Mereka turun ke Sumberwangi lewat jalan setapak yang dulu selalu ramai—jalan tempat ibu-ibu pulang dari pasar pagi membawa bakul, tempat anak-anak berlomba lari ke sekolah, tempat Ki Lawu, dalam wujud yang tak kasat mata, dulu berjalan mengiringi siapa pun yang butuh ditemani. Sekarang jalan itu separuh tertutup ilalang. Roda gerobak terakhir yang melewatinya entah berapa musim lalu.
Yang pertama mereka temui adalah sumber air. Atau bekasnya.
Dulu Sumberwangi punya mata air yang tak pernah kering bahkan di kemarau terburuk—itulah sumber namanya, air yang wangi, kata orang tua, karena dijaga dhanyang. Sekarang cekungan batu tempat air dulu menggenang hanya berisi lumpur retak dan daun-daun busuk. Sebuah pipa paralon menyembul dari tanah di dekatnya, peninggalan proyek yang berusaha menyedot air tanah lebih dalam, kini berkarat dan tersumbat. Ki Lawu berlutut di tepi cekungan kering itu dan menempelkan telapaknya ke lumpur retak, dan ia merasakan—jauh, jauh sekali di bawah—nadi air yang masih ada tapi tertekan, takut, mengalir ke arah lain mencari jalan keluar yang tak menghancurkannya.
"Masih ada," gumamnya. "Tapi ngumpet. Dia takut sama bornya."
Di pusat desa, beringin keramat tinggal tunggul. Ki Lawu sudah tahu ini—ia merasakannya pada malam ia ditebang, robekan yang melemparkannya ke kota—tapi melihatnya dengan mata adalah hal yang berbeda. Tunggul itu raksasa, selebar dua meja makan, dengan lingkaran-lingkaran usia yang tak terhitung, dan ia menghitam di tepinya, dibakar mungkin, atau diracun, agar tak tumbuh tunas baru. Di sekelilingnya, tanah yang dulu jadi alun-alun kecil tempat warga berkumpul kini dipagari seng proyek yang sudah miring dan dicorat-coret. Sebuah papan menempel di pagar itu, hurufnya pudar tapi masih terbaca: PROYEK PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA TERPADU. CAKRA BUMI WIJAYA.
Mangkrak. Ditinggalkan. Tanah dirobek, dijarah, lalu dilupakan begitu saja—seolah si perobek mengambil apa yang ia mau dari robekan itu lalu pergi mencari robekan berikutnya.
"Mereka nggak pernah niat bikin wisata, kan," kata Nayla pelan, membaca papan itu. Bukan pertanyaan. "Mereka cuma mau ngerobek tabirnya. Begitu robek, mereka pergi."
"Iya," kata Ki Lawu. "Desa ini cuma luka pertama. Sekarang mereka ngincer luka yang lebih gede di kota."
Mereka berjalan terus, melewati rumah-rumah yang kosong, jendela-jendela yang pecah, halaman-halaman yang ditumbuhi pisang liar. Tapi tidak semuanya mati. Di ujung desa, di lereng yang lebih tinggi yang tak terjamah proyek, ada beberapa rumah yang masih bernyawa—asap tipis dari dapur, ayam yang berkeliaran, jemuran di pekarangan. Beberapa keluarga tua yang menolak pergi, yang terlalu tua untuk memulai lagi di tempat lain, atau terlalu keras kepala, atau terlalu cinta.
Seorang nenek duduk di beranda salah satu rumah itu, menampi beras. Ia mengangkat wajah saat mereka mendekat, memicingkan mata yang sudah keruh oleh usia, dan menatap Ki Lawu lama sekali.
"Sampeyan," katanya akhirnya, suaranya seperti daun kering. "Sampeyan ini... saya kok kayak kenal."
Ki Lawu berdiri membeku. Ia menatap wajah nenek itu, mencari di reruntuhan ingatannya, dan menemukan—tidak ada. Kosong. Lubang tempat seharusnya ada nama, ada cerita, ada ratusan tahun. Ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa nenek ini adalah salah satu wajah yang ia korbankan di parkiran itu untuk menyelamatkan Nayla. Salah satu dari warga Sumberwangi yang ia hapus dari ingatannya sendiri.
"Maaf, Mbah," katanya, dan suaranya pecah sedikit. "Saya... orang baru lewat."
Nenek itu menatapnya lebih lama, lalu tersenyum, senyum yang ompong dan hangat. "Aneh. Tapi muka sampeyan bikin saya inget Ki Lawu. Dhanyang kami dulu." Ia terkekeh pelan. "Sampeyan nggak percaya dhanyang? Wong sekarang anak-anak muda pada ketawa kalau saya cerita. Tapi dulu, Nak, dulu desa ini dijaga. Air nggak pernah kering. Padi nggak pernah gagal. Orang sakit aneh-aneh sembuh sendiri. Itu Ki Lawu. Penjaga kami. Sebelum mereka tebang beringinnya."
Sesuatu hancur dan tersusun ulang dalam dada Ki Lawu pada saat yang sama. Ia mendengar dirinya disebut legenda oleh seseorang yang dulu ia jaga setiap hari, dan ia tak bisa mengingat satu pun hari itu. Tapi nenek itu mengingat. Desa itu mengingat. Ia jadi cerita yang diceritakan di beranda, dongeng yang ditertawakan anak muda—dan dalam dongeng itu, ia masih hidup, masih menjaga, masih dicintai.
Bu Sari, yang berdiri di belakang, mengusap matanya diam-diam. Nayla menggenggam tangan Ki Lawu erat-erat.
Ki Lawu melangkah ke beranda dan duduk di tangga kayunya, di samping nenek yang menampi beras, dan untuk waktu yang lama ia hanya mendengarkan—nenek itu bercerita tentang Ki Lawu, tentang masa lalu, tentang air yang wangi, tanpa tahu bahwa ia sedang menceritakan sang dhanyang kepada dhanyang itu sendiri. Dan Ki Lawu menyimpan tiap kata seperti orang yang menabung remah-remah dirinya yang hilang.
Malam itu, ketika mereka menginap di salah satu rumah kosong yang masih layak, Ki Lawu keluar dan berdiri di tengah desa, di antara reruntuhan dan rumah-rumah yang masih bernyawa, dan ia mendengarkan tanah. Dan tanah Sumberwangi menjawab—tapi pelan, jauh, seperti orang yang menyapa dari seberang sungai. Tanah itu masih mengenalnya. Tapi tidak lagi memilikinya. Ada jarak sekarang, jarak yang tumbuh selama berbulan-bulan ia berakar tipis di kota, dan jarak itu tak bisa ditutup hanya dengan pulang.
"Aku nggak punya lagi di sini," bisiknya pada gelap, dan untuk pertama kalinya kalimat itu tak terdengar seperti kehilangan. Terdengar seperti kebenaran. "Rumah lamaku udah bukan rumah."
Di balik tembok, di dalam, Nayla mendengarnya, dan ia tahu bahwa sesuatu yang besar telah bergeser di dalam diri lelaki tua itu—sesuatu yang akan mengubah ke mana cerita ini berakhir.