Peta itu sudah ada sejak lama, tergeletak di dinding kamar Nayla—peta Jakarta yang ditempeli paku payung merah di tiap titik tabir bocor yang mereka temukan, hasil kerja berminggu-minggu menggabungkan kabar Pak Karyo, firasat Ki Lawu, dan otak arsitek Nayla. Selama ini titik-titik itu tampak seperti taburan acak, kesialan yang tersebar. Tapi malam itu, dengan pemahaman baru tentang siapa Tuan Wibawa, Nayla menarik kursi mundur, memandang peta itu dari jauh, menyipitkan mata seperti yang diajarkan dosennya untuk melihat pola dalam denah—dan ia melihatnya.
'Pak,' suaranya nyaris tak terdengar. 'Pak, kemari.'
Ki Lawu mendekat. Ia tak bisa membaca peta seperti Nayla, tapi ia bisa merasakan tanah, dan ketika ia menempelkan telapaknya di dinding, di atas paku-paku payung merah itu, ia merasakan getaran tipis yang sama dengan yang dirasakannya di lahan kosong dulu—getaran tabir yang menipis.
'Lihat,' kata Nayla, menarik benang merah dari satu paku ke paku lain, lalu ke lain lagi, tangannya gemetar. 'Selama ini aku pikir titik-titik ini mengelilingi kawasan proyek Cakra Bumi secara kebetulan. Tapi mereka tidak mengelilinginya. Mereka membentuk lingkaran. Lingkaran yang hampir sempurna. Dan pusat lingkaran itu—' jarinya berhenti di satu titik di tengah, sebuah kawasan luas yang ditandai dengan kotak besar, '—superblok. Pusat proyek mereka.'
Ki Lawu menatap lingkaran benang merah itu, dan rasa dingin yang sudah jadi teman tetapnya kembali. Lingkaran. Ia mengenal lingkaran. Di kampungnya, ketika seorang dukun hendak memanggil sesuatu dari seberang, ia menggambar lingkaran—bukan untuk mengurung, tapi untuk membuka. Lingkaran adalah mulut yang sedang dibentuk.
'Tiap penggusuran merobek tabir setitik,' kata Ki Lawu pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Nayla. 'Aku pikir robekan-robekan itu kebocoran. Kerusakan sampingan. Tapi tidak. Mereka tidak bocor sembarangan. Mereka dirobek di tempat-tempat tertentu, dengan jarak tertentu, membentuk—' ia menunjuk benang merah, '—membentuk bibir.'
'Bibir?'
'Bibir mulut,' kata Ki Lawu, dan suaranya membuat Nayla merinding. 'Tiap robekan adalah satu titik di tepi mulut. Sendiri-sendiri, mereka cuma luka kecil, sembuh perlahan kalau tanah dirawat. Tapi kalau cukup banyak robekan saling terhubung, melingkar—' ia menarik napas, '—mereka berhenti jadi luka-luka kecil. Mereka jadi satu mulut besar. Dan mulut besar di jantung kota, yang dibuka serentak, bisa menelan bukan cuma satu petak tanah. Bisa menelan semua tanah hidup yang tersisa di kota ini sekaligus. Semua roh yang tersisa. Semua akar yang masih bernapas di bawah beton.'
Nayla duduk perlahan di tepi dipan, kakinya tak kuat menahan. Sebagai mahasiswa arsitektur, ia pernah membaca masterplan superblok itu—gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, kawasan terpadu yang dijual sebagai 'kota dalam kota', simbol kemajuan. Ia pernah, seperti banyak orang, sedikit mengaguminya. Sekarang ia memahami bahwa seluruh kemegahan itu, seluruh maket mengkilap di lobi pemasaran itu, adalah desain sebuah perangkap. Kota dibangun bukan untuk dihuni. Kota dibangun untuk memakan kota.
'Groundbreaking,' kata Nayla tiba-tiba, dan wajahnya kehilangan warna sepenuhnya. 'Pak. Seremoni groundbreaking superblok. Cakra Bumi sudah mengumumkan tanggalnya. Pemasangan tiang pertama. Aku pikir itu cuma acara seremonial, gunting pita, foto-foto pejabat.' Ia menatap Ki Lawu. 'Tapi kalau pusat lingkaran ini adalah mulut, dan groundbreaking adalah saat mereka menancapkan pasak pertama di tengahnya—'
'Maka itu bukan seremoni,' kata Ki Lawu. 'Itu pembukaan mulut.'
Mereka berdiri dalam diam panjang di depan peta itu, dua orang—satu manusia muda, satu roh tua yang nyaris kehabisan dirinya—menatap rencana yang skalanya jauh melampaui apa pun yang pernah mereka bayangkan ketika ini semua dimulai sebagai pria aneh yang bicara pada pohon palem. Yang dipertaruhkan bukan lagi nyawa Ki Lawu yang memudar, bukan lagi luka Nayla, bukan lagi satu gang kost. Yang dipertaruhkan adalah setiap petak tanah yang masih hidup di seluruh kota, dan setiap roh terlupakan yang berlindung di pojok-pojoknya.
'Aku satu-satunya penjaga yang tahu,' kata Ki Lawu pelan, dan beban kalimat itu membuatnya tampak lebih tua dari yang pernah Nayla lihat. 'Satu penjaga sekarat. Yang tak bisa lagi menumbuhkan tanaman. Yang lupa nama orang. Melawan mulut yang dibangun untuk memakan kota.'
'Kau tidak sendirian,' kata Nayla, dan ia mengulang kalimat itu lagi, lebih keras, seolah meyakinkan dirinya sendiri. 'Kau tidak sendirian, Pak.'
Ki Lawu menatap gadis itu, lalu menatap peta, lalu menatap ke luar jendela tempat kentongan ronda siram masih berbunyi di kejauhan—tok, tok, tok—dan ia tahu, dengan cara yang membuat dadanya sesak antara takut dan sesuatu yang mirip harapan, bahwa ia memang tidak sendirian. Tapi ia juga tahu bahwa satu gang, betapapun setia, tidak cukup untuk menutup mulut sebesar kota. Ia butuh lebih. Ia butuh penjaga lama yang masih tersisa, kalau ada yang tersisa. Ia butuh tahu bagaimana hal ini pernah dilawan sebelumnya. Karena kalau ada mulut, pasti pernah ada yang mengatupkannya.