuanya ke pusat, ngumpulin tarikan dari tiap pasak, ngarahin ke celah. Tapi yang manggil tanahnya, yang ngidupinnya, itu mereka. Itu kalian."
Nayla menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponselnya—benda kecil yang dulu Ki Lawu tidak mengerti, yang kini menjadi penghubung jejaring penjaga seluruh kota. Ia membuka grup yang sudah disiapkan, jemarinya melayang di atas layar, dan ia menatap Ki Lawu satu kali lagi.
"Pak yakin Pak kuat narik semuanya ke pusat?" tanyanya, dan di balik pertanyaan itu ada kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan. "Itu beban yang gede banget. Seluruh kota lewat Pak."
Ki Lawu tersenyum, lelah dan tua dan entah bagaimana muda sekaligus. "Aku nggak akan narik sendirian, Nduk," katanya, dan ia menengok ke belakang, ke Pak Karyo, ke titik-titik kota yang menyala. "Itu pelajaran yang kamu ajarin ke aku malam ini, inget? Jantung nggak mompa darah buat dirinya sendiri. Dia mompa karena ada tubuh yang mompa balik ke dia." Ia memandang ke arah celah, ke arah kekosongan yang lapar. "Ayo kita kasih dia makan malam yang nggak bakal pernah dia cerna. Ayo kita kasih dia kota yang penuh."
Nayla menekan tombol, dan satu pesan terkirim ke seluruh kota. Bukan kata SEKARANG kali ini. Satu kalimat. Kalimat yang Ki Lawu ajarkan, yang sederhana sampai memalukan, yang justru karena itu kuat: Cintai tanahmu. Bersama-sama. Sekarang.