Mereka tahu makhluk lapar tak akan membiarkan pemberontakan Renata berlalu. Yang tak mereka duga adalah betapa cepat, dan betapa kejam, hukuman itu datang—dan bahwa mereka akan dipaksa menyaksikannya.
Itu terjadi tiga malam setelah peringatan di trotoar, di tempat parkir bawah tanah gedung firma, ketika Nayla pergi mengambil barang-barang terakhirnya—ia sudah memutuskan berhenti magang, terlalu berbahaya. Ki Lawu memaksa ikut, instingnya gelisah sepanjang hari, hidung tuanya mengendus dingin yang menebal. Mereka tidak tahu Renata akan ada di sana. Mungkin Renata pun tak tahu mereka akan datang. Atau mungkin makhluk itu mengatur agar semua bertemu, karena hukuman selalu lebih pedih bila ada saksi.
Renata berdiri di tengah tempat parkir yang sepi, di bawah lampu neon yang berkedip, dan ia tampak lebih buruk dari malam di trotoar—nyaris transparan, seperti pakaian yang dicuci terlalu sering. Ketika ia melihat Nayla dan Ki Lawu muncul dari tangga, matanya melebar bukan oleh takut, tapi oleh sesuatu yang lebih buruk: penerimaan.
'Kalian tidak seharusnya di sini,' bisiknya. 'Pergi. Sekarang.'
Tapi sudah terlambat. Lampu-lampu neon mulai berkedip lebih cepat, lalu padam satu per satu, dan dengan tiap lampu yang mati, udara menjadi lebih dingin, lebih tebal, sampai napas mereka mengepul putih di tempat yang seharusnya pengap. Ki Lawu merasakan tabir di sekitar mereka menipis dengan kecepatan yang membuatnya ngeri—bukan robek perlahan seperti biasa, tapi ditarik, seperti seseorang menarik kain dari sisi yang lain. Bayangan di dinding-dinding parkir mulai memanjang ke arah yang salah, tak peduli dari mana cahaya datang.
Dan Renata mulai tertarik.
Ia tidak diseret oleh tangan—tak ada tangan. Ia tertarik dari dalam, seolah benang tak kasat mata di dadanya ditarik perlahan ke arah dinding tempat bayangan paling pekat berkumpul, ke arah tabir yang menganga. Kakinya menggores lantai beton, mencari pegangan yang tak ada. Wajahnya, yang selama ini dingin dan terkendali, akhirnya menunjukkan emosi sepenuhnya—bukan ketakutan akan kematian, tapi pengakuan atas hutang yang jatuh tempo.
'Pak Lawu!' Nayla menjerit. 'Tolong dia! Lakukan sesuatu!'
Ki Lawu melangkah maju, dan ia merasakan dirinya, sisa-sisa kuasa dalam tubuh manusianya yang memudar, menggapai untuk menahan. Tapi ia juga merasakan, dengan kepastian yang menghancurkan, bahwa ia tak akan sampai. Renata terlalu dalam—makhluk itu sudah memakannya terlalu banyak dari dalam selama bertahun-tahun. Tak ada tanah hidup di tempat parkir ini, tak ada pengakuan, tak ada akar. Ia adalah dhanyang tanpa tanah di tempat yang sepenuhnya mati. Untuk menjangkau Renata, ia harus memboroskan sesuatu yang tak ia miliki.
Renata melihat keraguannya, dan ia mengerti. 'Jangan,' katanya, dan anehnya suaranya tenang sekarang, hampir lega. 'Jangan buang dirimu untukku. Aku sudah lama dimakan. Yang kalian tarik cuma kulit.' Ia menatap Nayla, dan untuk satu detik terakhir, cermin gelap itu memandang aslinya. 'Berakar, Nayla. Itu saja. Berakar di tempat yang menemanimu. Jangan jadi aku.'
Lalu tabir menelannya. Tak ada jeritan. Hanya hawa dingin yang menghantam mereka seperti gelombang, dan rasa kosong yang tiba-tiba dan mutlak—rasa kehilangan sesuatu yang bahkan tak sempat kau cintai. Tempat parkir mendadak terang kembali, lampu-lampu menyala, udara menghangat ke pengap normalnya. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah Renata tak pernah ada. Dan mungkin itu yang paling kejam—bahwa kota akan bangun besok pagi dan tak ada yang merindukannya, tak ada akar, tak ada masa lalu yang menjalar, manajer proyek yang menghilang akan diganti dalam seminggu.
Nayla jatuh berlutut, gemetar hebat. Dan Ki Lawu, dengan ngeri yang dingin, menyaksikan apa yang ia takutkan terjadi pada gadis itu: ia melihat luka Nayla terbuka. Menyaksikan 'dirinya yang lain' lenyap, menyaksikan ke mana lukanya bisa membawanya, Nayla terhuyung ke tepi jurang keputusasaan—dan keputusasaan adalah undangan, pintu yang dibuka lebar-lebar bagi makhluk lapar. Ki Lawu merasakan dingin itu berputar, mengendus, menemukan luka yang menganga di dada gadis itu, dan mulai bergerak ke arahnya.
Ia tidak punya waktu menimbang harga. Ki Lawu melompat, memeluk Nayla, dan menutup luka itu dengan satu-satunya cara yang ia punya—dengan menutupnya memakai dirinya sendiri, dengan menanam pengakuan dan kehangatan dan akar ke dalam dada gadis itu seperti ia menanam tanah hidup, memberi makhluk lapar tanah yang dicintai alih-alih kekosongan untuk dimakan. Ia merasakan jam pasirnya tumpah—butir-butir besar, kali ini—dan ia merasakan sesuatu tercabut dari ingatannya, tercabut dan hilang, dan ia tahu apa yang hilang bahkan saat ia kehilangannya.
Wajah-wajah warga Sumberwangi. Satu per satu. Tetangga-tetangga yang ia jaga selama ratusan tahun, yang memberinya sesaji, yang anaknya ia berkahi rezeki kecil, yang sengketanya ia tengahi. Nama-nama dan wajah-wajah yang menjadi alasan ia menjadi dhanyang, yang membuatnya lahir dari cinta warga pada tanah. Mereka memudar dari ingatannya seperti foto yang dibakar dari tepinya, sampai yang tersisa cuma perasaan samar bahwa pernah ada orang-orang, di suatu tempat, yang ia cintai, yang kini tak berwajah.
Tapi Nayla bernapas. Lukanya, untuk malam ini, tertutup oleh tanah yang Ki Lawu tanam dengan dirinya sendiri. Dan makhluk lapar, yang menemukan kehangatan di tempat ia mengharapkan kekosongan, mundur kesal ke seberang tabir.
Mereka pulang dalam diam yang hancur. Di kamar kost, Nayla menangis dalam pelukan Bu Sari, sementara Ki Lawu duduk di sudut, menatap tangannya, mencoba mengingat wajah ibu desanya yang dulu, dan tak menemukan apa-apa selain kabut. Tapi ketika Nayla, di antara isaknya, mengangkat wajah dan menatap lelaki tua itu—lelaki yang baru saja membuang sebagian dari masa lalunya yang paling berharga untuk menyelamatkannya—Nayla membuat keputusan yang akan mengubah segalanya. Ia tak akan jadi Renata. Ia tak akan membiarkan lukanya jadi pintu. Ia harus sembuh, sungguh-sungguh, bukan untuk dirinya—tapi agar tak ada lagi yang harus membuang masa lalunya demi menambal pintu yang seharusnya bisa ia tutup sendiri.