Keputusan untuk pergi diambil bukan dengan upacara, tapi di meja makan kost, di antara piring nasi goreng Bu Sari dan suara kompor yang masih menyala. Ki Lawu menjelaskan, dengan caranya yang lambat dan hati-hati, bahwa pagar yang mereka bangun di kota—jejaring tanah hidup, pot-pot, kolong jembatan yang dihijaukan, taman-taman kecil tempat roh-roh tersesat sekarang berpos—belum cukup kuat untuk menutup mulut tabir yang akan dibuka Cakra Bumi. Pagar itu butuh pasak yang lebih dalam. Dan pasak yang paling dalam yang bisa ia bayangkan adalah tanah yang melahirkannya: tanah Sumberwangi.
"Stek," kata Nayla, yang langsung paham karena otak arsiteknya selalu menerjemahkan hal gaib jadi hal teknis. "Kayak nyangkokin pohon. Ambil ranting dari pohon induk yang kuat, tanem di tempat baru, biar dia tumbuh dari akar yang udah teruji."
"Kira-kira begitu," kata Ki Lawu. "Tanah Sumberwangi udah mengenal Bapak ratusan tahun. Kalau Bapak bisa bawa sedikit—segenggam yang masih hidup—ke kota, tanah kota bisa belajar dari dia. Pagar kita bakal punya akar yang lebih tua dari makhluk itu."
Bu Sari, yang sedang mengipasi nasi, berhenti. "Berarti kamu mau pulang."
Kalimat itu menggantung di udara dapur dengan berat yang membuat semua orang diam. Karena itulah kata yang sejak awal membayangi Ki Lawu: pulang. Selama ini pulang adalah satu-satunya yang ia inginkan, satu-satunya alasan ia bertahan, tujuan yang membuat setiap hari di kota terasa seperti hukuman sementara. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, kata itu keluar dari mulutnya tanpa kerinduan—hanya sebagai tugas.
"Bukan pulang," kata Ki Lawu pelan. "Cuma ngambil. Terus balik ke sini."
Nayla menatapnya tajam, karena ia mendengar sesuatu dalam suara lelaki tua itu yang bahkan Ki Lawu sendiri mungkin belum sadari. Tapi ia tak mengatakan apa-apa. Ada hal-hal yang harus seseorang temukan sendiri, dan Nayla, yang baru kemarin menemukan rumahnya sendiri di pinggir jalan tol, mengerti itu lebih baik dari siapa pun.
Mereka berangkat tiga hari kemudian, ketika urusan kota cukup aman untuk ditinggal sebentar. Pak Karyo berjanji menjaga pagar dan mengabari kalau Cakra Bumi bergerak. Mbak Yuni dan mahasiswa-mahasiswa Seribu Titik Hijau melanjutkan penanaman. Roh-roh tersesat sudah berpos di tempat masing-masing. Dan Ki Lawu, Nayla, serta Bu Sari—yang bersikeras ikut karena "kalau ada apa-apa, siapa yang bakal masakin kalian?"—naik bus malam ke arah gunung.
Perjalanan itu adalah ziarah, walau tak seorang pun menyebutnya begitu.
Ki Lawu duduk di dekat jendela, dan saat bus meninggalkan kota, ia merasakan sesuatu yang tak ia duga: gelisah. Setiap kilometer yang membawanya menjauh dari Jakarta, ia merasakan tanah kota—pekarangan kost, pot-pot, pagar yang mengakuinya—menarik di dadanya seperti tali yang merentang. Dulu, dulu sekali, ia akan merasa lega menjauhi kota. Sekarang ia merasa seperti meninggalkan sesuatu yang hidup di belakang. Ia tidak mengatakannya. Tapi ia menyimpannya, hati-hati, sebagai hal yang harus ia pikirkan nanti.
Malam itu di bus, mereka melewati pemandangan yang perlahan berubah: dari beton ke sawah, dari papan iklan ke pohon, dari klakson ke suara jangkrik yang menyusup lewat kaca yang renggang. Nayla tertidur. Bu Sari merajut sesuatu di bawah lampu baca redup. Dan Ki Lawu menatap keluar, ke bentang tanah yang dulu ia kenal, mencoba mengingat seperti apa rasanya menjadi dhanyang yang berakar penuh, dan menyadari dengan getir bahwa ingatan itu sudah berlubang. Wajah-wajah warga Sumberwangi yang ia korbankan untuk menyelamatkan Nayla—ia masih tak bisa menemukannya. Cuma ada perasaan samar bahwa pernah ada orang-orang yang ia cintai.
"Pak," suara Nayla, ternyata ia belum benar-benar tidur. "Pak takut nggak, balik ke sana?"
Ki Lawu lama tak menjawab. "Takut," katanya akhirnya. "Tapi bukan takut yang Bapak kira bakal Bapak rasain."
"Maksudnya?"
"Dulu Bapak pikir, kalau Bapak balik ke Sumberwangi, Bapak bakal sedih ngeliat desanya rusak. Itu yang Bapak takutin." Ia memutar-mutar tasbih tua di tangannya, kebiasaan yang ia pungut entah dari mana di kota. "Tapi sekarang Bapak takut hal lain. Bapak takut Bapak ke sana, terus nggak ngerasa apa-apa. Bapak takut tanah itu nggak ngenal Bapak lagi. Atau lebih buruk—Bapak yang nggak ngenal dia."
Nayla diam. Lalu ia mengulurkan tangan dari kursinya dan menggenggam lengan tua Ki Lawu, sebentar.
"Kalau gitu kita cari tahu bareng-bareng," katanya. "Pak nggak sendirian. Itu kan yang selalu Pak ajarin ke aku."
Ki Lawu menatap tangan gadis itu di lengannya, dan ia teringat malam di parkiran ketika ia menutup luka Nayla dengan dirinya sendiri, dan ia teringat kata-kata terakhir Renata sebelum tabir menelannya: berakar di tempat yang menemanimu. Ia tak tahu, waktu itu, apakah ia masih bisa berakar di mana pun. Tapi tangan kecil yang menggenggam lengannya ini terasa seperti tanah. Hangat, keras kepala, hidup.
Mereka tiba di kaki gunung saat fajar, ketika kabut masih menggantung rendah di antara pohon-pohon dan udara dingin membuat napas mereka mengepul putih—dingin yang sehat, bukan dingin tabir. Dari jalan desa yang berbatu, mereka harus berjalan kaki sisanya, karena angkutan terakhir tak masuk sejauh ini lagi sejak proyek mangkrak menutup jembatan lama.
Dan ketika mereka mendaki bukit terakhir, dan Sumberwangi terbentang di bawah mereka dalam cahaya pagi yang pucat, Ki Lawu berhenti.
Ia menatap desanya. Desa yang selama berabad-abad adalah dirinya, yang darah-rezekinya ia atur, yang sengketanya ia tengahi, yang anaknya ia berkahi. Dan ia menyiapkan hatinya untuk segala perasaan yang mungkin datang.
Tapi yang datang bukan satu pun yang ia siapkan. Karena desa yang terbentang di bawahnya bukan lagi desa yang ia ingat, dan bukan juga reruntuhan yang ia takutkan. Itu sesuatu yang lain—sesuatu yang sebagian mati, sebagian bertahan, sebagian sudah jadi milik tanaman liar yang mengambil alih—dan menatapnya, Ki Lawu merasakan, untuk pertama kalinya dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa ia tidak lagi sepenuhnya menjadi miliknya.