Tuan Wibawa melepas topengnya bukan dengan amukan, melainkan dengan keputusasaan yang dingin—dan justru itu yang membuatnya jauh lebih mengerikan daripada monster mana pun yang pernah Nayla bayangkan. Ia berdiri di tepi celah, dan sepanjang malam ia mempertahankan wujud manusia: lelaki berwibawa berjas mahal, wajah kesuksesan yang ingin difoto semua orang. Tapi kini, dengan pagar kota merapat dan pasak-pasak menyala lebih terang, mempertahankan wujud itu menjadi terlalu mahal. Maka ia melepasnya. Bukan untuk menakuti. Untuk menghemat. Seperti orang yang melepas mantel saat berlari demi bertahan hidup.
Dan yang tersisa, ketika mantel manusia itu jatuh, membuat Nayla menahan jerit dengan kedua tangan di mulut.
Ia mengira akan melihat taring. Cakar. Mata yang menyala. Sesuatu yang bisa dilawan, dipukul, dibakar. Tapi yang berdiri di tepi celah bukanlah makhluk dalam pengertian apa pun. Ia adalah kekosongan. Sosok tinggi yang bentuknya terus berubah karena ia tidak punya bentuk sendiri—ia adalah tambal sulam dari segala yang pernah ia telan. Di satu lengannya, sekilas, terlihat tekstur kulit kayu beringin tua. Di bahunya, batu sumur. Di dadanya, aspal jalan tol. Wajahnya—kalau bisa disebut wajah—adalah kumpulan wajah, ratusan wajah penjaga yang ia makan, muncul dan tenggelam, tak satu pun utuh, semua sengsara. Dan di balik semua tempelan itu, di celah-celah di antaranya, hanya ada gelap yang bukan malam, gelap tanpa dasar, gelap yang berbentuk seperti kota dilihat dari sangat tinggi, dari sangat jauh, di mana lampu-lampu adalah lubang dan gedung-gedung adalah gigi.
Ia adalah kota. Bukan kota yang hidup—kota yang dimakan. Kota sebagai kelaparan yang diberi wujud.
"Astaga," bisik Pak Karyo, dan ia jatuh berlutut, bukan karena hormat tapi karena lututnya tidak sanggup menahan apa yang matanya lihat. "Astaga, Ki. Itu... itu apa?"
Ki Lawu, yang sepanjang malam berdiri ditopang, kini melepaskan topangan dan berjalan ke depan—setapak, dua tapak—menghadap kekosongan itu di seberang lahan. Dingin yang memancar darinya membuat aspal di bawah kakinya berbunga embun beku, tapi ia tidak berhenti. Ia menatap sosok yang berubah-ubah itu dengan mata yang tidak takut, hanya sedih, sangat sedih.
"Aku tau kamu," katanya, dan suaranya, meski lemah, terbawa jernih di udara yang membeku. "Bukan kamu yang ini. Tapi apa kamu sebenarnya. Kamu bukan iblis. Bukan setan. Kamu cuma... lapar. Lapar yang nggak pernah kenyang, karena yang kamu makan nggak pernah jadi milikmu. Kamu nelan tanah, tapi tanah cuma hidup kalau dicintai, dan kamu nggak bisa mencintai. Jadi tiap yang kamu makan mati di dalam dirimu, dan kamu cuma jadi makin kosong, makin lapar, selamanya."
Sosok itu tidak menjawab dengan kata. Tapi seluruh wajah-wajah di permukaannya berputar ke arah Ki Lawu serentak, dan dari celah-celah gelap di antaranya keluar suara—bukan satu suara, melainkan ribuan, semua suara penjaga yang ia telan, berbicara bersamaan dalam kalimat yang sama, dengan nada yang membuat darah Nayla membeku karena ia mengenali nada itu: nada bujukan, nada yang sama yang dulu makhluk pakai untuk merayunya di gang gelap.
"Kamu juga lapar, dhanyang," suara-suara itu berkata. "Kamu kehilangan rumahmu. Kehilangan pohonmu. Kehilangan ingatanmu, satu per satu, demi mereka. Kamu memudar. Kamu sekarat. Dan untuk apa? Untuk kota yang tidak percaya padamu. Bergabunglah. Dalam diriku kamu tidak akan pernah lapar lagi. Tidak akan pernah lupa lagi. Tidak akan pernah sendirian lagi."
Ki Lawu menatap sosok itu lama. Dan sesuatu yang aneh terjadi di wajahnya—bukan godaan, bukan keraguan, melainkan kasihan. "Sendirian," ulangnya pelan. "Kamu pikir aku sendirian." Ia menggeleng. "Itu bedanya kita, sedulur tua. Kamu nelan ratusan penjaga, ratusan tanah, ratusan wajah—dan kamu masih sendirian. Lebih sendirian dari makhluk mana pun di dunia ini, karena nggak ada satu pun yang kamu makan itu mencintaimu. Mereka cuma ada di dalammu, mati dan menjerit."
Ia berbalik sejenak, menengok ke belakang—ke Nayla, ke Pak Karyo, ke arah gang dan pasar lama dan kolong jembatan dan semua titik di kota yang menyala dengan cinta orang-orang biasa. Lalu ia berbalik lagi menghadap kekosongan.
"Aku kehilangan banyak," katanya. "Rumah, pohon, ingatan, umur. Semua bener yang kamu bilang. Tapi aku nggak sendirian. Di belakangku ada gadis yang nyimpen ingatanku di buku biar aku nggak lupa siapa aku. Ada tukang sampah yang ngenalin aku waktu nggak ada yang percaya. Ada ibu kost yang dulu mau manggil satpam buat usir aku, sekarang nganggep aku keluarga. Ada warga yang malam ini berdiri di tanah mereka dan ngelawan kamu tanpa aku." Suaranya bergetar, tapi tidak goyah. "Kamu nawarin aku biar nggak pernah sendirian lagi. Tapi aku udah nggak sendirian, kosong. Justru karena aku ngasih, bukan nelan. Itu yang kamu nggak akan pernah ngerti."
Dan kekosongan itu, untuk pertama kalinya, mundur selangkah—bukan karena diserang, tapi karena disodori sesuatu yang tidak bisa ia cerna, tidak bisa ia telan, tidak bisa ia pahami: cinta yang membuat seseorang utuh justru saat ia kehilangan segalanya.