Mereka berangkat pagi-pagi sekali, ketika langit masih warna abu basah dan tukang bubur baru menyalakan kompornya, karena Bu Sari bilang luka lama paling baik dihadapi sebelum kota sempat membuat kita pura-pura sibuk. Nayla duduk di kursi belakang angkot, tas di pangkuan, dan ia tidak bicara sepanjang jalan kecuali sekali, ketika ia menunjuk sebuah pertigaan dan berkata pelan, "Dulu di situ ada warung Mak Inah. Bagus banget es cendolnya." Warung itu sudah tidak ada. Yang ada cuma pilar beton jalan layang dan papan iklan rokok sebesar rumah.
Ki Lawu duduk di sampingnya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama ia tidak mencoba menjelaskan apa-apa. Ia hanya hadir, sebagaimana ia belajar hadir, dengan tangan tua yang diletakkan datar di lututnya seperti orang yang sedang menyimak tanah lewat telapak. Ia bisa mencium luka Nayla menebal sejak mereka melewati gerbang tol; bau itu seperti tanah yang dicabut bersama akarnya, tanah yang masih ingat pernah menumbuhkan sesuatu dan tak tahu kenapa sekarang kosong. Bau yang sama yang membuat makhluk lapar selalu menemukan jalan ke dada gadis itu.
"Sini, Mbak," kata sopir, dan mereka turun di bahu jalan, di pinggir pagar pembatas yang dicat hijau pudar. Di seberang, enam lajur aspal mengalir tanpa henti, dan di bawahnya, kalau kau tahu di mana harus melihat, masih ada bekas-bekas: separuh pondasi mungkin, garis selokan tua, sebatang pohon mangga yang dibiarkan hidup di tengah median karena akarnya terlalu dalam untuk dicabut tanpa merobohkan jalan.
Nayla berdiri lama menatap pohon mangga itu.
"Rumah kami di sana," katanya akhirnya. "Persis di bawah lajur ketiga. Kamarku menghadap pohon itu. Mangganya asam, nggak pernah enak, tapi Bapak nggak mau nebang karena katanya pohon itu lebih tua dari rumah." Suaranya rata, terlalu rata, seperti permukaan air yang ditahan agar tidak tumpah. "Mereka datang pagi-pagi juga, dulu. Bawa surat, bilang sertifikat kami nggak sah. Bapak nunjukin sertifikat asli, mereka cuma senyum. Tiga bulan kemudian rumahnya udah rata. Bapak sakit setahun setelah itu, terus pergi. Mamah bilang bukan karena rumah. Tapi aku tahu."
Bu Sari berdiri di sisi lainnya, tangan menggenggam siku Nayla, tidak mengatakan apa pun. Ada kebijaksanaan dalam diam ibu kost itu yang Ki Lawu hormati sejak lama: ia tahu kapan kata-kata cuma akan jadi tambalan murahan pada lubang yang butuh dibiarkan terbuka dulu.
"Aku nggak ngerti kenapa kita ke sini," kata Nayla, dan sekarang suaranya mulai retak. "Buat apa? Rumahnya udah nggak ada. Bapak udah nggak ada. Aku ngeliat aspal doang. Apa yang mau disembuhin dari aspal?"
"Bukan aspalnya, Nduk," kata Ki Lawu pelan. "Tanah di bawahnya."
Ia melangkah ke pagar pembatas dan berlutut, mengabaikan klakson dan debu dan tatapan curiga seorang pengendara motor yang melambat. Ia menempelkan telapaknya ke tanah berkerikil di bahu jalan, tanah yang sudah dipadatkan dan diaspal dan dilupakan, dan ia memejamkan mata. Sisa kuasanya tipis sekali sekarang, tapi mendengarkan tak butuh kuasa, hanya kesabaran. Dan ia mendengar. Jauh di bawah lapisan-lapisan keras, di kedalaman yang tak tersentuh alat berat, ada tanah yang masih basah, masih ingat akar pohon mangga, masih menyimpan jejak pondasi sebuah rumah dan langkah-langkah kecil seorang gadis yang dulu lari-lari di halamannya.
"Tanah nggak lupa, Nayla," katanya, dan ia membuka mata. "Manusia ngubur, ngaspal, ngegusur. Tapi tanah nyimpen. Rumahmu masih ada, di bawah situ. Cuma nggak bisa dilihat lagi."
