Mereka kembali ke tunggul beringin keesokan paginya, ketika kabut masih tebal dan suara ayam jago bersahut-sahutan dari rumah-rumah yang bertahan. Ki Lawu sudah memutuskan: kalau ada tanah di Sumberwangi yang masih cukup hidup untuk dijadikan stek, tempat itu pasti di dekat akar beringin—di kedalaman yang tak terjangkau bor dan alat berat, tempat ratusan tahun pengabdiannya mengendap.
Mereka memanjat pagar seng yang miring, masuk ke alun-alun yang dipagari proyek mangkrak. Di siang hari, dengan beton dan besi tua berserakan, tempat itu terasa lebih sedih daripada tadi malam. Tapi tunggul beringin tetap berdiri di tengahnya, hitam dan raksasa dan diam, seperti makam seekor raksasa.
Ki Lawu berlutut di samping tunggul, dan ia mulai menggali—bukan dengan sekop, walaupun Nayla membawakannya, tapi dengan tangan, dengan jari-jari tua yang membenamkan diri ke tanah seperti orang yang menyapa teman lama lewat sentuhan. Bu Sari dan Nayla menjaga di belakang, diam, merasakan bahwa ini bukan pekerjaan tapi upacara.
Lapisan pertama tanah kering dan mati, penuh serpihan beton dan paku berkarat. Lapisan kedua lebih lembap tapi pucat. Tapi semakin dalam Ki Lawu menggali, semakin tanah itu berubah—lebih gelap, lebih basah, lebih wangi—sampai jari-jarinya mencapai lapisan tempat akar beringin yang tersisa masih menjalar, akar yang tak ikut ditebang karena terlalu dalam, akar yang masih hidup walau pohonnya sudah lama tiada.
Dan ketika telapaknya menyentuh tanah di antara akar-akar itu, Ki Lawu terhuyung.
Karena tanah itu mengenalnya. Bukan dari seberang sungai seperti tanah desa lainnya. Bukan samar dan jauh. Tapi langsung, total, seperti orang tua yang langsung mengenali anaknya walau si anak sudah bertahun-tahun pergi dan berubah wajah. Tanah itu menyebut namanya—bukan nama Lawu Sumarwa di KTP, tapi nama yang lebih tua, nama yang ia sendiri sudah hampir lupa—dan dalam sekejap, banjir.
Ingatan kembali. Bukan semuanya. Tapi sebagian, dan sebagian itu menghancurkan sekaligus memulihkan. Ia mengingat wajah nenek penampi beras tadi—muda, dengan bayi di gendongan, datang ke beringin meminta keselamatan persalinan, dan Ki Lawu memberkahinya, dan bayi itu lahir selamat, dan bayi itu tumbuh dan punya anak dan cucu dan kini nenek itu menampi beras di beranda. Ia mengingat puluhan wajah lain, ratusan, mengalir kembali ke tempat kosong di dadanya seperti air kembali ke cekungan yang lama kering.
Ia menangis. Lelaki tua yang berabad-abad tak menangis itu menangis di atas tanah, di antara akar pohonnya yang sudah mati, sementara ingatan yang ia korbankan untuk Nayla dikembalikan kepadanya oleh tanah yang masih mencintainya.
"Pak!" Nayla bergerak ke depan, panik. "Pak kenapa?"
"Nggak apa-apa," katanya, walau air mata membasahi tangannya yang berlumur tanah. "Nggak apa-apa, Nduk. Bapak cuma... pulang sebentar."
Ia duduk di sana lama, membiarkan tanah memulihkan apa yang bisa dipulihkan, dan tanah memberinya itu dengan murah hati, seperti orang tua yang tak pernah menghitung. Tapi kemudian, di tengah karunia itu, tanah berbisik sesuatu yang lain—sesuatu yang lembut dan getir dan jujur, sejujur Ki Lawu sendiri biasa jujur.
Kau tak bisa tinggal.
Ki Lawu menahan napas.
Ikatan yang lama tak bisa dipulihkan utuh, bisik tanah, bukan dengan kata-kata tapi dengan rasa yang merembes lewat telapaknya. Beringin sudah tiada. Aku tinggal akar dan ingatan. Aku bisa mengembalikan sebagian dirimu, tapi aku tak bisa mengembalikan kau seutuhnya, karena kau sudah bukan sepenuhnya milikku lagi. Kau sudah mulai jadi milik tempat lain.
"Tapi aku bisa nanam beringin baru di sini," Ki Lawu bicara keras, pada tanah, suaranya parau. "Aku bisa tinggal, aku bisa jaga, aku bisa—"
Kau bisa. Tapi maukah kau?
Dan pertanyaan itu—maukah kau—menusuk lebih dalam dari semua kehilangan. Karena Ki Lawu menyadari, dengan rasa malu yang aneh, bahwa jawabannya bukan ya yang ia harapkan. Selama berbulan-bulan di kota ia merindukan tanah ini, memimpikan pulang, menjadikan Sumberwangi sebagai surga yang darinya ia terbuang. Tapi sekarang, berlutut di atasnya, dengan tanah yang mencintainya mengembalikan ingatannya, ia merasa—jauh, menarik, di seberang ratusan kilometer—pekarangan kost yang juga memanggilnya. Pot-pot warga. Suara Bu Sari. Roh asam yang ia tempatkan di taman baca. Pagar kota yang baru lahir dan butuh dijaga.
Ia merindukan tempat itu juga. Mungkin lebih.
"Aku nggak ngerti," bisiknya. "Dulu aku cuma pengen pulang. Sekarang aku punya dua tempat, dan dua-duanya narik aku, dan aku nggak tahu mana rumahku."
Tanah menjawab, dan jawabannya adalah jawaban yang membebaskan. Ikatan tak bisa dipulihkan. Tapi ikatan bisa diteruskan. Ambil aku, Lawu. Ambil segenggam dariku, yang masih hidup, dan bawa ke tempat yang sekarang juga memanggilmu. Aku tak meminta kau tinggal. Aku merestuimu pergi. Sebab penjaga sejati tak terikat pada satu tempat—ia terikat pada cinta-rawat, dan cinta-rawat bisa berakar di mana saja ia ditanam.
Ki Lawu menundukkan kepala sampai dahinya menyentuh tanah, dan ia tinggal seperti itu lama sekali, sembahyang pada rumah yang melepasnya. Lalu ia mengangkat wajah, dan dengan tangan yang gemetar dan penuh hormat, ia mengambil segenggam tanah dari antara akar beringin—tanah yang gelap dan basah dan masih bernapas, yang mengenalnya seutuhnya—dan memasukkannya ke dalam wadah tanah liat kecil yang sudah ia siapkan.
Ia menutup wadah itu, dan ia merasakan tanah di dalamnya masih hidup, masih mengenalnya, siap diteruskan.
"Matur nuwun," bisiknya pada tunggul. "Matur nuwun sanget."
Dan ketika ia bangkit, lututnya berlumpur dan matanya basah, Nayla melihat sesuatu di wajah lelaki tua itu yang belum pernah ia lihat—bukan kesedihan, bukan kerinduan, tapi sesuatu yang lebih tenang dari keduanya. Wajah orang yang baru saja diberi izin untuk berhenti merindukan, dan mulai memilih.