Nayla menghabiskan dua malam berikutnya di depan laptop di kamar kost yang sempit, dikelilingi cangkir kopi dan kertas-kertas cetakan, menyusuri jejak digital seorang yang ternyata nyaris tak meninggalkan jejak. Ki Lawu duduk di sudut, tak mengerti apa yang dilakukan gadis itu pada layar bercahaya, tapi tahu bahwa ini adalah caranya berburu—berburu dengan informasi, bukan dengan hidung. Tiap kali ia menemukan sesuatu, Nayla membacakannya keras, dan Ki Lawu mendengarkan seperti seekor pemburu tua yang membiarkan anjingnya yang lebih muda mengendus tanah.
'Tuan Wibawa muncul di dunia bisnis tujuh tahun lalu,' kata Nayla pada malam kedua, menggosok matanya yang pedih. 'Mendadak. Membeli saham mayoritas Cakra Bumi—yang waktu itu perusahaan kecil yang hampir bangkrut—lewat serangkaian perusahaan cangkang yang berlapis-lapis. Aku sudah lacak sampai tujuh lapis dan masih belum sampai ke orangnya. Lapisan kedelapan terdaftar di luar negeri, di alamat yang ternyata cuma kotak pos.'
'Sebelum tujuh tahun lalu?' tanya Ki Lawu.
Nayla menggeleng pelan. 'Tidak ada. Tidak ada akta lahir yang cocok. Tidak ada sekolah. Tidak ada foto—satu pun. Tidak ada wawancara. Bahkan rapat pemegang saham, dia selalu diwakili. Renata yang mewakili. Selalu Renata.' Ia menyandarkan punggung. 'Pak, orang sekaya ini, sekuat ini, di zaman sekarang—tidak mungkin tidak ada fotonya. Anak SD pun ada fotonya di internet. Ini bukan orang yang sembunyi. Ini orang yang—' ia mencari kata, '—yang tidak pernah benar-benar ada untuk difoto.'
Ki Lawu mengangguk pelan, dan rasa dingin yang sudah ia kenal merayap lagi di tengkuknya. 'Di kampungku,' katanya, 'kami punya cara mengenali makhluk yang menyamar jadi manusia. Bukan dari wajahnya—wajah bisa dipinjam. Tapi dari masa lalunya. Manusia punya masa lalu yang menjalar, seperti akar. Punya ibu, punya kampung, punya bekas luka dari jatuh waktu kecil, punya orang yang masih marah padanya soal utang lama. Makhluk yang menyamar tidak punya akar itu. Ia muncul dari ketiadaan, lengkap, seperti pohon plastik. Indah dari jauh. Tapi cabut, dan tak ada akar di bawahnya.'
'Pohon plastik,' ulang Nayla pelan.
'Makhluk lapar tidak menyamar jadi pengemis,' lanjut Ki Lawu, berdiri dan berjalan ke jendela, menatap gang yang gelap. 'Kalau ia menyamar jadi pengemis, ia cuma bisa mengemis. Tapi ia menyamar jadi orang paling berkuasa, karena di zaman kalian, kekuasaan yang memakan tanah bukan lagi raja dengan pasukan. Kekuasaan yang memakan tanah adalah orang yang menandatangani kertas. Yang menggusur dengan izin. Yang meratakan kampung dengan stempel.' Ia berbalik. 'Di zamanku, makhluk lapar harus menunggu tabir robek untuk menyentuh tanah hidup, setitik demi setitik. Lambat. Lapar terus. Tapi sekarang—' ia menunjuk kota, '—sekarang ia bisa menggusur seratus hektare dengan satu tanda tangan. Ia tidak perlu lagi menunggu tabir robek. Ia merobeknya sendiri, dengan ekskavator, dengan sertifikat palsu, dengan hukum yang ia beli.'
Nayla merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia adalah anak arsitektur. Ia mengerti penggusuran sebagai persoalan dokumen, ganti rugi, kepadatan bangunan, koefisien dasar bangunan. Tapi mendengar Ki Lawu, semua itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih purba—mekanisme makan yang sangat lama, dipasang ulang dengan suku cadang modern.
'Jadi penggusuran desamu,' kata Nayla pelan, 'penggusuran rumah keluargaku, kolong jembatan, gang ini—itu semua—'
'Suapan,' kata Ki Lawu. 'Suapan-suapan kecil. Sambil ia menyiapkan hidangan utama.' Ia menatap layar laptop yang masih menampilkan bagan perusahaan cangkang berlapis-lapis, garis-garis yang saling menyilang seperti jaring laba-laba. 'Tujuh lapis perusahaan, kau bilang. Tujuh lapis untuk menyembunyikan bahwa di pusatnya tidak ada siapa-siapa. Cuma lapar.'
Mereka duduk dalam diam, dan di luar terdengar kentongan Pak Darto memulai ronda siram tengah malam—tok, tok, tok—suara kecil yang konyol, yang sekarang terdengar seperti satu-satunya hal waras di dunia yang baru saja menjadi jauh lebih besar dan jauh lebih gelap. Ki Lawu mendengarkan suara kentongan itu, dan untuk alasan yang tak ia mengerti, ia merasa sedikit kurang takut. Pohon plastik tak punya akar. Tapi kentongan Pak Darto, ronda siram, pot-pot di sudut kost—itu semua punya akar. Kecil. Bodoh. Tapi punya akar.
'Kita tahu siapa dia sekarang,' kata Nayla akhirnya, menutup laptop. 'Atau kita tahu bahwa dia bukan siapa-siapa. Yang lebih menakutkan.'
'Yang lebih menakutkan,' Ki Lawu setuju. 'Karena yang bukan siapa-siapa tidak bisa ditangkap, tidak bisa dipenjara, tidak bisa dibunuh.' Ia menatap kentongan yang masih berbunyi di kejauhan. 'Tapi mungkin, bisa dikenyangkan sampai ia berhenti—atau dikurung lagi seperti dulu.' Ia tidak tahu bagaimana. Belum. Tapi untuk pertama kalinya, ia tahu apa yang ia lawan. Dan mengenali lawan, kata leluhurnya dulu, adalah setengah dari pertarungan.