Pasak yang jebol bukan yang dijaga roh paling lemah. Itulah yang membuat Ki Lawu nyaris terlambat memahaminya. Yang jebol adalah pos di pasar lama—titik yang dijaga roh penjaga sumur tua yang sebenarnya cukup kuat, tapi ditopang oleh warga yang ketakutan. Dan ketakutan, Ki Lawu belajar malam itu dengan harga mahal, menyebar lebih cepat daripada tanah bisa tumbuh.
Dimulai dari satu orang. Seorang pedagang yang berpos di pasar lama melihat bayangan tinggi tanpa wajah berdiri di antara los-los kosong, dan ia tidak menyapu seperti yang lain. Ia lari. Ia berteriak bahwa ada setan, bahwa tempat itu kutukan, bahwa mereka semua akan mati kalau tinggal. Dan teriakannya menulari yang lain seperti percikan api ke jerami kering. Satu lari, dua lari, lalu seluruh kelompok yang berpos di pasar lama berhamburan, meninggalkan tanah yang mereka jaga, menendang pot-pot yang mereka tanam sendiri dalam panik, menginjak setitik tanah Sumberwangi yang menguatkan pos itu hingga berhamburan ke selokan.
Roh penjaga sumur tua di pasar lama, tiba-tiba ditinggal sendiri tanpa cinta-rawat yang menopangnya, menjadi telanjang di hadapan makhluk lapar. Ki Lawu merasakannya dari pusat seperti merasakan jari sendiri terbakar. Ia berteriak, mencoba mengirim kekuatan ke arah sana, tapi ia terlalu jauh, terlalu lemah, dan benang itu putus sebelum bantuannya tiba.
Di pasar lama, di los yang sepi, bayangan tinggi itu membungkuk ke arah roh penjaga sumur, dan tidak ada jerit—hanya keheningan yang lebih buruk dari jerit. Dingin yang kosong. Dan ketika dingin itu surut, roh penjaga sumur tua tidak ada lagi. Tidak mati, karena roh tidak mati seperti manusia. Lebih buruk: ia ditelan, dijadikan bagian dari kelaparan, ingatannya dan namanya dan ratusan tahun ia menjaga air bagi orang-orang yang tak pernah tahu ia ada—semua dilucuti, dijahit ke dalam tambal sulam makhluk lapar, membuatnya sedikit lebih besar, sedikit lebih kuat.
Ki Lawu jatuh berlutut di trotoar. Pak Karyo menahannya. "Ki! Ki, kenapa?!"
"Pasar lama," Ki Lawu terengah, dan suaranya hancur. "Hilang. Penjaga sumurnya... hilang. Mereka lari, Karyo. Wargnya lari, dan rohnya ketinggalan sendirian." Ia mencengkeram lengan Pak Karyo. "Pagarnya bocor. Di titik itu pagarnya jebol, dan dia"—ia memandang ke arah celah di pusat, yang kini terlihat sedikit lebih lebar, sedikit lebih lapar—"dia minum dari yang dia makan. Tiap penjaga yang dia telan bikin dia kuat."
Nayla berlari menyeberang jalan, menerobos pita pembatas, sampai ke sisi Ki Lawu. "Apa yang kita lakuin? Kita kirim orang ke pasar lama? Tutup lagi titiknya?"
"Nggak bisa secepat itu," Ki Lawu menggeleng, frustrasi dan ngeri bercampur di wajahnya. "Tanah hidup nggak tumbuh dalam semenit. Pos itu butuh berhari-hari kita bangun. Sekali jebol, nggak bisa langsung ditambal pakai tanah baru." Ia memandang Nayla dengan sesuatu yang baru di matanya—bukan ketakutan akan makhluk, tapi pemahaman yang lebih pahit. "Aku salah, Nduk. Aku kira pagar ini soal tanah. Soal pasak. Soal benteng fisik. Tapi bukan."
"Maksud Pak?"
Ki Lawu menatap ke arah pasar lama yang gelap, lalu ke titik-titik lain yang masih menyala, masih bertahan. "Pasak yang jebol bukan yang tanahnya paling tipis. Tapi yang manusianya paling takut. Roh penjaga sumur itu kuat. Yang bikin dia jatuh bukan kelemahan dia—tapi warga yang lari. Pagar ini ditegakkan sama keberanian manusia yang jaga, bukan cuma sama tanahnya." Ia menelan, dan suaranya gemetar. "Dan ketakutan, Nduk... ketakutan menyebar lebih cepat dari tanah tumbuh. Satu orang lari di pasar lama, semua ikut lari dalam sekejap. Tapi buat numbuhin keberanian, butuh waktu, butuh contoh, butuh seseorang yang berani duluan."
Di pusat, celah membuka sedikit lebih lebar. Di sepanjang pagar, Ki Lawu bisa merasakan titik-titik lain mulai goyah—bukan karena diserang langsung, tapi karena kabar pasar lama yang jebol menjalar ke pos-pos lain, dan di tiap pos, seseorang mulai berpikir: kalau pasar lama bisa jebol, kenapa pos kita nggak? Kalau penjaga sumur yang kuat bisa hilang, apa gunanya kita bertahan? Ketakutan itu sendiri adalah senjata makhluk lapar, dan ia menyebarkannya tanpa harus menyentuh siapa pun.
"Dia nggak perlu menyerang semua titik," Ki Lawu berbisik, ngeri akan kecerdasan dingin itu. "Dia cuma perlu satu titik jebol, dan biar ketakutan yang ngerjain sisanya. Dia bikin kita meruntuhkan pagar kita sendiri."
Nayla mencengkeram bahu Ki Lawu, memaksanya menatapnya. "Kalau gitu kita harus ngapain? Pak, jangan diem aja. Apa yang kita lakuin?"
Tapi Ki Lawu tidak menjawab segera. Karena ia tahu apa yang harus dilakukan, dan ia tahu harganya, dan ia tahu Nayla tidak akan suka mendengarnya. Ada satu cara untuk menambal titik jebol secepat ini, satu cara untuk menahan pagar agar tidak runtuh beruntun: ia bisa pergi ke pasar lama sendiri, menanam dirinya di sana sebagai pasak hidup, menutup lubang itu dengan sisa umurnya. Itu akan menyelamatkan pagar. Itu juga, hampir pasti, akan menghabisinya.
Ia menatap gadis di depannya—gadis yang dulu mengira ia om-om gila, yang membuatkannya buku ingatan agar ia tidak lupa siapa dirinya, yang menjaganya di bus saat makhluk menyerang lewat mimpi. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah pengorbanan adalah jawaban yang benar, atau hanya jawaban yang paling mudah bagi seorang penjaga yang sudah terbiasa memikul sendirian.