Dan entah karena kalimat itu, atau karena pohon mangga yang asam, atau karena selama bertahun-tahun ia tak pernah membiarkan dirinya berdiri di tempat ini, sesuatu di dalam Nayla pecah. Ia menangis dengan cara yang tidak indah, yang sesenggukan dan jelek dan keras, menangis di pinggir jalan tol di antara klakson, dan Bu Sari memeluknya sementara Ki Lawu tetap berlutut menjaga tanah seperti menjaga makam.
Nayla menangis untuk rumah yang dirampas. Untuk bapaknya yang patah. Untuk dirinya yang berumur empat belas dan tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan. Untuk sertifikat asli yang diremehkan dengan senyuman. Dan ketika tangis itu mereda, ketika ia tinggal terisak-isak kecil, ia berkata, "Aku benci mereka, Pak. Aku benci banget. Selama ini aku pikir bencinya itu yang bikin aku kuat. Yang bikin aku masuk arsitektur, yang bikin aku berani magang di sarang mereka."
"Benci memang bisa bikin kuat," kata Ki Lawu. "Sebentar. Kayak api di jerami. Terang, panas, terus habis, ninggalin abu. Tapi abu nggak bisa nanam apa-apa, Nduk."
Nayla mengusap wajahnya dengan punggung tangan. "Terus aku harus gimana? Maafin mereka? Aku nggak bisa."
"Nggak ada yang nyuruh kamu maafin." Ki Lawu berdiri, lututnya berderak, dan ia menatap gadis itu dengan mata yang sudah melihat ratusan tahun kehilangan. "Maafin itu urusan mereka sama Gusti Allah, bukan urusanmu. Yang Bapak minta lebih kecil dari itu. Berhentiin. Berhentiin mereka punya rumahmu. Selama ini mereka masih tinggal di dalam dadamu, Nayla, gratis, tiap malam, ngerusakin kamu dari dalem persis kayak rumahmu dirusakin dari luar. Kamu udah kehilangan rumah yang ini. Jangan kasih mereka rumah yang itu juga."
Nayla terdiam, dan untuk waktu yang lama tak ada yang bicara kecuali jalan. Lalu, perlahan, ia berjalan ke pagar pembatas, ke titik di mana Ki Lawu berlutut tadi, dan ia berlutut juga. Ia menempelkan telapaknya ke tanah, persis seperti yang dilakukan lelaki tua itu, walaupun ia tak punya kuasa apa-apa, walaupun ia tak akan mendengar apa-apa.
"Pak," bisiknya, bukan pada Ki Lawu, tapi pada tanah, pada pohon mangga, pada rumah yang terkubur. "Maaf ya aku baru ke sini. Aku takut. Selama ini aku takut kalau aku ke sini terus nangis, berarti aku kalah." Ia menarik napas yang gemetar. "Tapi aku nggak kalah, Pak. Aku jadi arsitek. Beneran. Dan aku janji aku bakal bikin rumah-rumah yang nggak digusur dari orang lain. Itu rumahmu yang baru. Itu yang aku bangun buat kamu."
Ia menundukkan kepala ke tanah, sebentar, seperti orang sembahyang. Lalu ia bangun.
Dan Ki Lawu, yang menyaksikan dari samping, merasakan sesuatu berubah di udara di sekitar gadis itu—seperti pintu yang lama menganga, perlahan dan pasti, ditutup dari dalam. Bau tanah-yang-direnggut yang selama ini melekat pada Nayla mulai berganti. Bukan jadi tanpa bau. Tapi jadi bau tanah yang dicangkul lagi, dibalik, dikasih kompos, disiram. Bau tanah yang siap menumbuhkan sesuatu yang baru.
Mereka pulang ketika matahari sudah tinggi. Di angkot, Nayla tertidur di bahu Bu Sari, wajahnya lebih ringan dari yang pernah Ki Lawu lihat sejak hari ia pertama menemukan om-om gila di depan kost. Dan lelaki tua itu menatap keluar jendela, ke kota yang penuh tanah-tanah terkubur, dan untuk pertama kalinya ia merasa, di tengah segala yang ia kehilangan, ada satu hal yang berhasil ia jaga utuh.