Ki Lawu tahu ada yang berbeda bahkan sebelum Nayla bangun keesokan paginya. Ia bangun lebih awal seperti biasa, duduk di pekarangan kost di antara pot-pot yang sudah ia rawat berbulan-bulan, dan ketika Nayla keluar untuk mengambil jemuran, hidung tua dhanyang itu menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti menyiram.
Gadis itu tidak lagi berbau seperti luka.
Selama berbulan-bulan, sejak hari pertama, Nayla selalu membawa bau tipis yang membuat Ki Lawu waspada tanpa pernah ia katakan terus terang: bau tanah yang direnggut paksa, bau akar yang dicabut, yang manis-getir dan dingin di ujungnya. Bau itu adalah peta. Itulah yang membuat makhluk lapar selalu bisa menemukan Nayla di tengah jutaan orang Jakarta; ia mengendus luka yang sama seperti serigala mengendus darah, dan luka itu adalah pintu, undangan, celah di tembok yang lain-lain tak punya.
Dan sekarang bau itu tidak ada.
Ki Lawu meletakkan gembornya pelan-pelan, seperti takut suara akan membatalkan keajaiban. Ia mendekati Nayla, pura-pura memeriksa pot kemangi di sebelahnya, dan ia menghirup lagi, dalam-dalam, untuk memastikan ia tidak salah karena harapan. Tapi tidak. Bau Nayla sekarang adalah bau orang yang berakar: tanah dibalik, kompos, hujan kemarin sore, dan jauh di bawah semua itu, sesuatu yang hangat dan keras kepala yang Ki Lawu kenali sebagai tekad.
"Pak, kenapa ngeliatin aku gitu?" tanya Nayla, separuh geli separuh curiga, sambil melipat handuk.
"Nggak apa-apa," kata Ki Lawu, dan ia tersenyum, senyum yang sudah lama tak muncul. "Bapak cuma seneng. Kamu udah pulang."
"Aku dari tadi di sini, Pak."
"Bukan itu yang Bapak maksud."
Nayla mengernyit, tapi ia tak bertanya lebih jauh, karena belakangan ia belajar bahwa kalimat-kalimat aneh Ki Lawu sering jadi jelas dengan sendirinya kalau ditunggu. Dan malam itu, kalimat itu jadi sangat jelas.
Makhluk lapar datang.
Ia datang seperti biasanya datang, lewat pojok-pojok yang dilupakan, lewat tabir yang menipis di balik tembok pembatas gang. Tapi malam ini ada yang berbeda dalam caranya datang. Biasanya ia datang diam-diam, mengendap, mengendus, mencari celah. Malam ini ia datang marah. Ki Lawu merasakannya dari dalam kamar—dingin yang menghantam seperti pintu didobrak, tabir yang ditarik kasar, dan di balik semua itu, sesuatu yang menjerit tanpa suara, jeritan lapar yang kehilangan hidangannya.
Ki Lawu sudah berdiri sebelum sadar ia berdiri. Nayla terbangun di kamarnya; Ki Lawu mendengar pintunya terbuka, langkah kakinya di koridor. "Pak! Itu—"
"Bapak tahu. Jangan keluar pagar."
Udara di pekarangan turun belasan derajat dalam hitungan napas. Embun terbentuk di daun-daun, lalu membeku jadi kristal tipis. Lampu teras berkedip dan padam. Dan dari balik tembok, di tempat yang gelapnya tak masuk akal karena tak ada apa-apa yang bisa menghalangi cahaya lampu jalan, sosok dingin itu menjulang—lebih besar dari yang pernah Ki Lawu lihat, lebih putus asa, gerakannya tersentak-sentak seperti hewan yang kelaparan terlalu lama.
Ia menerjang langsung. Bukan mengintai. Menerjang.
Dan menabrak pagar.
