Mengubah gagasan jadi gerakan ternyata jauh lebih sulit daripada memahaminya, dan jauh lebih lucu. Ki Lawu dan Nayla menghabiskan minggu-minggu berikutnya menjadi sepasang penyuluh tanaman yang paling tidak biasa di Jakarta—seorang gadis arsitektur dengan tas ransel penuh proposal, dan seorang lelaki tua yang bicara pada pot seolah pot itu bisa tersinggung.
Mereka mulai dari yang sudah ada. Gang kost Bu Sari sudah jadi gang hijau percontohan, dan kelurahan—yang dulu nyaris memanggil satpam untuk Ki Lawu—kini bangga menjadikannya etalase. Nayla memanfaatkan itu. Ia menyusun proposal 'Seribu Titik Hijau' dengan bahasa yang dimengerti birokrasi: penghijauan, resapan air, pengurangan banjir, kampung iklim. Tak sekali pun ia menyebut tabir, makhluk lapar, atau pagar gaib. 'Kalau aku tulis yang sebenarnya,' katanya pada Ki Lawu sambil mengetik, 'kita berdua yang masuk rumah sakit jiwa, bukan Pak Hendra. Jadi kita bungkus pakai bahasa yang mereka percaya.'
Ki Lawu tidak mengerti separuh istilah dalam proposal itu—'koefisien wilayah terbangun', 'biopori', 'ruang terbuka hijau'—tapi ia mengerti hal yang lebih penting: bahwa kebenaran kadang harus berjalan menyamar untuk bisa masuk pintu. Sama seperti makhluk lapar menyamar jadi Tuan Wibawa untuk memakan tanah, kebaikan bisa menyamar jadi 'program kampung iklim' untuk menyelamatkannya. Ia menemukan ironi itu menyenangkan.
Gerakan itu menyebar dengan cara yang tak terduga, dan justru lewat orang-orang kecil yang selama ini terlupakan kota. Pak Karyo menjadi duta tak resmi—di tiap rute sampahnya, ia berhenti, mengobrol dengan ibu-ibu, membagikan bibit dalam gelas plastik bekas, mengajari membuat lubang resapan dari botol bekas. 'Bukan saya yang ngajarin,' ia selalu bilang merendah. 'Saya cuma tukang sampah. Tapi ada bapak tua yang ngajarin saya, dan tanaman dia nggak pernah mati.' Dan dari mulut ke mulut, di pasar, di pos ronda, di antrean puskesmas, cerita tentang 'bapak tua yang tanamannya nggak pernah mati' menyebar—bukan sebagai dukun banjir kali ini, tapi sebagai sesepuh tanaman.
Mbak Yuni, yang dulu nyaris ditelan utang dan lukanya, kini menjadi penggerak yang paling bersemangat. Ia membawa gerakan itu ke kampus, ke teman-teman mahasiswa yang punya tenaga dan idealisme tapi tak tahu harus disalurkan ke mana. Mereka datang berbondong-bondong di akhir pekan—anak-anak muda dengan kaus oblong dan sandal jepit, menggali lahan kosong yang dulu jadi tempat sampah liar, mengangkut tanah, menanam, dan tertawa-tawa, tak sadar mereka sedang menegakkan pasak melawan sesuatu yang lebih tua dari kota mereka.
Komedi mengikuti ke mana pun Ki Lawu pergi. Di satu kampung, ibu-ibu PKK memintanya menjadi pembicara seminar 'Tips Berkebun', dan Ki Lawu—yang tidak tahu apa itu seminar—berdiri kaku di depan puluhan orang dan, ketika ditanya rahasia tanaman subur, menjawab dengan sangat serius, 'Diajak ngomong. Ditanya kabarnya. Jangan cuma disiram kalau ingat.' Ibu-ibu itu tertawa, mengira itu lelucon manis seorang kakek, dan menerapkannya—dan tanaman mereka, anehnya, memang jadi lebih subur, karena orang yang mengajak bicara tanamannya adalah orang yang memperhatikannya, dan tanaman yang diperhatikan adalah tanaman yang dirawat.
Di kampung lain, seorang bapak yang skeptis mengejeknya, 'Emang tanaman bisa denger, Pak?' Dan Ki Lawu, tanpa marah, cuma menjawab, 'Bapak, kalau saya nyiram tanaman Bapak tiap hari, ngecek daunnya, ngebersihin hamanya—Bapak pikir tanaman itu peduli saya percaya dia bisa denger atau enggak? Dia cuma butuh dirawat. Sama kayak Bapak. Bapak juga nggak peduli orang percaya Bapak punya perasaan atau enggak, asal diperlakuin baik.' Bapak itu terdiam, lalu mulai menyiram tanamannya tiap hari, dan tanpa sadar menjadi salah satu pasak pagar.
Nayla, di malam hari, menandai peta dindingnya. Tiap titik hijau baru ia tandai dengan paku payung hijau—warna yang sengaja ia pilih sebagai lawan dari paku merah tabir bocor. Dan perlahan, minggu demi minggu, dinding itu berubah. Paku hijau mulai tumbuh di sekitar paku merah, mengepungnya, seperti antibodi mengepung luka.
'Pak,' kata Nayla suatu malam, mundur dari peta. 'Lihat. Tiga titik tabir bocor sekarang sudah dikelilingi tanah hidup. Yang di dekat pasar itu—kau bilang baunya sudah berubah, kan?'
Ki Lawu mengangguk. 'Menipis. Tabir di situ menebal lagi. Tanah mulai menjahit sendiri.' Ia menatap peta itu, ratusan paku hijau yang masih jauh dari cukup, tapi nyata. 'Kita masih jauh dari menutup mulut besar di tengah. Tapi kita sudah membuktikan satu hal.'
'Apa?'
'Bahwa kota ini belum mati,' kata Ki Lawu pelan. 'Ia cuma lupa cara hidup. Dan lupa bisa diingatkan.' Ia tersenyum, lelah tapi nyata. 'Makhluk lapar membangun kerajaannya dengan satu tangan besar yang memakan. Kita membangun pagar dengan ribuan tangan kecil yang merawat. Lihat nanti, Nak, mana yang lebih kuat.'