Mereka kembali ke sungai tua itu tiga malam berturut-turut, karena penjaga Ciliwung yang nyaris bisu hanya bisa memberikan sedikit demi sedikit, seperti orang sangat tua yang harus beristirahat di antara tiap kalimat. Ki Lawu membawakannya tanah—segenggam dari pot hidup di kost, tanah yang sudah mulai bernapas—dan tiap kali ia meletakkan tanah itu di celah beton, penjaga tua itu menjadi sedikit lebih jelas, sedikit lebih mampu mengingat, dan memberikan satu keping lagi dari pengetahuan yang nyaris terkubur.
Pada malam ketiga, kepingan-kepingan itu akhirnya menyatu jadi sesuatu yang utuh, dan Ki Lawu menuturkannya kepada Nayla dan Pak Karyo dalam perjalanan pulang, di warung kopi pinggir jalan yang masih buka, di bawah lampu neon yang berkedip.
'Cara lama mengurung makhluk lapar,' kata Ki Lawu, melingkari gelas kopinya dengan kedua tangan untuk menghangatkan jari, 'tidak butuh kekuatan besar. Ini yang penting. Makhluk lapar tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan—ia adalah kekosongan, dan kau tak bisa memukul kekosongan, tak bisa membakarnya, tak bisa menebasnya. Semakin kau serang, semakin ia menelan seranganmu.'
Nayla mencatat di buku kecilnya, kebiasaan arsiteknya. 'Jadi bagaimana dulu mereka mengurungnya?'
'Dengan banyak,' kata Ki Lawu. 'Banyak penjaga, di banyak tanah hidup, mengikat tabir dari banyak titik sekaligus.' Ia mengambil tusuk gigi dari wadahnya dan mulai menatanya di atas meja, membentuk lingkaran. 'Bayangkan mulut yang hendak terbuka. Kalau kau mau menahannya tetap tertutup, kau tak bisa cuma menekan satu titik—mulut itu akan terbuka di tempat lain. Tapi kalau kau punya banyak tangan, masing-masing menekan satu titik di sekeliling bibir mulut itu, serentak—' ia menekan ujung-ujung tusuk gigi ke bawah, '—mulut itu tidak bisa terbuka. Tertahan dari segala arah. Itu pagar. Bukan satu dinding besar. Tapi banyak pasak kecil, di banyak tanah hidup, yang masing-masing menahan setitik tabir.'
Pak Karyo menatap tusuk-tusuk gigi itu, lalu menatap Ki Lawu. 'Tapi penjaga sekarang tinggal Bapak. Sama sungai tua yang nyaris jadi batu. Sama roh-roh kolong yang setengah lapar.'
'Itu masalahnya,' Ki Lawu mengangguk berat. 'Dulu ada ratusan penjaga, karena dulu ada ratusan tanah hidup yang dirawat dan dicintai. Tiap mata air punya penunggu, tiap pohon tua punya penjaga, karena manusia masih menghormati mereka, masih memberi tempat, masih merawat. Penjaga lahir dari tanah yang dicintai. Tanpa tanah hidup, penjaga mati. Dan kota ini—' ia menyapukan tangan ke arah jalanan yang dipenuhi beton dan aspal, '—kota ini sudah membunuh hampir semua tanah hidupnya. Maka ia juga sudah membunuh hampir semua penjaganya. Tinggal sisa-sisa, di pojok-pojok terlupakan, setengah mati.'
'Jadi rencananya mustahil,' kata Nayla pelan, dan ada keputusasaan di suaranya. 'Kita butuh banyak penjaga di banyak tanah hidup. Tapi tanah hidup nyaris habis, dan penjaga nyaris punah. Untuk membuat pagar, kita butuh persis hal yang sudah tidak ada lagi.'
Ki Lawu diam lama. Ia menatap tusuk-tusuk gigi yang membentuk lingkaran di atas meja, lalu menatap gelas kopinya, lalu menatap—tanpa sengaja—pot kecil di sudut warung, pot cabai milik si penjual kopi, yang daunnya hijau dan sehat karena dirawat tiap pagi. Dan sesuatu bergerak di kepalanya, perlahan, seperti tanah yang mulai bernapas.
'Tidak,' katanya pelan. 'Tidak mustahil. Cuma terbalik.'
Nayla mengangkat kepala. 'Terbalik?'
'Dulu pagar dibuat oleh penjaga yang sudah ada, karena tanah hidup sudah ada,' kata Ki Lawu, dan suaranya mulai bergetar dengan sesuatu yang Nayla belum pernah dengar—bukan ketakutan, tapi sebuah gagasan yang terlalu besar untuk ditampung dadanya. 'Tapi kita tidak punya itu. Kita harus membuat tanah hidupnya dulu. Kita harus menumbuhkan ulang tanah yang dicintai, di banyak titik, dan dari tanah-tanah itu, penjaga bisa lahir lagi—atau penjaga lama yang setengah mati bisa hidup lagi, diberi rumah, jadi pasak.' Ia menunjuk pot cabai di sudut. 'Lihat itu. Tanah hidup. Dirawat. Dicintai. Pemiliknya tak tahu, tapi ia sedang menjaga setitik tanah dari mulut lapar. Kalau ada seribu pot seperti itu, di seribu sudut kota, masing-masing dirawat dengan tulus—'
'—itu pagar,' bisik Nayla, dan matanya melebar. 'Pagar raksasa. Dibuat dari pot-pot dan got bersih dan pohon yang ditanam ulang.'
'Mulut itu mau menelan kota,' kata Ki Lawu, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ada api kecil di matanya. 'Tapi kalau kota mau menumbuhkan tanahnya lagi—cukup banyak tanah, dirawat cukup tulus, di cukup banyak titik—maka tidak ada lagi kekosongan untuk ditelan. Mulut itu mengatup pada tanah yang hidup, dan tanah yang hidup tidak bisa ditelan. Hanya tanah mati, tanah yang tak dicintai, yang bisa dimakan.'
Mereka bertiga duduk dalam diam yang berbeda dari diam sebelumnya—diam yang penuh, bukan kosong. Tujuannya, akhirnya, terkristal. Bukan membunuh makhluk—itu mustahil. Bukan melawannya dengan kekuatan—itu konyol. Tapi menghidupkan tanah kota. Membuat pagar dari ratusan, ribuan kebaikan kecil. Mengubah kampanye gang hijau yang dulu mereka anggap remeh menjadi senjata melawan sesuatu yang purba.
'Mustahil cuma kalau kita pikir kita harus melakukannya sendiri,' kata Ki Lawu pelan, mengumpulkan tusuk-tusuk giginya. 'Tapi kita tidak menanam sendiri. Kita mengajak kota menanam. Dan kota—kota ini penuh orang kecil yang masih ingat cara merawat, kalau saja ada yang menunjukkan jalannya.'
Pak Karyo tersenyum lebar, gigi-giginya kuning oleh tembakau. 'Wah,' katanya. 'Berarti besok subuh saya nyapu sambil nyebar bibit. Sekalian.'