Masalahnya, sebagaimana Nayla jelaskan dengan sabar yang makin tipis, adalah ini: di kota, kau tidak ada kalau negara bilang kau tidak ada.
"Bapak nggak punya KTP," Nayla berkata sambil mengaduk teh. "Artinya nggak bisa sewa kamar resmi, nggak bisa buka rekening, nggak bisa daftar kerja, nggak bisa berobat pakai BPJS, nggak bisa apa-apa. Di mata sistem, Bapak hantu."
Ki Lawu menimbang kata itu. "Aku memang bukan hantu. Tapi menarik bahwa kalian punya kertas yang menentukan siapa yang nyata." Ia mengangguk pelan, seperti baru memahami tatanan dunia baru. "Di desaku, yang menentukan kau nyata adalah apakah tanah mengenalmu. Di sini, beringinnya bernama kelurahan."
Nayla menatapnya. "...Sebenernya itu nggak salah-salah amat."
Maka berangkatlah mereka. Bu Sari, yang sudah resmi terseret ke dalam kekacauan ini dan diam-diam mulai menyayangi tamu anehnya yang sopan kuno, ikut menyumbang baju almarhum suaminya yang ukurannya hampir pas, hanya sedikit pendek di lengan. Untuk pertama kalinya Ki Lawu mengenakan kemeja batik yang layak, dan ia berdiri di depan cermin retak kost dengan kening berkerut, takjub dan ngeri pada wajah tua yang balas menatapnya.
"Aku terlihat seperti lurah," gumamnya.
"Bagus," kata Nayla. "Lurah palsu lebih dipercaya daripada gembel. Ayo."
Perjalanan ke kelurahan adalah penyiksaan yang halus dan panjang. Nayla memesan ojek online, dan Ki Lawu menolak keras naik benda beroda dua yang mengaum itu. "Aku menjaga keselamatan warga selama ratusan tahun," katanya, "aku tidak akan mati konyol dipeluk besi yang ngebut." Mereka akhirnya jalan kaki, dan sepanjang jalan Ki Lawu berhenti di tiap pohon pinggir jalan untuk menyapa, di tiap sumur tua untuk menunduk, hingga Nayla harus menarik lengannya seperti menarik balita di pasar.
Di kelurahan, mereka bertemu musuh yang tak bisa dilawan dhanyang mana pun: antrean dan formulir. Ki Lawu, yang biasa menengahi sengketa antaralam dengan sepatah dua patah bijak, terkulai di kursi plastik selama tiga jam sambil memegang nomor antrean. Ketika gilirannya tiba, petugas bertanya alamat asal, dan Ki Lawu menjawab jujur menyakitkan seperti biasa: "Saya tinggal di akar beringin keramat Desa Sumberwangi sejak masa Kompeni belum datang."
Petugas itu menatapnya lama. Nayla cepat-cepat menyela, "Maaf Bu, kakek saya pikun. Maksudnya Sumberwangi, dusun di kaki gunung. Dokumennya kebakar waktu desanya digusur kemarin, ada beritanya kok."
Dan di sini—Nayla baru sadar belakangan—pertama kali Ki Lawu benar-benar berguna. Ketika petugas yang malas itu hendak mengusir mereka, datang seorang calo, pria licin berkemeja rapi yang berbisik bahwa "semua bisa diatur" asal ada uang pelicin. Ki Lawu mengangkat wajah, menghirup udara di dekat pria itu, lalu keningnya mengernyit jijik—bukan jijik sombong, tapi jijik seperti orang mencium bangkai di balik parfum.
"Orang ini berbau busuk," kata Ki Lawu pelan, hanya pada Nayla. "Bukan badannya. Niatnya. Ia sudah menipu banyak orang yang putus asa seperti kita. Bau dengkinya bertumpuk seperti got mampet. Jangan beri ia apa pun."
Nayla menatap pria itu, lalu menatap Ki Lawu. Ada keyakinan dingin di mata tua itu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menggeleng pada si calo. Si calo tersenyum tipis, menyerah, lalu pindah ke korban berikutnya—seorang ibu muda yang kebingungan dengan map basah oleh keringat. Dua hari kemudian Nayla mendengar dari satpam kelurahan bahwa si calo akhirnya tertangkap karena menipu belasan orang dengan janji surat tanah palsu. Persis seperti yang dicium Ki Lawu.
Urusan KTP sendiri tidak selesai hari itu—tentu saja tidak, ini birokrasi—tapi seorang petugas yang lebih muda dan lebih berhati, yang Ki Lawu diam-diam doakan untungnya dalam batas paling aman yang ia berani, menunjukkan jalur untuk mengurus surat keterangan kehilangan dan pengakuan domisili lewat Bu Sari sebagai penjamin. "Butuh waktu, Pak," kata petugas muda itu. "Tapi bisa. Pelan-pelan."
"Pelan-pelan," ulang Ki Lawu di perjalanan pulang, mencicipi frasa itu. "Kota ini sebenarnya tahu rahasia tanah: tidak ada yang tumbuh cepat tanpa harga. Hanya saja kalian menamainya 'antre' dan 'syarat', bukan 'kesabaran' dan 'rasa hormat'."
Nayla, yang lelah dan lapar, mendengus. "Bapak ini ngomong filosofis terus tapi tadi keok sama mesin antrean."
"Mesin antrean," Ki Lawu mengangguk khidmat, "adalah lawan paling tangguh yang pernah kuhadapi dalam tiga ratus tahun."
Untuk pertama kalinya, Nayla tertawa. Tawa sungguhan, sampai ia harus berhenti jalan. Dan Ki Lawu, melihatnya tertawa, merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan sejak beringin tumbang: setitik hangat, semacam rezeki kecil yang justru datang padanya, bukan dari tanah, tapi dari seorang manusia yang mulai tak menganggapnya gila. Ia menyimpan hangat itu baik-baik. Di kota tanpa tanah, itu mungkin satu-satunya simpanan yang tak mengikis umurnya.