Bukan pagar dari besi atau kayu. Pagar dari tanah hidup—dari pot-pot yang Ki Lawu dan warga rawat, dari pekarangan kost yang sekarang benar-benar mengakui sang dhanyang, dari kemangi dan cabai dan bayam yang ditanam dengan tangan-tangan yang peduli. Ketika makhluk lapar menghantamnya, pagar itu menyala—bukan cahaya yang bisa dilihat mata biasa, tapi Ki Lawu melihatnya, hangat keemasan, seperti rumah yang lampunya dinyalakan di malam dingin. Makhluk itu terpental, menjerit, mencoba lagi dari sisi lain, terpental lagi.
Lalu, dengan keputusasaan yang hampir membuat Ki Lawu kasihan, makhluk itu melakukan hal yang selalu berhasil: ia mengulurkan dirinya ke arah Nayla, mencari luka, mencari pintu, mencari undangan yang selama ini selalu ada di dada gadis itu.
Dan ia tidak menemukan apa-apa.
Ki Lawu menyaksikannya dengan kepuasan yang dalam dan tenang. Ia melihat makhluk itu mengendus Nayla yang berdiri di balik pagar, melihatnya mencari celah yang dulu selalu terbuka, dan melihatnya gagal—berkali-kali, dengan kebingungan yang berubah jadi amarah. Tak ada pintu lagi. Tak ada tanah-direnggut untuk dimasuki. Nayla berdiri di tanah yang ia pilih, di rumah yang ia bangun untuk dirinya sendiri, utuh dan tertutup, dan makhluk lapar tak bisa menyentuhnya lebih dari ia bisa menyentuh batu.
"Nggak bisa, ya?" kata Nayla, dan suaranya gemetar tapi bukan oleh takut. Ada sesuatu yang lain di sana—kemarahan lama yang akhirnya punya sasaran, kekuatan dari luka yang sembuh. "Kamu nungguin aku selama berbulan-bulan. Kamu kira aku gampang. Aku juga kira aku gampang." Ia melangkah maju, sampai ke tepi pagar, sedekat yang berani. "Tapi rumahku udah aku tutup. Kamu nggak punya tempat di sini."
Makhluk itu menjerit sekali lagi, jeritan yang Ki Lawu rasakan di gigi-giginya, dan kemudian, seperti pasang yang surut, ia ditarik kembali ke seberang tabir. Udara menghangat. Lampu menyala. Embun beku mencair jadi titik-titik air yang menetes dari daun.
Ki Lawu duduk di anak tangga, kehabisan napas walau ia tak melakukan apa-apa kecuali berdiri. Bertahun-tahun ia bertahan sebagai mangsa, sebagai yang dikejar, sebagai penjaga yang terlalu lemah untuk menjaga. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia menyaksikan musuhnya pulang dengan tangan kosong—bukan karena ia mengalahkannya dengan kuasa yang tak ia punya, tapi karena seorang gadis menyembuhkan dirinya sendiri dan menutup pintu yang sejak awal cuma bisa ditutup dari dalam.
"Pak," kata Nayla, duduk di sampingnya, masih gemetar. "Apa itu artinya... dia bakal terus nyari aku?"
"Dia bakal cari mangsa lain," kata Ki Lawu jujur, karena ia tak pernah bisa berbohong. "Yang lukanya masih kebuka. Itu sebabnya kerjaan kita belum selesai." Ia menatap pagar tanah hidup yang masih bersinar samar di matanya. "Tapi malam ini, Nduk, kita menang. Dan kemenangan kayak gini—yang dari nyembuhin orang, bukan dari ngelawan—ini kemenangan yang nggak bisa dia rebut balik. Ini permanen."
Ia menatap gadis itu, gadis yang dulu mengira ia om-om gila yang ngomong sama selokan, dan ia merasakan sesuatu yang asing dan hangat: bukan sekadar lega, tapi bangga. Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di kota ini, Ki Lawu mulai berpikir bukan tentang bagaimana ia akan bertahan—tapi tentang bagaimana mereka akan menyerang.