Bus malam membawa mereka kembali ke kota, dan kali ini Ki Lawu memeluk tasnya sepanjang jalan, karena di dalamnya, terbungkus kain dan disimpan dalam wadah tanah liat, ada segenggam Sumberwangi yang masih hidup—tanah yang mengenalnya seutuhnya, ragi untuk pagar terakhir, kunci untuk dua robekan. Ia tak melepaskannya bahkan saat tidur.
Dan justru saat tidur, makhluk itu menyerang.
Ia tak menyerang lewat tabir—pagar kota dan kewaspadaan Ki Lawu terlalu kuat untuk itu di jalan terbuka. Ia menyerang lewat mimpi. Karena makhluk lapar, yang sudah belajar bahwa ia tak bisa menembus tanah yang dirawat, kini belajar trik baru: ia menyusup ke celah paling rapuh manusia yang lelah—batas antara tidur dan jaga, tempat tabir paling tipis di dalam kepala sendiri.
Ki Lawu bermimpi ia kembali ke Sumberwangi. Tapi Sumberwangi yang utuh, yang hijau, yang airnya wangi—Sumberwangi sebelum ditebang. Beringin berdiri megah di tengah desa. Warga berkumpul di bawahnya, semua wajah yang ia cintai, hidup dan utuh dan memanggil namanya. Dan di tengah mimpi yang manis itu, sebuah suara yang lembut dan masuk akal berbisik: tinggallah. Kau di rumah sekarang. Letakkan tanah itu di sini, di akar beringin, dan semua akan utuh kembali. Buat apa kau bawa Sumberwangi ke kota yang dingin? Sumberwangi ada di sini. Tinggallah, dan serahkan tanahnya, dan kau akan punya rumahmu kembali.
Dalam mimpi, tangan Ki Lawu mulai bergerak ke tas. Mulai membuka kain. Mulai mengeluarkan wadah tanah liat, untuk meletakkannya di akar beringin mimpi, untuk menyerahkannya—
"Pak."
Suara itu memotong mimpi seperti pisau memotong tali. Ki Lawu tersentak bangun di kursi bus, keringat dingin di dahinya, dan ia menemukan tangannya benar-benar di dalam tas, jari-jarinya benar-benar membuka kain pembungkus wadah tanah. Dan di sampingnya, terjaga, mata berkilat di kegelapan, duduk Nayla—tangannya menggenggam pergelangan Ki Lawu, menghentikannya.
"Itu bukan mimpi," kata Nayla pelan. "Itu dia."
Ki Lawu menarik napas yang gemetar dan menarik tangannya keluar dari tas, dan ia merasakan dingin makhluk itu surut dari pikirannya, kesal, gagal. "Kamu tahu," bisiknya, takjub. "Kamu tahu Bapak lagi diserang."
"Aku ngerasain dia, Pak," kata Nayla. "Dari tadi. Dinginnya. Aku nggak bisa ngeliat mimpinya, tapi aku ngerasa dia ada di sekitar Pak, ngebujuk-bujuk. Jadi aku jaga aja." Ia melepaskan pergelangan Ki Lawu dan duduk kembali, tapi matanya tetap waspada. "Dia mau Pak naruh tanahnya di Sumberwangi, kan? Biar Pak nggak bawa ke kota. Biar pagar kita nggak punya stek."
Ki Lawu menatapnya, dan sesuatu yang luar biasa menyadarkannya—luar biasa karena begitu sederhana, begitu manis, begitu jauh dari tempat mereka memulai. Dulu, di hari-hari awal hidupnya di kota, ia adalah pelindung. Ia yang menjaga Nayla. Ia yang berdiri di antara gadis itu dan dingin, yang menutup lukanya dengan dirinya sendiri, yang mengorbankan ingatan demi menyelamatkannya. Nayla adalah yang dilindungi.
Dan sekarang, di bus malam yang gelap, peran itu terbalik sempurna. Nayla—yang lukanya sembuh, yang tak lagi punya pintu untuk dimasuki makhluk itu, yang justru karena kebal kini bisa merasakan kehadiran dingin itu tanpa terancam olehnya—Nayla yang menjaga. Manusia yang menjaga penjaga. Murid yang melindungi guru.
"Nduk," kata Ki Lawu pelan, dan suaranya penuh. "Kapan kamu jadi sekuat ini?"
Nayla tersenyum kecil di kegelapan, lelah tapi tegar. "Waktu aku berhenti takut sama lukaku sendiri, Pak. Kata orang bijak yang aku kenal—luka yang udah sembuh itu jadi tameng, bukan pintu." Ia mengangkat bahu. "Sekarang giliran aku yang jagain. Pak tidur aja. Aku melek."
Dan Ki Lawu, untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, melakukan hal yang tak pernah ia izinkan dirinya lakukan: ia mempercayakan dirinya pada yang ia jaga. Ia memeluk tasnya, memejamkan mata, dan tidur—benar-benar tidur, lelap dan tanpa mimpi—dengan seorang gadis dua puluh dua tahun berjaga di sampingnya, menangkis bisikan-bisikan dingin yang sepanjang sisa malam mencoba menyusup dan gagal, selalu gagal, karena di kursi sebelahnya ada seseorang yang tak bisa lagi disentuh.
Mereka tiba di terminal Jakarta saat subuh, ketika kota mulai menggeliat bangun, dan Bu Sari—yang tidur nyenyak sepanjang perjalanan, sama sekali tak tahu pertempuran sunyi yang terjadi di kursi belakangnya—meregangkan punggung dan berkata, "Aduh, pegelnya. Ayo, pulang. Aku pengen masak yang anget."
Ki Lawu turun dari bus dengan wadah tanah Sumberwangi utuh dalam tasnya, tak tersentuh, hidup. Ia menghirup udara kota—bau asap, bau got, bau ribuan manusia yang baru bangun—dan untuk pertama kalinya bau itu tak terasa seperti pengasingan. Terasa seperti pulang.
Mereka naik angkot ke gang, dan ketika belok ke gang yang familiar, ketika pekarangan kost dan pot-pot dan pagar tanah hidup terlihat di ujung jalan, Ki Lawu merasakan tanah kota menyambutnya—lemah, tipis, tapi mengenalnya, senang ia kembali. Pak Karyo berdiri di mulut gang dengan sapunya, dan begitu melihat mereka, wajahnya berubah—bukan lega, tapi tegang.
"Ki," katanya, terburu-buru, tanpa basa-basi. "Untung Ki cepet balik. Selama Ki pergi, mereka gerak. Cakra Bumi. Alat-alat beratnya udah dateng. Spanduk gusuran udah dipasang lagi, tanggalnya dimajuin. Dan—" ia menelan ludah "—besok ada pengumuman gede. Si bos itu, yang nggak pernah keliatan. Tuan Wibawa. Dia mau muncul. Di acara mulai-mulai bangun superblok. Besok lusa."
Ki Lawu berdiri diam di mulut gang, tas berisi tanah Sumberwangi di tangannya, dan ia merasakan hitungan mundur dimulai. Ia baru saja pulang membawa ragi untuk pagar terakhir. Dan musuhnya baru saja memutuskan untuk membuka mulutnya.