Pak Darto sampai di pasar lama dengan sandal jepit dan kaus oblong, napas tersengal karena ia berlari dari ujung gang setelah menerima telepon Nayla. Ia tidak tahu persis apa yang dilawan. Yang ia tahu, dhanyang yang dulu menyelamatkan anaknya dari demam yang tak kunjung turun—yang menumbuhkan untung kecil di warungnya saat ia hampir bangkrut—sedang berperang, dan butuh orang biasa untuk berdiri di tanah yang ditinggalkan ketakutan.
Pasar lama itu menyeramkan dalam gelap. Los-los kosong menganga seperti mulut, dan di antaranya ada dingin yang bukan dingin malam, dingin yang membuat Pak Darto ingin balik badan dan lari seperti warga lain tadi. Bayangan tinggi tanpa wajah masih ada di sana, di pojok, menunggu, dan ketika Pak Darto melihatnya, lututnya benar-benar lemas.
Lalu Mbak Yuni datang. Lalu nenek penjual gorengan dari kolong jembatan. Lalu dua pemuda yang berpos di kolong. Lalu, satu per satu, beberapa warga pasar lama yang tadi lari—malu pada diri mereka sendiri setelah mendengar bahwa orang dari gang lain berani datang sementara mereka kabur dari tanah mereka sendiri. Mereka kembali bukan karena tidak takut. Mereka kembali justru karena takut, tapi memilih datang juga.
"Saya nggak ngerti caranya," bisik Pak Darto pada Mbak Yuni, suaranya bergetar. "Ki Lawu yang biasanya... saya cuma tukang warung."
"Saya juga nggak ngerti," sahut Yuni, dan ia tertawa kecil yang gugup. "Saya cuma mahasiswa yang dulu hampir nyerah karena utang. Tapi Ki Lawu nolongin saya bukan pakai sihir, Pak. Dia nolongin saya pakai bantuin saya berani ngaku ke keluarga. Mungkin... mungkin caranya emang gitu. Kita nggak perlu jadi dhanyang. Kita cuma perlu sayang sama tempat ini, dan berani nunjukin itu."
Maka mereka mulai. Tanpa mantra, tanpa dupa, tanpa apa pun yang dukun punya. Mereka mengambil sapu yang ditinggalkan, mereka menegakkan pot-pot yang ditendang dalam panik, mereka mengumpulkan kembali tanah yang berhamburan ke selokan dengan tangan telanjang. Nenek penjual gorengan mulai menyapu los demi los seperti tiap subuh ia menyapu kolong, dan tindakannya yang sangat sederhana itu—merawat tanpa pamrih—menyebar ke yang lain. Pak Darto menyiram pot yang masih hidup. Dua pemuda menata ulang batu-batu di sekitar bekas sumur tua. Dan Mbak Yuni berdiri di tengah pasar, menghadap bayangan tinggi tanpa wajah, dan berkata dengan suara yang gemetar tapi tidak mundur:
"Ini tempat kami. Kalian nggak boleh ambil."
Di trotoar pusat, Ki Lawu menutup matanya dan merasakannya. Pasar lama, yang tadi gelap dan kosong, mulai menghangat lagi. Bukan karena tanahnya tumbuh—itu butuh waktu. Tapi karena manusia berdiri di sana, mencintai tanah itu di hadapan ketakutan, dan cinta-rawat itu sendiri adalah pasak. Roh penjaga sumur memang sudah hilang, ditelan makhluk. Tapi pos itu tidak butuh roh untuk menyala. Ia butuh hati. Dan malam itu, di pasar lama, ada lebih dari cukup hati.
Pasak pasar lama menyala kembali. Tapi kali ini berbeda. Pasak-pasak lain ditegakkan oleh roh, ditopang manusia. Pasak ini ditegakkan oleh manusia sepenuhnya, tanpa roh, tanpa dhanyang. Dan justru karena itu, ia berbeda kualitasnya—lebih ringkih, mungkin, tapi juga lebih bandel, karena ia tidak bisa ditelan: kau tidak bisa memakan keberanian orang yang memilih untuk tetap berdiri.
Ki Lawu merasakan air matanya turun lagi, tapi kali ini bukan dari kesedihan. "Lihat itu," bisiknya pada Nayla yang berdiri di sisinya. "Lihat apa yang mereka lakuin tanpa aku."
Nayla mengangguk, tersenyum. "Itu yang aku coba bilang, Pak. Penjaga itu bukan satu makhluk yang harus mati buat semua. Penjaga itu... ini." Ia mengayunkan tangan ke arah kota, ke arah titik-titik yang menyala di kegelapan. "Banyak orang. Banyak hati. Yang saling jaga."
Dan keberanian itu, seperti ketakutan tadi, menular. Kabar bahwa pasar lama yang jebol berhasil ditegakkan kembali oleh warga biasa menjalar ke pos-pos lain lewat telepon Pak Karyo, lewat pesan grup, lewat bisik ke bisik. Dan di tiap pos yang tadi mulai goyah karena takut, kini ada cerita baru untuk dipegang: kalau pasar lama yang udah jebol aja bisa berdiri lagi, pos kita yang belum jebol pasti bisa bertahan. Keyakinan menjalar secepat ketakutan tadi menjalar, dan satu per satu, pasak-pasak yang melemah menegang kembali, menyala lebih terang dari sebelumnya.
Di pusat, celah yang sempat membuka lebih lebar mulai tertahan, lalu—untuk pertama kalinya sejak Wibawa menancapkan pasaknya—mulai merapat. Sedikit. Tapi merapat.
Dan di tengah lahan groundbreaking, Tuan Wibawa berhenti tersenyum.
Wajahnya—yang sepanjang malam tetap tenang, tetap dingin, tetap yakin—untuk pertama kalinya menunjukkan sesuatu yang lain. Bukan marah. Makhluk lapar tidak marah seperti manusia. Tapi sesuatu yang lebih mendasar: kebingungan. Kelaparan yang sudah berabad-abad menelan tanah dan penjaga, yang mengukur dunia hanya dalam hitungan apa yang bisa dimakan, sedang menyaksikan sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungannya. Ia menyerang satu titik dan mengira ketakutan akan meruntuhkan sisanya. Tapi alih-alih runtuh, kota itu malah belajar berani.
Ki Lawu menatap ke seberang, menatap wajah Wibawa yang mulai retak ketenangannya, dan ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: harapan yang berakar pada kenyataan, bukan sekadar keinginan. "Dia bingung," gumamnya. "Dia nggak ngerti. Karena dia cuma tau cara mengosongkan. Dia nggak pernah tau gimana rasanya tanah yang dicintai melawan balik."
Nayla menggenggam tangan Ki Lawu. "Kalau gitu kita tunjukin ke dia, Pak. Sampai dia ngerti."