Puncaknya datang pada Jumat sore, di pelataran masjid gang, setelah salat, ketika orang-orang masih berkumpul dan obrolan bercampur kekhawatiran menjadi sesuatu yang lebih panas.
Ki Lawu tidak ada di sana—ia tak pernah masuk masjid, hanya menghormatinya dari luar—tapi Nayla ada, dan ia menyaksikan bagaimana ketakutan, ketika cukup banyak orang membaginya, berubah menjadi keberanian yang keliru arah. Seseorang—Nayla tak pernah tahu pasti siapa yang mulai, dan itulah yang paling licik dari fitnah, ia tak punya bapak—mengangkat suara. Bahwa demi keselamatan bersama, orang aneh di kost Bu Sari itu harus pergi. Bahwa selama ia di sini, gang ini akan terus sial. Bahwa pot-pot tengah malamnya itu jelas tidak benar. Bahwa lebih baik mengusir satu orang asing daripada seluruh gang kena tulah.
Suara setuju bersahutan. Tidak semua. Tapi cukup banyak. Dan yang diam pun, dengan diamnya, ikut.
Nayla mencoba bicara, tapi suaranya tenggelam—ia mahasiswi, perempuan, pendatang juga, dan ketakutan tak mau mendengar logika. Bu Sari datang berlari dan membela dengan seluruh wibawa ibu kostnya, tapi seperti yang Ki Lawu ramalkan, pembelaan itu malah menyiramkan curiga padanya sendiri. 'Bu Sari sudah kena pengaruhnya,' bisik seseorang, dan bisik itu menyebar.
Ketika rombongan kecil itu—dipimpin beberapa bapak dengan wajah keras dan takut sekaligus—berjalan ke kost untuk 'bicara baik-baik' yang semua orang tahu bukan bicara baik-baik, Ki Lawu sudah menunggu di teras. Ia telah mendengar, lewat angin, lewat hidung tuanya, lewat roh-roh yang gelisah di pot-pot. Ia berdiri tenang, tangan terlipat, wajah seorang lelaki tua yang sudah menerima.
"Saya tahu kenapa Bapak-Bapak datang," katanya sebelum mereka sempat bicara, dan ketenangan suaranya membuat mereka berhenti, sedikit malu. "Bapak-Bapak takut. Itu wajar. Banyak yang aneh sejak saya datang. Banjir berhenti aneh. Kesialan datang. Pot-pot disiram tengah malam. Saya orang asing, tanpa keluarga, tanpa asal. Kalau saya jadi Bapak, mungkin saya juga curiga."
Pengakuan itu melumpuhkan mereka. Mereka datang untuk melawan pembelaan, bukan persetujuan.
"Saya tidak akan membantah," lanjut Ki Lawu. "Membantah hanya menambah takut. Dan saya tidak ingin gang ini retak karena saya. Ini rumah Bapak-Bapak. Saya cuma menumpang." Ia menatap satu per satu wajah mereka, tenang, tanpa marah. "Kalau dengan saya pergi, Bapak-Bapak merasa lebih aman, lebih tenang—maka saya pergi. Besok pagi. Tanpa ribut. Saya hanya minta satu hal: jangan berhenti merawat tanaman itu. Apa pun yang Bapak pikir tentang saya, tanaman itu baik. Got yang bersih itu baik. Gang yang hijau itu baik. Jangan buang yang baik hanya karena Bapak takut pada saya."
Dan dalam ketenangan itu, dalam ketiadaan perlawanan itu, sebagian bapak menunduk, malu. Karena lebih mudah mengusir orang yang melawan daripada orang yang mengangguk dan minta maaf atas ketakutan yang bukan salahnya.
Mereka pulang tanpa jadi mengusir paksa—belum—tapi pesannya tersampaikan. Besok. Ia harus pergi besok.
Malam itu adalah malam paling sunyi yang pernah dirasakan kost Bu Sari. Nayla duduk di kamar Ki Lawu, menatap lelaki tua itu melipat pakaian sedikitnya—batik almarhum suami Bu Sari, dua kemeja pinjaman, buku ingatan yang dibuat Nayla tentang siapa dirinya—ke dalam tas plastik. Tanpa banyak barang. Tak pernah banyak barang.
"Kau tidak boleh pergi," kata Nayla, untuk kesekian kalinya, suaranya sudah habis. "Ini yang dia mau, Pak. Renata. Makhluk itu. Mereka tidak mengusirmu dengan tabir, dengan kuasa—mereka mengusirmu dengan ketakutan tetangga. Dan kau mau menyerah pada itu? Setelah semua yang—"
"Aku tidak menyerah," kata Ki Lawu pelan. "Aku memilih. Selama aku di sini, fitnah punya wajah. Mereka punya seseorang untuk ditakuti, dan ketakutan itu meretakkan pagar lebih cepat dari yang lapar bisa. Kalau aku pergi, fitnah kehilangan sasaran. Pagar tanah bertahan—kau dan Bu Sari dan Pak Karyo akan merawatnya. Dan tanpa aku di sini, mereka berhenti takut, dan kembali merawat bersama. Aku menyelamatkan pagar dengan tidak menjadi bagiannya." Ia tersenyum, getir dan lembut. "Kau ingat pelajaran kita? Makhluk lapar dikalahkan dengan menutup luka, bukan kekuatan. Luka gang ini sekarang adalah ketakutan pada orang asing. Dan obatnya, kadang, adalah orang asing itu pergi."
"Itu omong kosong," bisik Nayla, air matanya jatuh. "Itu cuma kau mengarang alasan mulia untuk hal yang menyakitkan."
Ki Lawu tak menjawab, karena gadis itu mungkin benar.
Ia menatap ke luar jendela, ke gang yang dulu asing lalu jadi rumah lalu jadi asing kembali, ke tanah hidup di pekarangan yang baru saja, baru sekali, mengakuinya sebagai miliknya—dan yang besok harus ia tinggalkan. Di kota yang tak percaya penjaga, penjaga selalu berakhir begini: dicurigai, difitnah, diusir oleh orang-orang yang ia jaga dan yang tak pernah tahu ia menjaga mereka. Ia sudah tahu ini ratusan tahun lalu. Ia hanya berani lupa, sebentar, karena gang ini hampir membuatnya percaya bahwa kota bisa berbeda.
Ia menyelesaikan melipat batiknya, dan di luar, tanah hidup di pekarangan bernapas pelan dalam gelap, memanggilnya, tak mengerti mengapa tuannya yang baru ia akui hendak pergi—sementara di seberang kota, di balik pintu kantor yang tertutup, sesuatu yang sangat tua tersenyum untuk pertama kalinya sejak kalah di pengadilan, karena ia telah belajar bahwa cara terbaik mengalahkan penjaga bukan dengan memakannya, tapi dengan membuat yang dijaga mengusirnya sendiri.