Pak Karyo mendengarkan seluruh cerita itu di teras kost, subuh-subuh, ketika gang masih sepi dan sapunya bersandar di dinding. Ia tidak terkejut—lelaki tukang sampah yang sejak kecil bisa melihat yang halus itu jarang terkejut—tapi ia menjadi sangat diam, dan kediamannya membuat Ki Lawu cemas.
'Kalau yang Bapak lawan sebesar itu,' kata Pak Karyo akhirnya, 'Bapak nggak bisa tanya sama saya. Saya cuma bisa lihat, saya nggak bisa ngerti. Bapak harus tanya sama yang lebih tua dari Bapak.'
'Lebih tua dariku?' Ki Lawu hampir tertawa getir. 'Aku sudah ratusan tahun, Karyo.'
'Ada yang lebih tua,' kata Pak Karyo, dan ia menatap ke arah utara, ke arah sungai yang membelah kota. 'Di bawah jembatan tua, di tempat sungai dibeton paling tebal. Penunggunya udah nggak bisa ngomong, Pak. Udah nyaris jadi batu. Tapi dia masih ada. Saya kadang nyapu di situ, dan saya tahu dia masih ada karena air di situ rasanya beda—lebih tua, lebih sedih. Penjaga sungai Ciliwung. Yang udah di situ jauh sebelum ada kota.'
Mereka pergi sore itu, ketika cahaya mulai miring dan keemasan. Tempat itu adalah bagian sungai yang paling tak ingin dilihat orang—dinding beton tinggi di kedua sisi, air keruh berbau, sampah tersangkut di tiang-tiang, sebuah jembatan tua yang sudah digantikan jembatan baru di sebelahnya sehingga ia berdiri di sana tanpa guna, terlupakan. Pak Karyo memimpin mereka turun lewat tangga darurat yang berkarat, ke bibir sungai tempat beton bertemu air.
Di sana, di celah antara dua lempeng beton raksasa, di tempat yang nyaris tak menyisakan tanah, Ki Lawu merasakannya. Bukan getaran tabir. Bukan hawa lapar. Sesuatu yang lebih dalam, lebih lambat, seperti detak jantung yang melambat menjelang tidur abadi. Ia berjongkok di tepi air kotor itu dan menempelkan telapaknya ke beton dingin yang basah.
'Sedulur tua,' ia berbisik dalam bahasa yang lebih tua dari bahasa mana pun di kota itu, bahasa yang ia sendiri nyaris lupa. 'Aku Lawu. Dari Sumberwangi. Terlempar seperti kau pernah terkubur.'
Untuk waktu yang lama, tidak ada apa-apa. Hanya gemericik air kotor, klakson dari jalan layang di atas, suara kota yang acuh. Lalu—pelan, seperti gelembung yang naik dari dasar lumpur—sesuatu menjawab. Bukan suara. Bukan kata. Tapi gambar, yang masuk langsung ke kepala Ki Lawu, pecah-pecah seperti cermin yang retak.
Ia melihat sungai yang lebar dan jernih, dikelilingi hutan, jauh sebelum ada beton. Ia melihat manusia-manusia pertama yang memberi sesaji, yang menghormati. Ia melihat penjaga sungai itu dalam wujudnya yang dulu—besar, anggun, dipenuhi air dan ikan dan kehidupan. Lalu gambar-gambar itu mempercepat, semakin gelap: hutan ditebang, sungai dipersempit, dibeton, dijadikan got raksasa, dilupakan. Dan penjaga itu menyusut, menyusut, sampai tinggal detak jantung pelan di celah beton.
Lalu satu gambar terakhir, dan ini yang membuat Ki Lawu tersentak mundur sampai nyaris jatuh ke air. Sebuah gambar dari masa yang sangat, sangat lama—lebih tua dari kota, lebih tua dari sungai dalam wujud sekarang. Banyak penjaga, ratusan, dari seluruh penjuru tanah, berkumpul. Dhanyang gunung, penunggu sungai, roh-roh pohon dan mata air dan batu karang. Dan mereka, bersama-sama, dengan tanah dari ratusan tempat hidup, mengikat sesuatu di seberang tabir. Sesuatu yang lapar. Sesuatu yang berbentuk kekosongan. Mereka tidak membunuhnya—gambar itu jelas, mereka tidak bisa membunuhnya—mereka mengurungnya, dengan menjadi pagar dari banyak titik sekaligus, dengan tanah hidup yang mengikat tabir dari segala arah.
Dan gambar terakhir: pagar itu retak. Robek. Di satu titik—di kaki sebuah gunung, di sebuah desa, di sebuah beringin yang ditebang. Sumberwangi. Robekan yang melempar Ki Lawu ke kota adalah robekan yang melepaskan tahanan tua itu.
Ki Lawu duduk terengah di bibir sungai, basah oleh percikan dan oleh keringat dingin. Nayla dan Pak Karyo menatapnya cemas, tak melihat apa yang ia lihat.
'Apa katanya, Pak?' tanya Nayla.
'Ia bilang,' Ki Lawu menelan, suaranya gemetar, 'aku bukan penyebabnya. Penggusuran desaku bukan awal dari segalanya—ia cuma membuka pintu penjara yang sudah dibangun ribuan tahun lalu.' Ia menatap air kotor itu, menatap penjaga tua yang nyaris jadi batu. 'Makhluk lapar pernah dikurung. Oleh penjaga-penjaga lama, bersama-sama, dari seluruh Nusantara. Dan aku—' ia menelan lagi, '—aku bukan korban tunggal yang kebetulan terlempar. Aku pewaris. Salah satu dari sedikit penjaga yang tersisa, yang kebetulan terlempar ke tempat di mana ia harus dikurung lagi.'
Pak Karyo menunduk, dan dengan caranya yang sederhana, ia berkata hal yang paling tepat. 'Berarti Bapak nggak nyasar, Pak. Bapak dikirim.'
Ki Lawu menatap lelaki tukang sampah itu, lalu menatap sungai tua yang masih bertahan di celah beton, masih bernapas pelan, masih menolak mati sepenuhnya. Dan ia merasakan, untuk pertama kalinya, beban tugasnya bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai warisan. Ia tidak sendirian dalam sejarah. Ia hanya yang terakhir berdiri.