Nayla pertama kali menyadari ada yang mengikutinya ketika ia keluar dari perpustakaan kampus larut malam—sebuah mobil hitam yang sama, dua kali, di dua tempat berbeda. Insting yang ia pelajari dari Ki Lawu, insting waspada pada hal yang tak pada tempatnya, membuat tengkuknya dingin. Tapi yang turun dari mobil itu, di trotoar sepi di bawah lampu jalan yang berkedip, bukan ancaman yang ia bayangkan. Itu Renata.
Dan Renata yang turun bukan Renata yang ia kenal di firma—manajer proyek dingin dengan setelan sempurna dan wajah yang tak pernah kusut. Renata yang berdiri di trotoar itu kurus dengan cara yang salah, kulitnya pucat keabu-abuan, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Nayla teringat pada lampu yang nyaris padam. Mantelnya mahal tapi tergantung longgar di bahunya, seperti dipinjam dari tubuh yang lebih besar—tubuhnya sendiri, sebelum sesuatu mulai memakannya dari dalam.
'Jangan teriak,' kata Renata cepat, mengangkat tangan. Suaranya serak. 'Aku tidak ke sini untuk—' ia berhenti, dan tertawa kecil, getir, suara yang tak ada kelucuannya. 'Lihat aku. Aku bahkan tak sanggup mengancam siapa-siapa lagi.'
Nayla berdiri tegang, ponsel di tangan, ibu jari di atas tombol panggilan ke Ki Lawu. 'Apa mau Bu Renata.'
'Memperingatkanmu,' kata Renata. Ia bersandar ke mobilnya seolah berdiri saja menguras tenaganya. 'Yang konyol, ya? Setelah semua yang—' ia menggeleng. 'Aku tidak punya banyak waktu, jadi dengar saja. Yang kalian rencanakan—gerakan menanam itu, peta itu, semua titik hijau itu—dia tahu. Dia tidak peduli pada satu-dua pot. Tapi dia tahu kalian sedang membangun sesuatu yang lebih besar, dan dia akan mempercepat groundbreaking. Tanggalnya dimajukan. Kalian punya lebih sedikit waktu dari yang kalian kira.'
'Kenapa,' Nayla menelan, 'kenapa Bu Renata memberitahuku ini? Bu yang membuat Pak Hendra koma. Bu yang menyebar fitnah. Bu yang—'
'Aku tahu apa yang kuperbuat,' potong Renata, dan untuk pertama kalinya suaranya retak. 'Kau pikir aku tidak tahu? Tiap malam aku tahu. Tapi yang menyentuh Hendra bukan tanganku—maksudku, ya, tanganku, tapi bukan aku. Kau tidak akan mengerti.' Ia menatap Nayla, dan ada sesuatu yang putus asa dan jujur di tatapan itu. 'Kau tahu apa yang membuatku menjual diri pada makhluk itu? Kau pasti sudah baca berkasku. Anak arsitektur yang pintar sepertimu.'
Nayla diam. Ia memang sudah membaca. Sebagian. Dan ia mulai mengerti ke mana ini menuju, dan ia tak ingin mengerti.
'Keluargaku digusur waktu aku seusiamu,' kata Renata pelan, menatap aspal. 'Rumah kami diratakan untuk proyek—proyek yang, bertahun-tahun kemudian, kutahu milik perusahaan yang sama yang kemudian kumasuki. Ironi, kan? Ibuku menangis tiap malam. Bapakku sakit dan tak pernah sembuh. Dan aku—aku bersumpah saat itu, di reruntuhan rumah kami, bahwa aku tak akan pernah lagi jadi orang yang tak berdaya. Tak akan pernah jadi yang digusur. Aku akan jadi yang menggusur. Karena di dunia ini cuma ada dua: yang memakan, atau yang dimakan.' Ia mengangkat wajahnya, dan air mata mengalir tanpa ekspresi di pipinya yang abu-abu. 'Maka ketika dia datang menawariku kekuasaan—menawariku jadi tangan yang menandatangani, bukan yang ditandatangani—aku bilang ya. Aku tak tanya harganya. Sekarang aku tahu harganya. Dia tidak membayarku dengan uang. Dia membayarku dengan memakanku, sedikit demi sedikit, dari dalam.'
Nayla berdiri membeku, dan dunia seolah miring. Karena ia mengenali setiap kata itu. Keluarga digusur. Rumah diratakan. Sumpah di reruntuhan. Marah yang berubah jadi tekad. Itu adalah kisahnya sendiri—lukanya sendiri—diceritakan kembali oleh seseorang yang membuat pilihan yang berbeda di persimpangan yang sama. Renata adalah dirinya, kalau dirinya yang dulu, marah dan terluka, telah mengambil jalan lain. Renata adalah cermin gelap, retak, yang memperlihatkan ke mana lukanya bisa membawanya.
'Aku menceritakan ini,' kata Renata, suaranya nyaris habis, 'bukan untuk minta dimaafkan. Tak ada yang memaafkanku, dan tak seharusnya. Aku ceritakan ini karena—' ia menatap Nayla lekat-lekat, '—karena kau punya luka yang sama denganku, dan dia tahu itu, dan dia akan mendatangimu lewat luka itu seperti dia mendatangiku. Dan aku ingin kau tahu, sebelum aku habis sama sekali, bahwa ada jalan lain. Aku tak mengambilnya. Tapi kau bisa.' Ia tersenyum, mengerikan dan sedih. 'Bedanya kau dan aku, Nayla? Aku sendirian di reruntuhan itu. Tak ada yang menemaniku. Tak ada orang tua bijak. Tak ada teman. Cuma aku dan marahku. Dan marah yang sendirian selalu kalah pada lapar.' Ia membuka pintu mobil. 'Kau tidak sendirian. Itu satu-satunya perbedaan. Tapi itu segalanya.'
Ia masuk ke mobil sebelum Nayla bisa berkata apa-apa, dan mobil hitam itu meluncur pergi ke dalam gelap. Nayla berdiri lama di trotoar yang sepi, gemetar, sampai akhirnya ia menelepon Ki Lawu dengan tangan bergetar dan menceritakan semuanya.
Ki Lawu mendengarkan dalam diam panjang. Lalu ia berkata, pelan, 'Maka aku tahu sekarang kenapa kau bisa diselamatkan, Nak, dan dia tidak. Bukan karena kau lebih kuat. Atau lebih baik. Tapi karena di reruntuhan rumahmu, suatu hari, ada yang datang menemani—Bu Sari, aku, kawan-kawanmu. Dan marah yang ditemani bisa berubah jadi keadilan. Marah yang sendirian cuma jadi lapar.' Ia diam sebentar. 'Renata memberimu hadiah terakhir malam ini, Nayla. Ia memperlihatkan padamu siapa kau seandainya tak ada yang menemanimu. Dan dengan begitu, ia memberimu alasan untuk berakar lebih kuat pada yang menemanimu.'