Mereka berencana pulang pagi-pagi. Bu Sari sudah mengemasi bekal, Nayla sudah memeriksa jadwal bus terakhir yang masih masuk ke kaki gunung, dan Ki Lawu, dengan wadah tanah Sumberwangi terbungkus kain di dalam tasnya, sudah berpamitan pada Mbah Ginah dan Mbah Kromo dengan janji yang tak ia ucapkan tapi mereka berdua tampak mengerti.
Tapi sebelum mereka berangkat, Ki Lawu memutuskan kembali sekali lagi ke tunggul beringin. Untuk berpamitan, katanya. Untuk berterima kasih sekali lagi pada tanah yang melepasnya. Nayla ikut, karena ia tak suka membiarkan lelaki tua itu sendirian di tempat-tempat yang tipis tabirnya.
Mereka tahu ada yang salah begitu mereka memanjat pagar seng.
Udara di dalam alun-alun proyek mangkrak terlalu dingin untuk pagi gunung yang seharusnya menghangat oleh matahari. Embun di rumput tak mencair. Dan tunggul beringin—yang kemarin terasa seperti makam yang tenang—sekarang memancarkan sesuatu, denyut dingin yang Ki Lawu kenali dengan ngeri yang menusuk: bau makhluk lapar.
"Pak," bisik Nayla, mencengkeram lengannya. "Itu... dia di sini? Kok bisa? Bukannya dia di Jakarta?"
Ki Lawu melangkah maju pelan, hidung tuanya bekerja, membaca. Dan apa yang ia baca membuat darahnya membeku. "Bukan dia yang di sini," katanya. "Tapi tabirnya. Robekan yang pertama—yang dia pakai buat nyebrang ke kota, yang ngelempar Bapak—nggak pernah ditutup." Ia menatap tunggul, dan sekarang ia bisa melihatnya: di pangkal tunggul, di tempat akar bertemu tanah, ada sobekan di udara, garis hitam yang menganga seperti luka yang tak pernah dijahit, dan dari sobekan itu merembes hawa dingin yang sama dengan yang menelan Renata. "Robekan ini masih nganga. Dan dia... dia minum dari sini."
"Minum?"
"Tanah Sumberwangi masih keramat, Nduk. Masih ada sisa cinta-rawat ratusan tahun di sini, walaupun desanya udah setengah mati. Itu makanan paling enak buat dia. Selama ini, sementara kita sibuk ngelawan dia di kota, dia diem-diem nyedot dari sini juga—lewat robekan asli ini—nguatin dirinya dari pintu belakang." Ki Lawu mengepalkan tangan. "Pantesan dia masih sekuat itu walaupun pagar kota udah nahan dia. Dia punya dua sumber. Yang di kota, sama yang di sini."
Nayla memucat saat memahami implikasinya, dan otak arsiteknya, yang selalu berpikir tentang struktur, langsung menangkap masalahnya. "Berarti... nutup mulut tabir di kota aja nggak cukup."
"Nggak cukup," Ki Lawu mengangguk berat. "Kita bisa nutup robekan pusat di superblok, ngepung dia di kota, bikin pagar sekuat apa pun—tapi selama robekan asli ini masih nganga, dia punya jalan kabur dan sumber makan. Dia bakal mundur ke sini, ngumpet di tanah keramat, nguatin diri, terus balik lagi. Kita nggak akan pernah selesai. Lukanya ada dua ujung. Dan kita cuma ngurus satu."
Mereka berdiri di depan robekan itu, dan untuk pertama kalinya skala dari apa yang harus mereka lakukan terbentang penuh di hadapan mereka. Bukan satu pertempuran di kota. Dua. Dua front, ratusan kilometer terpisah, satu di jantung Jakarta dan satu di kaki gunung yang sekarat. Dan keduanya harus ditutup—kalau bisa, hampir bersamaan—atau makhluk itu cuma akan berpindah dari satu luka ke luka yang lain selamanya.
Ki Lawu mencoba mendekati robekan, untuk merasakannya lebih dalam, tapi begitu ia mendekat, hawa dingin menyambar ke arahnya seperti tangan, dan ia mundur terhuyung. Robekan itu mengenalnya juga—mengenalnya sebagai mangsa yang dulu lolos, sebagai penjaga yang merepotkan—dan ia merasakan kebencian merembes dari celah hitam itu, kebencian yang lapar dan sabar dan tua.
"Kita nggak bisa nutup ini sekarang," kata Ki Lawu, napasnya tersengal. "Belum. Bapak terlalu lemah, tanah desa terlalu mati, dan robekannya terlalu kuat. Kalau kita maksa, kita cuma bakal makanin diri sendiri ke dia." Ia menatap Nayla. "Tapi sekarang kita tahu. Kita tahu dia punya pintu belakang. Itu yang penting."
"Terus gimana?" tanya Nayla. "Kita pulang aja, biarin robekan ini, terus ngurus kota dulu? Tapi kalau kita kalahin dia di kota, dia cuma bakal kabur ke sini—"
"—dan kita harus ngejar dia ke sini buat nyelesain," Ki Lawu menyelesaikan kalimatnya. "Iya. Itu yang bakal kejadian. Tapi nggak sekarang. Sekarang kita kumpulin kekuatan dulu. Tanah Sumberwangi yang Bapak ambil ini—" ia menepuk tasnya "—bukan cuma buat pagar kota. Dia juga kunci buat nutup robekan ini nanti. Stek dari tanah keramat, ditanem ulang di tanah keramat. Yang ditebang, ditanem lagi."
Nayla menatapnya, dan walau ia takut, walau skala masalahnya baru saja berlipat ganda, ia melihat sesuatu di mata lelaki tua itu yang membuatnya sedikit lebih berani: rencana. Ki Lawu tak lagi sekadar bertahan, tak lagi sekadar bereaksi. Ia melihat seluruh papan permainan sekarang—dua robekan, dua front, satu makhluk—dan ia mulai menyusun cara menutup keduanya.
Mereka mundur dari alun-alun, memanjat pagar seng kembali, meninggalkan robekan yang menganga dan denyut dingin yang lapar. Tapi sebelum pergi, Ki Lawu berhenti di tunggul sekali lagi, dan ia berbisik—bukan pada makhluk, tapi pada tanah, pada akar beringin yang masih hidup di bawah, pada sisa cinta-rawat ratusan tahun yang masih bertahan melawan kekosongan.
"Tahan dulu, ya," bisiknya. "Bapak bakal balik. Bapak janji. Bapak nggak bakal ninggalin kamu dimakan dia. Bapak cuma perlu ngumpulin pasukan dulu." Ia menempelkan telapaknya ke tunggul sebentar. "Tunggu Bapak."
Dan tanah, lemah dan terancam tapi belum kalah, berdenyut sekali sebagai jawaban—seperti orang sakit yang menggenggam tangan, seperti janji yang dibalas janji.
Mereka turun gunung pagi itu dengan beban yang dua kali lebih berat dari saat mereka naik, tapi juga dengan kejelasan yang dua kali lebih tajam. Perang ini punya dua ujung. Dan mereka akan menutup keduanya—kota dulu, lalu kembali ke sini, ke akar luka yang pertama, untuk menyelesaikan apa yang dimulai di malam beringin ditebang.