Pagi itu datang seperti yang sudah dijanjikan malam—dingin, abu-abu, tanpa ampun. Ki Lawu bangun sebelum subuh, seperti biasa, dan duduk sebentar di tepi dipan menatap tas plastik yang sudah terisi. Batik almarhum suami Bu Sari di lapisan paling bawah, dua kemeja pinjaman, dan buku ingatan yang dibuat Nayla—buku tipis bersampul karton bekas, berisi catatan tentang siapa dirinya, agar bila ingatannya luruh lagi, ada yang menyimpannya. Ia menyentuh sampul itu sebentar, lalu menutup tas.
Di luar, pekarangan masih gelap. Tanah hidup yang baru saja, baru sekali, mengakuinya sebagai miliknya bernapas pelan di bawah embun, dan Ki Lawu merasakannya memanggil dengan suara yang tak punya kata—hanya kebingungan tanah yang tuannya hendak pergi. Ia berjongkok, menekan telapak ke permukaan dingin itu, dan berbisik, 'Maaf. Bukan kau yang menolakku. Tetap rawat mereka.' Tanah tidak menjawab. Tanah tidak pernah menjawab dengan kata. Tapi ia merasakan sesuatu seperti tangan kecil yang enggan melepas.
Nayla sudah menunggu di teras, matanya bengkak, kopi di tangan yang tak ia minum. 'Aku antar sampai terminal,' katanya datar, sudah lelah berdebat. Bu Sari keluar dengan kemben dan selendang, wajahnya keras menahan sesuatu. Mereka bertiga berdiri di teras seperti orang yang akan menghadiri pemakaman yang belum tentu mati.
Ki Lawu mengangkat tas. 'Sudah,' katanya. 'Sebelum orang-orang bangun. Lebih baik begitu.'
Tapi orang-orang sudah bangun.
Suara pertama yang ia dengar adalah batuk Pak Darto—batuk khas perokok berat yang dikenalnya dari ronda siram tengah malam, batuk yang selalu mengalahkan kentongan. Lalu langkah kaki di mulut gang. Banyak. Ki Lawu menegang, mengira rombongan kemarin kembali untuk menyelesaikan apa yang belum selesai. Tapi yang muncul dari kelokan bukan wajah keras dan takut. Yang muncul adalah Pak Darto, mengenakan sarung dan kaus oblong, menenteng plastik berisi gorengan, dan di belakangnya Mbak Yuni dengan jaket kebesaran, dan di belakang Yuni seorang ibu muda yang Ki Lawu nyaris tak ingat—ibu yang dulu, di kelurahan, antrean berkasnya nyaris hilang sampai Ki Lawu diam-diam memberi 'untung kecil' dan map itu muncul kembali entah dari mana.
Mereka berhenti di depan teras. Canggung. Pak Darto menggaruk tengkuk. 'Pak Lawu,' katanya, dan suaranya serak. 'Denger-denger mau pergi.'
Ki Lawu tidak menjawab. Tas masih di tangannya.
'Saya nggak ngerti soal yang halus-halus itu,' lanjut Pak Darto, meletakkan plastik gorengan di lantai teras seolah itu sesaji. 'Saya orang got, Pak. Saya cuma ngerti got mampet sama got lancar. Tapi anak saya, si Bagus—beasiswanya itu, yang tahun lalu hampir batal, terus tiba-tiba ada dana talangan dari yayasan yang nggak pernah saya denger—itu Bapak, kan.' Ia tidak bertanya. Ia menyatakan. 'Istri saya bilang itu rezeki dari Gusti Allah. Iya, betul. Tapi rezeki itu lewat tangan Bapak. Saya tahu. Saya cuma nggak pernah bilang, malu, masa bapak-bapak nangis.'
Mbak Yuni maju. Gadis yang dulu nyaris ditelan utang dan rasa malu, yang nyaris dibisiki makhluk lapar lewat lukanya. 'Waktu saya di titik paling rendah, Pak,' katanya, suaranya bergetar tapi tegak, 'waktu saya mikir nggak ada gunanya lagi pulang ke kampung—Bapak yang duduk di sebelah saya di teras itu, jam dua pagi, nggak ngapa-ngapain, cuma nemenin. Nggak ada mantra. Nggak ada dukun. Cuma orang tua yang nggak tidur nemenin orang muda yang mau hancur.' Ia menelan. 'Dukun banjir nggak begitu, Pak. Dukun banjir minta bayaran.'
Ibu muda dari kelurahan ikut bicara, pelan, hampir tak terdengar, tentang map yang hilang dan kembali, tentang anaknya yang akhirnya dapat akta. Lalu datang lagi—Pak Karyo dengan sapunya, yang sejak awal tahu siapa Ki Lawu sebenarnya. Lalu seorang bapak yang kemarin ikut rombongan pengusir, kini menunduk di belakang, tak berani maju, tapi datang.
Ki Lawu berdiri kaku, tas masih di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun ia tidak tahu harus berkata apa. Ia sudah menyiapkan diri untuk diusir. Ia tidak menyiapkan diri untuk ini.
'Saya tidak menyelamatkan kalian dengan mukjizat,' akhirnya ia berkata, dan suaranya tidak setenang biasanya. 'Mukjizat besar selalu membuat orang takut. Yang saya berikan cuma butir-butir kecil. Yang kalian bahkan tidak sadar.'
'Itu masalahnya, Pak,' kata Nayla dari sampingnya, dan ada air mata sekaligus senyum di wajahnya. 'Fitnah itu satu suara besar. Tapi kebaikan kecil itu ratusan. Dan ratusan suara kecil, kalau dikumpulkan—' ia menunjuk gang yang mulai terisi orang, '—lebih keras dari satu suara besar.'
Kepercayaan, Ki Lawu menyadari, tidak datang seperti banjir. Ia datang seperti tanah belajar bernapas—sebutir demi sebutir, satu kebaikan kecil yang diingat, lalu satu lagi, sampai cukup banyak untuk menahan beban. Kota yang tak percaya penjaga ternyata bisa belajar percaya lagi. Bukan karena ia membuktikan dirinya hebat. Tapi karena ratusan orang diam-diam menyimpan satu butir kebaikan yang akhirnya, pagi ini, berbicara.
Pak Darto mengambil tas plastik dari tangan Ki Lawu, tanpa permisi, seperti seorang anak yang merebut koper bapaknya. 'Naruh ini balik ke kamar,' katanya tegas. 'Gorengan keburu dingin. Ronda siram nanti malam masih jalan, kan? Saya udah beliin kentongan baru, yang lama suaranya kayak kaleng rombeng.'
Dan begitulah Ki Lawu tinggal. Bukan karena ia menang melawan ketakutan. Tapi karena yang diselamatkan, akhirnya, mengingat. Di seberang kota, di balik pintu kantor yang tertutup, sesuatu yang sangat tua berhenti tersenyum.