Ki Lawu tidak bisa berhenti menjaga. Itu, Nayla pelan-pelan paham, bukan pilihannya—itu adalah hakikatnya, seperti air tak bisa berhenti mengalir ke bawah.
Kost Bu Sari mulai berubah dalam cara-cara kecil yang nyaris tak kasat mata. Pak Darto, penghuni kamar pojok yang berdagang bubur kacang ijo keliling dan selalu pulang dengan panci setengah penuh karena dagangannya tak laku, tiba-tiba mulai pulang dengan panci kosong dan wajah berseri. Ia tidak tahu kenapa. "Rezeki lagi bagus, Mbak Nayla," katanya sambil menghitung uang receh. "Pelanggan kayak ngantre tiba-tiba." Nayla tahu kenapa. Ia melihat Ki Lawu, tiap subuh sebelum Pak Darto berangkat, diam-diam menepuk pundak gerobaknya sambil berbisik sesuatu, lalu duduk agak lama dengan wajah lelah.
Mbak Yuni, mahasiswi kamar atas yang kehilangan dompet berisi uang kiriman terakhir bulan itu dan menangis semalaman, menemukannya keesokan harinya tergeletak rapi di balik pot di teras—padahal ia sudah mencari di situ tiga kali. Ki Lawu tidak mengaku. Tapi pagi itu ia tidak bisa bangun sampai siang, dan ketika Nayla mengintip, wajahnya kelabu seperti abu.
"Bapak harus berhenti," kata Nayla suatu malam, suaranya keras karena cemas yang ia samarkan jadi marah. "Saya udah hitung. Pak Darto, Mbak Yuni, terus tukang sayur yang kemarin, terus kucing kampung yang Bapak sembuhin—Bapak ngasih untung ke semua orang kayak Bapak punya simpanan nggak habis-habis. Padahal Bapak bilang sendiri tiap berkah ngikis umur Bapak!"
Ki Lawu duduk di tepi kasur tipis, tangannya gemetar halus, gemetar yang tak ada minggu lalu. "Aku tahu," katanya.
"Terus kenapa?"
Ia lama tak menjawab. Lalu, "Karena selama ratusan tahun, Nak, itulah satu-satunya yang membuatku ada. Dhanyang yang tidak menjaga bukan dhanyang. Ia hanya angin. Aku sudah kehilangan tanahku, pohonku, namaku di mata dunia. Kalau aku berhenti menjaga juga, lalu apa bedanya aku dengan sudah memudar?" Ia menatap tangannya yang gemetar. "Aku tahu ini bodoh. Aku tahu aku menukar hidupku dengan dompet yang ketemu dan bubur yang laku. Tapi melihat Pak Darto pulang dengan panci kosong dan tertawa—itu mengingatkanku pada warga Sumberwangi yang panennya kulebihkan. Sejenak, aku jadi diriku lagi. Sejenak, aku tidak tersesat."
Nayla diam lama. Lalu ia duduk di lantai, di depannya, dan menarik napas. "Oke. Saya ngerti. Tapi kita bikin aturan." Ia menarik buku sketsanya, membalik ke halaman kosong, dan mulai menggambar—kebiasaan arsitekturnya muncul tiap kali ia perlu berpikir jernih. "Bapak punya, sebut aja, 'jatah'. Sehari Bapak cuma boleh ngeluarin berkah sekecil ini." Ia menggambar kotak kecil. "Bukan lebih. Yang gede-gede, yang bikin Bapak tumbang, dilarang total kecuali darurat. Karena kita lagi nyari cara biar Bapak nggak perlu ngikis umur sama sekali. Kalau Bapak boros sekarang, kita kalah sebelum mulai."
Ki Lawu menatap gadis itu—skeptis yang kini menghitung sisa umurnya seperti menghitung anggaran proyek, marah karena peduli—dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak sepenuhnya sendirian di kota asing ini. "Kau," katanya pelan, "berbicara seperti orang yang sudah pernah kehilangan sesuatu karena tidak ada yang menghitungnya tepat waktu."
Nayla berhenti menggambar. Wajahnya mengeras sesaat. "Keluarga saya dulu punya rumah," katanya akhirnya, pelan, tidak menatapnya. "Di pinggir kota. Tanahnya kena proyek tol. Ganti ruginya kecil, surat-suratnya 'bermasalah' katanya, padahal kami udah tinggal di situ tiga generasi. Bapak saya ngurus sampai jatuh sakit, dan tetep kalah. Kami pindah ke kontrakan petak. Saya masuk arsitektur supaya... entahlah. Supaya suatu hari saya ngerti gimana caranya orang kecil nggak digusur seenaknya. Atau paling nggak biar saya nggak bego lagi pas baca surat tanah." Ia tertawa pahit. "Jadi iya, Pak. Saya ngerti soal kehilangan tanah lebih dari yang Bapak kira."
Ki Lawu menatapnya dengan mata yang mendadak basah—bukan untuk dirinya, untuk gadis ini. "Maka kita berdua sama-sama tergusur," katanya. "Hanya saja kau tidak menyerah, dan aku hampir."
Malam itu mereka sepakat pada aturan kotak kecil. Dan malam itu juga, Nayla, yang sebelumnya cuma kasihan, mulai benar-benar bersekutu dengan dhanyang nyasar itu—bukan karena ia akhirnya percaya seratus persen, tapi karena untuk pertama kalinya sejak rumahnya digusur, ada orang yang mengerti kenapa kehilangan tanah bisa menghancurkan seseorang sampai ke akar. Dan diam-diam, di luar pengetahuan keduanya, di pojok-pojok kota yang terlupakan, sesuatu yang dingin mencatat bahwa gadis itu—gadis yang dadanya penuh marah pada tanah yang direnggut—berbau berbeda dari kerumunan. Berbau seperti sesuatu yang bisa dipakai.