Berita bahwa ada "orang dari kota" yang menggali di bekas beringin menyebar cepat di antara segelintir rumah yang masih bernyawa, dan sore itu, beberapa warga tua Sumberwangi berkumpul di beranda nenek penampi beras—yang ternyata bernama Mbah Ginah—untuk melihat sendiri. Mereka datang dengan tongkat dan langkah lambat, dengan mata yang sudah keruh tapi masih tajam membaca orang, dan mereka menatap Ki Lawu dengan campuran curiga dan, anehnya, kerinduan.
Ki Lawu duduk di antara mereka, menerima kopi pahit yang disuguhkan, dan ia mendengarkan. Karena ia menyadari, dengan kerendahan hati yang baru, bahwa orang-orang tua ini menyimpan sesuatu yang bahkan ia—sang dhanyang sendiri—sudah lupa: cerita tentang asal-usulnya.
"Dhanyang itu nggak ujug-ujug ada, Nak," kata Mbah Kromo, lelaki paling tua di antara mereka, kulitnya seperti kulit kayu. "Simbah saya dulu cerita. Ki Lawu itu lahir dari desa ini. Bukan dikirim dari langit, bukan dari laut kidul. Lahir dari sini."
Ki Lawu mengangkat wajah. "Lahir dari sini gimana, Mbah?"
Mbah Kromo menyeruput kopinya, menikmati momen jadi pencerita, sebagaimana orang tua selalu menikmati. "Konon, dulu sekali, waktu desa ini baru, belum ada apa-apa. Cuma hutan sama mata air. Lalu orang-orang datang, babat hutan, bikin sawah, tanam padi. Dan mereka—ini yang penting, Nak—mereka mencintai tanahnya. Bener-bener cinta. Mereka rawat mata air kayak rawat anak. Mereka nggak pernah ngambil lebih dari yang mereka butuh. Tiap panen, mereka kasih balik ke tanah, syukuran, sesaji, doa." Ia mengangkat jari keriput. "Cinta itu, Nak, cinta yang dirawat puluhan tahun, ratusan tahun, ngumpul. Numpuk di tanah, di mata air, di beringin yang mereka tanam di tengah desa. Sampai suatu hari, cinta itu jadi sesuatu. Jadi seseorang. Jadi penjaga."
"Ki Lawu," bisik Nayla, yang duduk mendengarkan dengan napas tertahan.
"Ki Lawu," angguk Mbah Kromo. "Dia bukan dewa, bukan jin. Dia anak dari cinta warga sama tanahnya. Itu sebabnya simbah saya selalu bilang: rawat tanahmu, Le, sebab selama ada yang ngrawat dengan tulus, dhanyang nggak akan mati. Tapi kalau cinta itu habis—kalau orang berhenti ngrawat, berhenti cinta—dhanyang bakal pudar. Bukan karena beringinnya ditebang. Tapi karena nggak ada lagi yang nyintain tanahnya."
Ki Lawu duduk sangat diam.
Sesuatu yang amat besar sedang terbuka di dalam dirinya, sebuah pintu yang ia tak tahu ada. Sepanjang waktu di kota, ia mengira dirinya pudar karena terpisah dari beringin, dari tanah Sumberwangi, dari benda fisik tempat ia terikat. Ia mengira kekuatannya bersumber dari pohon, dari sumber air, dari tempat. Dan karena itu ia mengira ia hanya bisa pulih dengan kembali ke tempat itu.
Tapi Mbah Kromo baru saja mengatakan kebenaran yang lain. Ia tidak terikat pada beringin. Beringin cuma wadah. Ia terikat pada cinta-rawat—pada warga yang mencintai tanahnya. Dan cinta-rawat itu... cinta-rawat itu bisa lahir di mana saja.
Ia memikirkan Jakarta. Memikirkan warga gang yang mulai menanam, mulai membersihkan got, mulai menghormati pohon. Memikirkan Bu Sari yang merawat kostnya dengan sepenuh hati sampai makhluk lapar tak bisa menembusnya. Memikirkan Pak Karyo yang menyapu subuh dengan hormat pada tanah, Mbak Yuni yang menyiram pasak, mahasiswa-mahasiswa yang menanam di lahan kosong. Memikirkan pekarangan kost yang akhirnya mengakuinya—bukan karena ia memaksa, tapi karena tanah itu mulai dicintai.
Kota itu sedang menumbuhkan cinta-rawat. Pelan, sebutir demi sebutir, tapi tumbuh.
Dan kalau dhanyang lahir dari cinta-rawat, maka...
"Mbah," kata Ki Lawu pelan, suaranya bergetar oleh penemuan yang baru saja menghantamnya. "Jadi dhanyang bisa... berakar di tempat baru? Kalau di tempat baru itu ada orang yang mulai cinta sama tanahnya?"
Mbah Kromo menatapnya lama, dengan mata keruh yang tiba-tiba terlihat sangat tajam, seolah ia tahu—seolah ia selalu tahu—siapa sebenarnya tamu dari kota ini.
"Bisa, Nak," katanya pelan. "Tanah nggak pilih-pilih tempat. Tanah cuma butuh dicintai. Di gunung, di sawah, di kota sekalipun—kalau ada manusia yang mulai cinta sama tanahnya lagi, di situ penjaga bisa tumbuh. Penjaga nggak terikat sama tempat. Penjaga terikat sama cinta." Ia tersenyum, ompong dan dalam. "Simbah saya juga bilang: penjaga yang bijak tahu, rumahnya bukan tempat dia lahir. Rumahnya tempat dia dicintai dan dibutuhin."
Ki Lawu menundukkan kepala, dan air mata jatuh ke kopinya yang sudah dingin.
Selama ini ia menyiksa dirinya dengan kata pulang, seolah ada satu tempat di muka bumi yang adalah rumahnya dan semua tempat lain adalah pengasingan. Seolah berakar di kota berarti mengkhianati Sumberwangi. Seolah kalau ia tak kembali ke beringin, ia gagal sebagai dhanyang.
Tapi ia tak gagal. Beringin ditebang, ya. Tapi cinta-rawat yang melahirkannya tak ditebang—cuma berpindah, menyebar, menemukan tanah baru di gang sempit Jakarta. Dan ke mana cinta-rawat pergi, ke situlah ia bisa pergi. Bukan sebagai pengungsi. Sebagai penjaga.
"Matur nuwun, Mbah," katanya, mengangkat wajah, dan kali ini ada cahaya di matanya. "Sampeyan baru saja ngebebasin saya dari sesuatu yang saya gendong ratusan tahun."
Mbah Kromo terkekeh dan menepuk lututnya. "Saya cuma orang tua yang banyak omong, Nak. Tapi kalau ceritanya berguna buat sampeyan, ya alhamdulillah."
Malam itu, Ki Lawu tidur dengan damai yang belum pernah ia rasakan sejak beringinnya tumbang. Wadah tanah liat berisi tanah Sumberwangi yang masih hidup ia letakkan di samping kepalanya, dan ia tahu sekarang apa yang akan ia lakukan dengannya: bukan menyimpannya sebagai kenangan rumah yang hilang, tapi menanamnya sebagai benih rumah yang akan ia bangun. Ia akan membawa Sumberwangi ke kota—bukan untuk pulang, tapi untuk meneruskan.
Ia tertidur sambil tersenyum. Tapi di luar, di tengah desa yang sebagian mati, di dekat tunggul beringin yang menghitam, sesuatu yang dingin dan lapar sedang menemukan robekan yang lama terbuka—dan mulai meminum dari tanah keramat yang tersisa.