Esoknya, sehari sebelum groundbreaking, Ki Lawu menghadapi kenyataan yang membuatnya nyaris putus asa: ia tak bisa berada di dua tempat sekaligus, dan dua tenggat itu menjepitnya dari dua sisi yang tak mungkin keduanya ia tangani sendirian.
Di satu sisi: penggusuran fisik gang, dijadwalkan besok pagi, ekskavator sudah siaga. Kalau gang dibongkar, robekan baru terbuka di titik terakhir lingkaran, dan mulut tabir lengkap. Front ini dimenangkan di pengadilan—dengan dokumen, dengan hukum, dengan gugatan warga. Bukan dengan kuasa dhanyang.
Di sisi lain: groundbreaking superblok, besok sore, di pusat kota, tempat Tuan Wibawa akan menancapkan pasak pembuka mulut tabir. Front ini dimenangkan dengan pagar gaib—dengan tanah hidup, dengan roh-roh yang berpos, dengan stek Sumberwangi. Bukan dengan dokumen.
Dua front. Satu di pengadilan, satu di tabir. Dan satu dhanyang sekarat yang tak bisa membelah diri.
"Aku nggak bisa," Ki Lawu mengakui, duduk di pekarangan di antara pot-pot, suaranya lelah. "Bapak terlalu lemah buat dua-duanya. Kalau Bapak di pusat ngurus tabir, gang ini dibongkar. Kalau Bapak di sini nahan ekskavator, mulut tabir kebuka di pusat. Bapak cuma satu, dan kurang dari satu sekarang."
Nayla, yang sedang membentangkan peta di lantai pekarangan, mengangkat wajah. "Pak," katanya, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Ki Lawu menoleh. "Siapa bilang Pak harus sendirian?"
Ia menunjuk peta. "Liat ini. Front hukum—itu bukan kerjaan dhanyang. Itu kerjaan kita. Aku punya dokumen Pak Hendra. Pak Hendra—" ia tersenyum "—aku denger kabar tadi pagi, dia mulai siuman. Kalau dia bisa bersaksi, kasusnya kuat banget. Front hukum dipegang aku, Bu Sari, sama warga. Kita yang maju ke pengadilan. Kita yang nahan ekskavator pakai surat penundaan, bukan pakai kuasa."
Ia menggeser jarinya ke titik-titik hijau di peta. "Front tabir—pos-pos tanah hidup. Itu bukan kerjaan satu dhanyang juga. Itu kerjaan roh-roh. Mbah Asem di taman baca, penunggu sumur di embung masjid, penjaga kenari di SD—mereka udah berpos. Mereka yang ngiket tabir dari pinggir, dari titik masing-masing. Pak Karyo yang ngabarin antar pos."
Ia menatap Ki Lawu, dan matanya menyala. "Dan Pak—Pak di pusat. Bukan buat ngerjain semuanya sendirian. Tapi buat jadi jantungnya. Buat ngumpulin semua pasak yang udah kita tanem, buat nahan mulut tabir di titik paling rawan, buat berdiri di depan Tuan Wibawa. Pak nggak perlu kuat buat dua tempat. Pak cuma perlu kuat buat satu—pusatnya. Sisanya kita yang pegang."
Ki Lawu menatap gadis itu, menatap peta dengan paku merah dan paku hijau, dan sesuatu yang sudah berbulan-bulan ia gendong—beban menjadi satu-satunya penjaga, satu-satunya yang tahu, satu-satunya yang bertanggung jawab—mulai terangkat dari pundaknya. Bukan karena bebannya berkurang. Tapi karena ia akhirnya melihat: ia tak pernah harus memikulnya sendirian.
"Pembagian tugas," gumamnya, dan ia tertawa kecil, tawa yang serak dan tak percaya. "Kamu bagi-bagi tugas kayak ngerjain proyek bangunan."
"Aku arsitek, Pak," kata Nayla, nyengir. "Aku ngerti struktur. Dan struktur yang bagus itu yang bebannya dibagi rata, bukan ditumpuk di satu tiang. Tiang yang nanggung sendirian—patah. Tiang yang berbagi beban—berdiri."
Mereka bekerja sepanjang sisa hari itu, menyusun rencana seperti menyusun denah bangunan. Bu Sari menggerakkan warga, menyiapkan mereka untuk berdiri di depan ekskavator besok pagi dengan surat dan tubuh mereka, sambil Nayla menyiapkan berkas untuk pengacara dan kabar dari rumah sakit soal kesaksian Pak Hendra. Pak Karyo berkeliling ke tiap pos roh, memastikan tiap penjaga tahu perannya, membawa setitik tanah Sumberwangi ke tiap pos sebagai penguat—ragi dari tanah keramat yang membuat tiap pasak lebih dalam, lebih tua, lebih kuat dari makhluk lapar.
Dan Ki Lawu menyiapkan dirinya untuk pusat.
Malam itu, ketika semua sudah tidur dan kost sunyi, Ki Lawu keluar ke pekarangan sendirian. Ia membuka wadah tanah liat berisi Sumberwangi, dan ia menanam sebagian kecilnya di pekarangan kost—di tanah kota yang sudah mulai mengakuinya—mencampur yang lama dengan yang baru, akar Sumberwangi dengan akar Jakarta. Ia merasakan kedua tanah itu saling mengenal, saling belajar, dan untuk sesaat ia merasakan sesuatu yang utuh: bukan Sumberwangi, bukan kota, tapi sesuatu yang baru yang tumbuh dari keduanya.
Ia berdiri di pekarangan, di bawah langit kota yang tak berbintang, dan ia menatap ke arah pusat—ke tempat jauh di mana, besok sore, sesuatu yang sangat tua akan menancapkan sekop ke tanah dan mencoba menelan segalanya. Ia tak takut seperti dulu ia takut. Ia masih lemah, masih sekarat, masih dhanyang nyasar yang kehilangan setengah dirinya. Tapi ia tak lagi sendirian. Di belakangnya, di kamar-kamar kost, tidur orang-orang yang akan berdiri bersamanya. Di seluruh kota, di pos-pos kecil, roh-roh yang dulu tersesat kini berjaga di rumah mereka. Dan di tangannya, tanah dari rumah lama yang melepasnya dengan restu, siap diteruskan ke rumah baru.
"Besok," bisiknya pada gelap, pada tanah, pada kota yang tak percaya penjaga tapi diam-diam mulai membutuhkannya. "Besok kita liat siapa yang lebih lapar—kamu yang mau nelan, atau kami yang mau numbuhin."
Dan tanah di bawah telapaknya, tanah Jakarta yang bercampur Sumberwangi, berdenyut sekali—pelan, tipis, tapi pasti—seperti jantung yang baru belajar berdetak, seperti kota yang, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mulai ingat cara mencintai tanah yang menopangnya.