Tanah hidup yang baru tumbuh adalah rumah yang menunggu penghuni, dan Ki Lawu tahu persis siapa yang membutuhkannya. Maka ketika cukup banyak titik hijau telah bernapas, ia kembali ke kolong jembatan tempat roh-roh tersesat berlindung—penunggu sumur tua yang sumurnya sudah ditimbun, penjaga pohon kenari yang pohonnya sudah ditebang, dhanyang sungai kecil yang sungainya sudah dibeton, dan yang lain, kumpulan makhluk terlempar yang selama ini bergantung pada belas kasih Ki Lawu untuk tidak menjadi lapar.
Mereka berkumpul dalam gelap lembap kolong, hawa mereka tipis dan gemetar, dan Ki Lawu berdiri di hadapan mereka bukan lagi sebagai sesama korban, tapi sebagai sesuatu yang lebih—tetua, pemimpin, meski ia sendiri sekarat. Ia tak nyaman dengan peran itu, tak pernah, tapi ia menerimanya karena tak ada yang lain.
'Aku punya kabar,' katanya kepada mereka. 'Dan aku punya tawaran. Kabarnya menakutkan. Tawarannya—' ia berhenti, mencari kata, '—tawarannya adalah rumah.'
Ia menceritakan tentang mulut yang dibangun untuk menelan kota, tentang Tuan Wibawa yang adalah makhluk lapar, tentang groundbreaking yang adalah pembukaan mulut. Roh-roh itu gemetar makin hebat; sebagian, yang paling lemah, mulai memancarkan hawa dingin yang berbahaya—hawa lapar, hawa makhluk yang nyaris menyerah pada kekosongan. Ki Lawu cepat-cepat melanjutkan ke tawarannya, karena ia tahu ketakutan tanpa harapan adalah pupuk bagi lapar.
'Tapi ada cara,' katanya. 'Kalian tahu kenapa kalian melemah? Karena tak ada tanah yang mengakui kalian. Sumur kalian ditimbun, pohon kalian ditebang, sungai kalian dibeton. Kalian jadi roh tanpa tanah, seperti aku jadi dhanyang tanpa beringin. Dan roh tanpa tanah, perlahan, jadi lapar.' Ia menatap mereka satu per satu. 'Tapi sekarang ada tanah baru. Tanah hidup. Petak-petak kecil yang ditumbuhkan ulang oleh manusia kota, dirawat dengan tulus. Tanah-tanah itu butuh penjaga. Dan kalian butuh tanah.' Ia membuka kedua tangannya. 'Aku tidak menawari kalian sesaji. Aku menawari kalian pekerjaan. Rumah dengan tanggung jawab. Sebuah pos.'
Seekor roh tua—penunggu sumur—bergerak maju, hawanya yang tipis bergetar. 'Kami sudah terlalu lemah untuk menjaga apa-apa,' suaranya seperti angin di leher botol kosong. 'Apa gunanya rumah untuk yang nyaris mati?'
'Justru rumah yang menyembuhkan,' kata Ki Lawu. 'Tanah yang mengakui kalian akan memberi makan kalian—bukan dengan sesaji, tapi dengan pengakuan. Sama seperti pekarangan kost mulai mengakuiku, dan aku berhenti mengikis umur tiap napas. Beri aku percaya kalian sekali ini. Ikut aku.'
Maka dimulailah perpindahan yang paling ganjil dalam sejarah kota yang tak pernah tahu ia sedang menampung makhluk-makhluk purba di pojok-pojoknya. Satu per satu, malam demi malam, Ki Lawu menempatkan roh-roh tersesat itu di pos mereka. Penunggu sumur tua ia bawa ke embung kecil yang baru digali warga di belakang masjid—sumber air buatan, tapi air yang dirawat, dan penunggu itu, ketika menyentuh air baru itu, untuk pertama kalinya sejak sumurnya ditimbun, menjadi sedikit lebih padat, sedikit lebih hidup. Penjaga pohon kenari ia bawa ke pohon ketapang muda yang ditanam anak-anak SD di taman kelurahan—bukan kenari, tapi pohon, dan pohon yang dicintai, dan roh itu merangkul batang muda itu seperti orang yang menemukan keluarga setelah lama hilang.
Tapi yang paling membuat Ki Lawu terharu adalah roh asam tua dari lahan kosong—roh yang dulu nyaris lupa namanya sendiri, yang nyaris jadi lapar, yang dulu memperingatkan Ki Lawu tentang makhluk yang mengincar Nayla. Ki Lawu membawanya ke sebuah taman kecil, dulu tempat pembuangan sampah liar, kini disulap mahasiswa Yuni menjadi taman baca dengan beberapa pohon dan bangku-bangku dari ban bekas. Di taman itu ada satu pohon asam muda yang sengaja ditanam—Nayla yang mengusulkan, mengingat roh tua itu.
Ki Lawu menuntun roh asam itu ke pohon muda tersebut. Untuk waktu yang lama, roh itu hanya melayang ragu, seperti orang yang takut percaya pada kebahagiaan. Lalu, perlahan, ia menyentuh batang pohon asam muda itu, dan tanah di sekelilingnya—tanah yang dirawat, tanah yang hidup—bergetar mengakuinya.
Dan roh tua itu, yang dulu nyaris lupa namanya, tiba-tiba berkata, dengan suara yang lebih jelas dari yang pernah Ki Lawu dengar darinya, 'Aku ingat. Aku ingat namaku.' Ia mengucapkannya—nama tua yang tak lagi penting bagi siapa pun di kota, tapi penting baginya, penting bagi keberadaannya. 'Aku Mbah Asem. Penjaga tegalan. Aku ingat.'
Ki Lawu merasakan matanya panas. Ia, yang sudah kehilangan begitu banyak ingatan sendiri, menyaksikan satu makhluk menemukan kembali miliknya, dan itu terasa seperti janji—janji bahwa yang hilang tidak selalu hilang selamanya, bahwa akar yang dipotong bisa tumbuh lagi di tanah baru.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Nayla bertanya, 'Berapa pos sudah terisi, Pak?'
'Cukup untuk mulai,' kata Ki Lawu. 'Tiap roh di pos adalah satu pasak yang berhenti lapar dan mulai menjaga. Kaum yang terlempar mulai punya tempat.' Ia menatap kota yang berkelap-kelip. 'Mereka terlupakan oleh kota. Tapi malam ini, sebagian dari mereka pulang—ke rumah yang bahkan kota tak tahu sedang mereka bangun.'