Sore esoknya, langit di atas pusat kota berwarna salah. Bukan kelabu hujan, bukan jingga senja—warna yang tidak punya nama, warna seperti memar yang baru muncul di bawah kulit, ungu kehijauan yang membuat orang-orang di jalan menengadah sebentar lalu cepat-cepat menunduk lagi karena melihatnya terlalu lama membuat perut mual. Ki Lawu berdiri di trotoar seberang lokasi groundbreaking, ditopang Pak Karyo di satu sisi, dan ia merasakan tanah di bawah aspal merintih.
Lahan superblok itu luas, dipagari seng biru, dengan panggung putih di tengah tempat para pejabat dan pejabat-pejabatan duduk berderet menghadap karpet merah. Spanduk raksasa membentang: nama proyek dalam huruf emas, gambar gedung pencakar langit yang berkilau, janji kota masa depan yang bersih dan gemerlap. Di antara para tamu undangan duduk Tuan Wibawa, dan untuk pertama kalinya dalam tampilan publik, ia tersenyum pada kamera, melambai pada wartawan, menjadi wajah kesuksesan yang ingin difoto semua orang. Tak seorang pun di panggung itu tahu bahwa yang mereka tepuk-tangani adalah kelaparan tertua yang pernah menyeberang ke kota mereka.
"Dia kelihatan seperti manusia," gumam Pak Karyo, suaranya bergetar. "Persis manusia, Ki. Kalau saya nggak bisa lihat yang halus, saya nggak bakal percaya."
"Itu yang paling bikin dia bahaya," sahut Ki Lawu. "Yang lapar selalu paling lapar waktu dia kelihatan paling kenyang."
Nayla tiba terengah, menerobos kerumunan wartawan dengan kartu tanda magang yang masih ia simpan. Ia berhasil masuk ke area undangan, berdiri di pinggir, cukup dekat untuk melihat panggung tapi cukup jauh untuk tidak ditandai. Dari posisinya ia memberi isyarat pada Ki Lawu di seberang—matanya bertanya, sudah waktunya? Ki Lawu mengangguk samar. Belum. Biarkan Wibawa yang membuka. Mereka tidak datang untuk mencegah pasak ditancapkan; mereka tahu itu mustahil. Mereka datang untuk apa yang terjadi sesudahnya.
Acara berjalan seperti groundbreaking mana pun—pidato pejabat yang membosankan, tepuk tangan basa-basi, anak-anak sekolah membawa pita. Lalu tibalah saatnya. Tujuh sekop perak dibawa, ditancapkan berderet di tanah yang sudah ditaburi pasir hias. Para tamu kehormatan diminta berdiri, memegang gagang sekop, berfoto bersama. Dan Tuan Wibawa, di tengah, mengambil sekopnya sendiri.
Untuk mata orang biasa, ia hanya menggali sesekop tanah seremonial, mengangkatnya, menebar senyum. Untuk Ki Lawu, dan untuk Nayla yang kini bisa melihat lebih dari sebelum lukanya sembuh, yang terjadi adalah sesuatu yang lain. Sekop itu bukan sekop. Saat mata logamnya menghunjam tanah, ia menjadi pasak—panjang, hitam, berakar terbalik—dan ia tidak berhenti di permukaan. Ia turun, terus turun, menembus lapisan-lapisan kota, mencari jahitan tipis di antara dunia, dan ketika ujungnya menyentuh tabir, seluruh tanah pusat kota menjerit.
Suara itu tidak terdengar telinga. Tapi setiap anjing dalam radius berkilo-kilo melolong serentak. Burung-burung di kabel listrik berhamburan tanpa arah. Bayi-bayi menangis di gendongan ibu mereka di pasar, di angkot, di rumah-rumah, semua pada detik yang sama. Suhu turun mendadak; orang-orang yang tadi berkipas-kipas tiba-tiba menggigil, mengira hujan akan turun, padahal langit memar itu tidak berair. Seekor kucing yang menyusup ke area undangan mengejang, bulunya berdiri, lalu lari secepat ia bisa.
Di tengah lahan, di titik tempat pasak turun, tanah mulai membuka. Bukan retakan gempa—lebih halus, lebih jahat: seperti bibir yang merekah pelan, seperti luka yang membuka diri dari dalam. Dan dari celah itu naik dingin yang tidak punya dasar, dingin yang membuat Nayla teringat pada genangan di gang gelap tempat ia dulu nyaris diseret, dingin yang berbau seperti tanah yang tak pernah dicintai. Para tamu undangan tidak melihat celah itu; mereka hanya merasa ada yang salah, gelisah, ingin pulang. Beberapa mulai berdiri tanpa alasan. Acara mulai bubar sendiri tanpa ada yang menyuruh.
Dan Tuan Wibawa berdiri di tepi celah itu, masih memegang sekop, masih tersenyum, dan untuk sesaat—satu detik yang dilihat Nayla dan tak akan pernah ia lupakan—wajahnya tidak penuh. Bukan rusak, bukan terluka, tapi tidak penuh, seperti foto yang sebagian tintanya dilucuti, seperti ruangan yang sebagian dindingnya menghilang dan di baliknya hanya ada gelap yang bukan malam.
"Mulai," bisik Ki Lawu, dan kata itu seperti melepas anak panah.
Nayla mengangkat ponselnya dan menekan tombol—bukan untuk memotret, tapi untuk mengirim satu pesan ke grup yang sudah mereka siapkan, satu kata: SEKARANG. Pesan itu sampai ke Bu Sari di gang, ke roh-roh lewat Pak Karyo yang mengangkat tangannya ke udara dan memejamkan mata, ke tiap pos kecil di seluruh kota tempat setitik tanah Sumberwangi sudah ditanam dan menunggu. Di gang, di kolong jembatan, di taman baca, di pekarangan SD, di embung masjid, orang-orang biasa dan roh-roh tersesat menundukkan kepala ke tanah masing-masing dan mulai memanggil.
Ki Lawu melepas tangan Pak Karyo dan berdiri sendiri di trotoar seberang, menghadap celah yang membuka di jantung kota, menghadap makhluk berwujud manusia yang menancapkan pasak untuk menelan segalanya. Ia lemah, ia sekarat, separuh ingatannya hilang. Tapi ia berdiri tegak, dan untuk pertama kalinya sejak ia terlempar ke kota ini, ia tidak merasa nyasar.
"Halo, sedulur tua," gumamnya pada celah, pada dingin, pada kelaparan di seberang. "Aku sudah lama menunggu kita ketemu di tempat terang."