Di gang kost, Bu Sari berlutut di pekarangan yang sudah ditanami Ki Lawu, telapak tangannya menempel di tanah yang lembap. Ia tidak tahu mantra, tidak tahu doa khusus, tidak tahu apa pun yang dukun-dukun tahu. Yang Ki Lawu ajarkan padanya sederhana sampai memalukan: "Cintai tanah ini seperti Ibu mencintai kostan ini. Itu aja. Tanah ngerti cinta lebih cepat dari ngerti mantra." Maka Bu Sari menutup mata dan memikirkan apa yang ia cintai—anak-anak kost yang ia anggap anak sendiri, dapur tempat ia memasak untuk mereka, dinding-dinding yang ia cat ulang tiap tahun, gang tempat ia membesarkan diri menjadi janda yang tegar. Ia menumpahkan semua itu ke tanah lewat telapaknya.
Dan tanah menjawab.
Di pekarangan itu, sesuatu menyala—bukan cahaya yang bisa difoto, tapi kehangatan, akar yang tiba-tiba terasa lebih dalam, lebih tua, lebih yakin. Setitik tanah Sumberwangi yang Pak Karyo bawa ke sini sebelum acara berdenyut seperti ragi dalam adonan, dan seketika pekarangan kost menjadi sebuah pasak—satu titik dalam pagar raksasa yang melingkari pusat kota. Dari pekarangan itu, seuntai benang tak kasat mata terentang ke arah celah di pusat, menariknya, mengikatnya, menahannya agar tidak membuka lebih lebar.
Hal yang sama terjadi di belasan titik lain serentak. Di kolong jembatan, roh asam tua yang dulu nyaris jadi lapar—yang Ki Lawu beri setitik tanah pot bertahun lalu hingga ia ingat namanya kembali—kini berdiri tegak di taman kecil yang ia jaga, mengikat benangnya sendiri. Di embung masjid, penunggu sumur tua menjaga airnya. Di pekarangan SD, penjaga pohon kenari merentangkan akarnya. Di taman baca, roh yang dijaga warga lewat kebiasaan membersihkan dan merawat ruang itu menyala. Tiap titik menambah satu benang, dan tiap benang menarik celah pusat sedikit lebih rapat, seperti jahitan yang menutup luka dari berbagai sisi sekaligus.
Ki Lawu, dari trotoar seberang, merasakan pagar itu mengaktif. Ia memejamkan mata dan untuk sesaat bisa merasakan seluruh kota seperti tubuhnya sendiri yang lebar—tiap pasak adalah denyut, tiap roh yang berpos adalah saraf, tiap warga yang mencintai tanahnya adalah otot yang menegang menahan. Untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun, ia tidak menjaga sendirian. Ia adalah jantung, dan jantung tidak memompa untuk dirinya sendiri.
"Bagus," bisiknya, dan air matanya turun tanpa ia sadari. "Kalian semua... bagus."
Tapi makhluk lapar tidak menyerah pada jahitan. Di celah pusat, dingin itu bergelombang, dan Ki Lawu merasakannya mengirim dirinya ke luar—bukan satu serangan, tapi banyak, menjalar di sepanjang benang-benang pagar, mencari titik terlemah, mencari pasak yang paling rapuh. Ia tidak menyerang pusat tempat Ki Lawu berdiri; ia menyerang pinggiran, karena pinggiran dijaga oleh yang paling baru, paling takut, paling mudah goyah.
Di kolong jembatan, roh penjaga sungai kecil yang dulu dibeton—yang baru beberapa minggu ini punya rumah dan belum sepenuhnya pulih dari laparnya sendiri—merasakan dingin itu mendatanginya. Bayangan tinggi tanpa wajah berdiri di mulut kolong, dan ia membisikkan hal-hal yang roh itu paling takut: bahwa rumahnya tidak akan bertahan, bahwa ia akan dilupakan lagi, bahwa lebih baik menyerah daripada terus berjuang untuk dicintai oleh kota yang tidak peduli. Roh itu gemetar, benangnya mengendur, dan di trotoar seberang Ki Lawu merasakan satu denyut di tubuh kotanya melemah.
"Pak Karyo!" Ki Lawu berseru. "Kolong jembatan! Dia lagi dibujuk!"
Pak Karyo, yang menjadi penghubung antarpos, langsung menelepon warga yang berpos di kolong—dua pemuda dan satu nenek penjual gorengan yang setiap subuh menyapu kolong itu tanpa dibayar. "Sapu! Bersihin! Tunjukin ke rohnya kalian masih sayang sama tempat itu!" Dan ketiganya, tanpa benar-benar paham apa yang mereka lawan, mulai menyapu, membersihkan, menata—dan tindakan kecil itu, cinta-rawat yang sangat membumi, mengembalikan keyakinan roh penjaga. Benangnya menegang lagi. Denyut kota pulih.
Nayla, dari area undangan yang kini hampir kosong karena tamu-tamu bubar gelisah, menyaksikan Wibawa berdiri tak bergerak di tepi celah. Wajahnya tetap tersenyum, tapi senyum itu mulai kaku, seperti orang yang mendapati permainan yang ia kira sudah dimenangkan ternyata melawan balik. Ia mengangkat tangan, dan dingin itu mengalir lebih deras, menyerang lebih banyak titik sekaligus—mencoba memutus pasak satu per satu sebelum pagar sempat menutup penuh.
Di seluruh kota, malam itu, orang-orang melihat hal-hal yang tidak bisa mereka jelaskan: lampu yang berkedip, anjing yang melolong tanpa sebab, dingin yang datang dan pergi, perasaan diawasi di gang-gang sepi. Esoknya koran akan menyebutnya "fenomena cuaca anomali" dan "histeria massal." Tak seorang pun akan menulis bahwa pada malam itu, di belasan titik tak penting di kota mereka, tukang sampah dan penjual gorengan dan ibu kost dan mahasiswi dan roh-roh yang terlupakan sedang berdiri di garis depan perang yang menentukan apakah kota mereka akan ditelan atau tidak—dan bahwa mereka, orang-orang kecil itu, sedang menang.
Untuk sementara.