Berita tentang Pak Hendra sampai siang itu, dibawa Nayla dengan wajah yang pucat dari layar ponselnya. Arsitek senior yang membelot, yang menyerahkan dokumen pemalsuan sertifikat, kini terbaring koma di rumah sakit—jatuh, kata laporan resmi, di tangga kantor yang sepi. Tapi Ki Lawu, ketika diminta Nayla mengendus pakaian Pak Hendra yang dititipkan istrinya untuk diganti, mencium yang lain. Bau dingin. Bau yang sama dengan yang ia endus dari Renata. Bukan jatuh. Disentuh, lewat tabir, lalu dibungkam.
'Dia tidak mati,' kata Ki Lawu pelan, mengembalikan kemeja itu. 'Mereka tidak membunuhnya. Membunuh terlalu kasar, menarik perhatian. Mereka cuma menutup mulutnya, menutup ingatannya. Tapi—' ia berhenti, mengendus lagi, menelusuri sesuatu di balik bau dingin itu, '—orang yang menutup ingatan tidak selalu tahu apa yang sudah dikeluarkan orang itu sebelum ditutup.'
Nayla mengerti maksudnya. Sebelum koma, Pak Hendra mungkin meninggalkan sesuatu.
Mereka pergi ke rumah sakit sore itu, Nayla berpura-pura keponakan, Ki Lawu si paman tua yang tak banyak bicara. Di kamar yang dingin dan berdengung mesin, istri Pak Hendra duduk dengan mata kosong. Nayla menemaninya, berbicara lembut, dan dari pembicaraan itu menarik benang demi benang. Pak Hendra, kata istrinya, malam sebelum kejadian, sibuk di ruang kerjanya, mengetik sesuatu, lalu menelepon seseorang dan berkata, 'Kalau aku kenapa-kenapa, buka laci ketiga.' Istrinya pikir itu kelelahan. Suaminya memang sering mengigau soal kerja.
Laci ketiga di ruang kerja Pak Hendra berisi map cokelat tua, dan di dalam map itu, di antara fotokopi yang sudah Nayla kenal, ada satu lembar yang ditulis tangan, tergesa, dengan pena yang nyaris kehabisan tinta. Sebuah nama. Dan di bawah nama itu, tiga kalimat.
'Tuan Wibawa,' baca Nayla, suaranya turun jadi bisik di mobil sewaan dalam perjalanan pulang. 'Pemilik sebenarnya Cakra Bumi. Renata cuma tangan. Aku tak pernah lihat wajahnya. Tak ada yang pernah lihat. Tapi semua takut padanya, dan ketakutan itu—' ia berhenti, membaca ulang baris terakhir, '—ketakutan itu seperti dingin yang masuk lewat tulang, bukan lewat telinga.'
Ki Lawu meminta map itu. Ia tak bisa membaca tulisan dengan baik—huruf-huruf modern masih menjadi sandi baginya—tapi ia tak perlu membaca. Ia menempelkan map cokelat itu ke hidungnya dan menutup mata.
Dan ia membeku.
Di atas kertas yang sudah disentuh banyak tangan—tangan Pak Hendra, tangan Nayla, tangan-tangan kantor—ada satu jejak bau yang tipis, hampir tak ada, terbawa entah dari mana, mungkin dari ruangan yang sama tempat dokumen ini pernah disimpan. Bau itu bukan bau Renata. Bau Renata adalah dingin yang dipinjam, dingin yang menempel pada manusia yang menjual diri. Tapi ini—ini adalah dingin itu sendiri. Tanpa manusia di baliknya. Pekat. Tua. Lapar dengan cara yang membuat lapar Renata terasa seperti bayi yang merengek.
'Ada apa, Pak?' Nayla melihat wajahnya. 'Pak, kau pucat.'
Ki Lawu membuka mata perlahan. Tangannya gemetar memegang map. 'Aku mengendus makhluk lapar pada Renata,' katanya, dan setiap kata terasa berat. 'Tapi pada Renata, baunya seperti orang yang memakai parfum makhluk itu. Dipinjam. Menempel.' Ia menatap Nayla. 'Tuan Wibawa tidak memakai parfum makhluk itu, Nak. Tuan Wibawa adalah parfum itu sendiri.'
Nayla menelan ludah. 'Maksudmu—'
'Maksudku makhluk lapar tidak cuma merasuki Renata sebagai tangan,' kata Ki Lawu, dan suaranya seperti orang yang baru mengerti betapa dalam jurang di bawah kakinya. 'Maksudku mungkin tidak ada Tuan Wibawa. Tidak ada orang bernama itu yang pernah lahir. Yang ada cuma makhluk lapar yang memakai nama manusia, memakai jas, memakai perusahaan, untuk memakan tanah dalam skala yang tak pernah bisa dicapainya lewat tabir tipis di gang-gang.'
Mobil melaju di tol layang, di bawahnya kota terbentang—ribuan atap, jutaan tanah yang sudah ditutup beton, lahan-lahan kosong yang menunggu diuruk. Ki Lawu menatapnya, dan untuk pertama kalinya kota itu tidak tampak seperti tempat asing tempat ia tersesat. Kota itu tampak seperti meja makan. Sudah ditata. Menunggu disantap.
'Aku kira aku melawan perusahaan yang dikendalikan makhluk,' bisik Ki Lawu. 'Ternyata aku melawan makhluk yang menyamar jadi perusahaan. Dan perusahaan tak bisa diendus. Tak bisa dipagari dengan pot. Tak bisa diusir dengan ronda siram.' Ia menutup mata. 'Pak Hendra benar untuk takut. Dan ia membayar mahal karena memberitahu kita.'
Nayla mengemudi dalam diam panjang. Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, indah dari kejauhan, masing-masing menandai satu petak tanah yang pernah hidup.