Gang itu sudah berubah dalam beberapa hari mereka pergi. Spanduk-spanduk besar berwarna oranye terpasang di sepanjang tembok, hurufnya tebal dan dingin: KAWASAN INI AKAN DIBONGKAR UNTUK PEMBANGUNAN. WARGA DIMOHON SEGERA MENGOSONGKAN. Dan di mulut gang, di lahan kosong yang dulu jadi tempat parkir motor warga, sebuah ekskavator kuning berjongkok seperti binatang buas yang tidur—diam, tapi kehadirannya saja sudah ancaman.
Warga berkerumun di sekitar pos ronda, gelisah, marah, takut. Bu Sari, begitu turun dari angkot, langsung masuk ke tengah kerumunan, dan dalam hitungan menit ia sudah mengomando—ibu kost yang dulu mau memanggil satpam untuk Ki Lawu sekarang berdiri tegak di tengah warga, mengingatkan mereka soal gugatan yang sedang berjalan, soal dokumen Pak Hendra, soal kemenangan kecil di sidang yang sudah mereka raih.
"Mereka mau nakut-nakutin kita biar buru-buru pergi sebelum sidang putus!" seru Bu Sari. "Jangan kena! Selama sidang belum putus, mereka nggak boleh bongkar! Alat berat itu cuma gertakan!"
Nayla berdiri di samping Ki Lawu, membaca spanduk, dan otak arsiteknya menangkap sesuatu yang luput dari warga lain. "Pak," katanya pelan, "tanggal pembongkaran ini... sama dengan tanggal groundbreaking superblok. Mereka mau bongkar gang ini di hari yang sama mereka mulai bangun pusatnya." Ia menatap Ki Lawu. "Itu bukan kebetulan, kan."
"Bukan," kata Ki Lawu. "Tiap gusuran ngerobek tabir setitik. Mereka bongkar gang ini bukan cuma buat tanahnya. Buat robekannya. Mereka butuh satu robekan lagi di lingkaran, di titik ini, biar mulut tabirnya lengkap pas groundbreaking dimulai." Ia menatap ekskavator kuning yang berjongkok di mulut gang. "Gang kita bukan korban sampingan. Kita salah satu paku terakhir di lingkaran mulutnya."
Malam itu, mereka berkumpul di kamar kost—Ki Lawu, Nayla, Bu Sari, Pak Karyo—untuk menyusun apa yang mereka tahu. Nayla membentangkan peta tabir yang sudah berbulan-bulan ia kerjakan, peta dengan paku merah dan paku hijau, dan sekarang ia menambahkan titik baru: gang mereka, ditandai merah, di tepi lingkaran yang mengelilingi superblok.
"Groundbreaking-nya kapan?" tanya Ki Lawu.
"Lusa," kata Pak Karyo. "Sore. Di pusat proyek, di mana mereka mau bikin menara utama. Acaranya gede, Ki. Ada pejabat, ada wartawan, ada karpet merah. Dan Tuan Wibawa-nya bakal dateng. Pertama kali dia muncul di depan umum, katanya."
Ki Lawu menutup matanya, dan ia merasakannya—jauh di pusat kota, denyut dingin yang menebal, makhluk lapar yang bersiap menjelma penuh untuk pertama kalinya. "Itu bukan acara," katanya. "Itu upacara makan. Groundbreaking—nancepin pasak pertama ke pusat lingkaran—itu yang bakal buka mulut tabirnya lebar-lebar. Pas dia nancepin sekop emas ke tanah itu, mulut tabir kebuka, dan dia mulai nelan semua tanah hidup di kota. Semua, sekaligus. Gang kita, kolong jembatan, taman-taman, semua pos roh—ditelen."
Keheningan menggantung di kamar kecil itu, berat dan dingin.
"Terus kita lawan gimana?" tanya Bu Sari akhirnya, suaranya keras kepala walau wajahnya pucat. "Aku nggak ngerti soal tabir-tabiran ini, Ki, jujur. Tapi aku ngerti soal nggak mau diusir dari rumahku. Jadi bilang aja, kita harus ngapain."
Ki Lawu membuka matanya, dan ia menatap ketiga orang itu—seorang ibu kost janda, seorang tukang sampah yang bisa melihat yang halus, seorang mahasiswi arsitektur yang lukanya sudah sembuh—dan ia merasakan, dengan kepastian yang menenangkan, bahwa ia tak akan menghadapi ini sendirian.
Ia hendak menjawab, tapi sebelum sempat, ponsel Nayla berdering. Sebuah pesan. Ia membacanya, dan wajahnya berubah.
"Dari firma," katanya. "Undangan. Semua magang dan staf diundang ke groundbreaking lusa. Hadir wajib." Ia mengangkat wajah, dan ada api dingin di matanya. "Mereka mau aku ada di sana, Pak. Di pusatnya. Di depan Tuan Wibawa."
Ki Lawu menatapnya lama. "Itu bisa jadi jebakan. Atau bisa jadi kesempatan."
"Dua-duanya," kata Nayla, dan ia tersenyum tipis, senyum yang dingin dan berani, senyum gadis yang sudah berdiri di pinggir jalan tol dan mengubur lukanya di sana. "Aku bisa masuk ke pusat acara secara resmi. Aku bisa deket sama dia. Dan kalau Pak butuh seseorang di dalam pas semuanya pecah—aku udah di dalam."
Malam itu, di kamar kost yang sempit, di bawah lampu neon yang berkedip, mereka mulai menyusun rencana untuk dua hari ke depan—dua tenggat yang menjepit mereka dari dua sisi. Penggusuran fisik gang, dan groundbreaking yang akan membuka mulut tabir. Dan di luar, di mulut gang, ekskavator kuning berjongkok dalam gelap, menunggu pagi, sementara jauh di pusat kota, sesuatu yang sangat tua dan sangat lapar memakai jas dan berlatih senyumnya untuk pertama kalinya di depan cermin—bersiap berdiri di panggung, di hadapan kamera dan pejabat, sebagai seorang manusia bernama Tuan Wibawa, untuk menelan sebuah kota.