"Aku bisa ke pasar lama," Ki Lawu berkata pelan. "Aku bisa tanem diriku di titik yang jebol. Tubuh ini, sisa umur yang ada—aku tancepin ke tanah di sana. Itu bakal nutup lubangnya secepat dia jebol. Pagar selamat."
Nayla membeku. Ia membaca seluruh kalimat yang tidak Ki Lawu ucapkan dari nada suaranya. "Dan Pak?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar. "Apa yang terjadi sama Pak?"
Ki Lawu tidak menjawab. Itu sudah jawaban.
"Nggak," kata Nayla, dan ia mundur selangkah seolah Ki Lawu baru saja memukulnya. "Nggak. Pak nggak boleh."
"Nduk, dengerin"—
"NGGAK!" Suaranya pecah, menggema di trotoar yang kosong, membuat Pak Karyo menunduk dan beberapa wartawan yang masih tertinggal menoleh bingung. Air mata sudah turun di pipi Nayla, tapi matanya menyala marah, marah yang lahir dari rasa takut. "Pak pikir Pak siapa? Pikir Pak satu-satunya yang bisa nutup lubang itu? Pikir kalau Pak mati di pasar lama, semuanya jadi beres?" Ia menunjuk dada Ki Lawu. "Itu bukan menjaga, Pak. Itu nyerah. Itu Pak cari cara paling gampang buat lari dari beban—mati sekalian, biar nggak usah mikirin gimana caranya bertahan."
Ki Lawu tersentak. "Aku nggak"—
"Iya, Pak! Iya!" Nayla berjalan mendekat, dan kini suaranya bergetar bukan karena marah saja tapi karena sesuatu yang lebih dalam. "Dari awal Pak gitu. Tiap ada masalah, Pak pengen nanggung sendiri. Pak lupa wajah ibu Pak buat nyelametin aku. Pak lupa wajah warga desa Pak buat nahan makhluk itu. Tiap kali Pak ngorbanin sesuatu dari diri Pak sendiri, dan Pak pikir itu kebaikan. Tapi tau nggak, Pak? Itu pelit. Itu Pak nggak ngasih kesempatan ke kita buat bantu. Pak rampas hak kita buat berdiri di sebelah Pak."
Keheningan jatuh di antara mereka, hanya dipotong deru lalu lintas jauh dan dengung dingin dari celah di pusat. Ki Lawu menatap gadis itu, dan ia merasakan kata-katanya menghantam tepat ke sesuatu yang sudah berabad ia bawa tanpa pernah ia namai. Ia adalah dhanyang. Selama ratusan tahun, ia menjaga sendirian. Penjaga adalah yang berdiri di depan, yang memikul, yang berkorban. Itu definisi dirinya. Itu satu-satunya cara ia tahu untuk mencintai.
Dan gadis berusia dua puluh dua tahun ini baru saja memberitahunya bahwa cara itu salah.
"Pasar lama jebol bukan karena tanahnya kurang kuat," Nayla melanjutkan, lebih pelan sekarang, lebih tegas. "Pak sendiri yang bilang. Jebol karena wargnya lari, karena mereka takut, karena nggak ada yang berani duluan. Pak mau nutup lubang itu pakai badan Pak—oke, anggap berhasil. Lubangnya ketutup. Tapi besoknya? Pas Pak udah nggak ada? Pas ada titik lain yang jebol karena warganya takut lagi? Siapa yang nutup? Pak nggak akan ada di sana. Dan kita"—suaranya retak—"kita nggak akan pernah belajar caranya berani sendiri, karena Pak selalu maju duluan dan mati buat kita."
Di belakang Nayla, Pak Karyo mengangguk pelan, dan ketika Ki Lawu menatapnya, lelaki tua itu hanya berkata, "Dia bener, Ki. Maaf. Tapi dia bener."
Ki Lawu menutup matanya. Di seberang, di pusat, makhluk lapar menunggu, dan tiap detik yang ia habiskan untuk ragu adalah detik di mana pagar bisa runtuh lebih jauh. Tapi ia memaksa dirinya untuk berhenti, untuk berpikir, untuk benar-benar mendengar gadis itu alih-alih buru-buru memilih pengorbanan yang familiar.
Dan perlahan, sesuatu bergeser dalam dirinya. Seumur hidupnya yang panjang, ia mengukur cintanya pada apa yang ia korbankan. Tanah, kekuatan, ingatan, akhirnya umurnya sendiri. Ia mengira menjaga berarti menghabiskan diri. Tapi Nayla menunjukkan sesuatu yang lebih sulit dan lebih berani: bahwa kadang menjaga berarti tidak berkorban. Berarti percaya pada yang dijaga untuk menjaga diri mereka sendiri. Berarti berdiri di samping, bukan di depan, dan membiarkan mereka tumbuh cukup kuat untuk tidak membutuhkanmu mati demi mereka.
"Kalau aku nggak ke pasar lama," Ki Lawu berkata akhirnya, membuka mata, "siapa yang nutup lubang itu? Tanah baru nggak akan tumbuh tepat waktu. Roh penjaganya udah hilang. Nggak ada yang bisa berdiri di sana."
Nayla menatapnya, dan di balik air matanya ada sesuatu yang menyala—bukan jawaban, tapi keyakinan bahwa jawaban itu ada. "Ada yang bisa berdiri di sana, Pak," katanya. "Cuma bukan Pak. Dan bukan tanah. Manusia. Warga yang lari dari pasar lama—mereka yang harus balik. Bukan karena dipaksa Pak, bukan karena diselamatkan dhanyang. Tapi karena mereka mutusin sendiri buat berani."
Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik, jemarinya bergerak cepat. "Pak Darto. Mbak Yuni. Mereka pernah ditolong Pak. Mereka tau ini nyata. Kalau mereka mimpin warga pasar lama balik, kalau mereka yang berdiri duluan tanpa Pak"—ia menatap Ki Lawu, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum, senyum yang gemetar tapi penuh—"maka pagar itu ditegakkan sama manusia, Pak. Dan pagar yang ditegakkan manusia nggak bakal jebol pas Pak udah nggak ada. Karena itu bukan pagar Pak. Itu pagar kita."
Ki Lawu menatap gadis itu, lalu menatap ponsel di tangannya, lalu menatap ke arah pasar lama yang gelap. Dan untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, sang dhanyang memilih untuk tidak mati demi mereka. Ia memilih, jauh lebih sulit, untuk hidup dan mempercayai mereka.
"Telepon mereka," katanya pelan. "Telepon semuanya."