Pembalasan itu datang tiga hari kemudian, dan ia tidak datang lewat tabir. Ia datang lewat hal-hal yang paling membumi, paling manusiawi, dan justru karena itu paling sulit dilawan—karena Ki Lawu bisa menahan robekan tabir dengan tubuhnya, tapi ia tak bisa menahan ketakutan yang menyebar di antara manusia.
Yang pertama adalah Pak Hendra.
Kabarnya datang lewat berita pendek di koran lokal yang dikirim Mbak Ratih ke grup: seorang arsitek senior ditemukan tak sadarkan diri di basement parkir gedung kantornya, jatuh dari—begitu kata laporan—'kelalaian sendiri'. Tak ada saksi. Kamera pengawas 'kebetulan' mati di lantai itu. Pak Hendra koma di rumah sakit, dan dokter tak bisa menjelaskan mengapa lelaki sehat berusia limapuluhan tiba-tiba jatuh dan tak bangun.
Nayla membaca kabar itu dan tangannya gemetar. Ia tahu. Ia tahu persis. Pak Hendra yang membelot, Pak Hendra yang memberi flashdisk, Pak Hendra yang memperingatkan soal 'tangan di atas Renata'. Ia dibungkam. Dan pesannya jelas bagi siapa pun yang berani membantu Nayla: ini yang terjadi pada pengkhianat.
Ki Lawu pergi ke rumah sakit—ia memaksa, walau tubuhnya lemah—dan berdiri di pintu ruang ICU yang tak boleh ia masuki, dan dari sana ia mengendus. Dan ia merasakannya: di tubuh Pak Hendra yang terbaring, di antara selang dan mesin, ada jejak dingin yang sama. Bukan jatuh. Makhluk lapar telah menyentuhnya lewat tabir, menyedot sebagian kehidupannya, meninggalkannya di ambang—cukup hidup untuk jadi peringatan, cukup mati untuk jadi pelajaran.
"Aku tidak bisa menyembuhkannya," kata Ki Lawu pada Nayla, dan suaranya hancur. "Dulu mungkin aku bisa. Memberinya untung kecil, mengalirkan kehidupan. Tapi sekarang—" ia menatap tangannya yang tak bisa lagi menumbuhkan apa pun. "Aku hanya bisa berdiri di sini."
Lalu datang yang kedua. Ancaman pada keluarga warga. Bukan kekerasan terang—lebih licik. Anak Pak Darto yang kuliah di kota lain tiba-tiba bermasalah dengan beasiswanya. Kontrak kerja menantu Bu Yati mendadak diputus tanpa alasan. Kecil-kecil, terpencar, tapi semua menyentuh titik paling rapuh tiap keluarga—periuk nasi, masa depan anak. Pesannya sama: lawan terus, dan hidupmu yang kami sentuh.
Dan yang ketiga—yang paling pintar, yang paling menghancurkan—adalah fitnah.
Ia menyebar pelan, dari mulut ke mulut, dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp, dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai ketakutan. Bahwa orang aneh di kost Bu Sari itu—'sesepuh tanaman' yang aneh, yang bicara pada tanaman dan selokan, yang muncul entah dari mana tanpa keluarga tanpa asal-usul—bukan orang baik. Bahwa banjir besar tahun lalu, yang anehnya berhenti di mulut gang, itu ulahnya. Bahwa kesialan yang menimpa keluarga-keluarga itu—beasiswa anak Pak Darto, kontrak menantu Bu Yati—dimulai sejak ia datang. Bahwa ia dukun. Dukun banjir. Dukun yang memelihara sesuatu di pot-pot itu, makanya disuruh disiram tengah malam, makanya pakai kentongan, makanya warga jadi kena sial.
Fitnah itu kejam justru karena ia mengambil hal-hal yang nyata—banjir yang memang berhenti aneh, ronda siram tengah malam yang memang aneh, kedatangan Ki Lawu yang memang tanpa asal-usul—dan memelintirnya. Makhluk lapar tak menciptakan kebohongan baru. Ia mengambil kebenaran dan membusukkannya, persis seperti ia mengambil tanah dan mengosongkannya.
Dan ia berhasil. Itu yang paling menyakitkan. Beberapa warga yang minggu lalu bersorak di pengadilan kini menatap Ki Lawu dengan curiga ketika ia lewat. Ibu-ibu yang dulu memintai tips menanam kini menarik anak mereka menjauh dari pekarangan kost. Bisik-bisik berhenti ketika ia mendekat. Pak Darto—Pak Darto yang beradu terong dengannya, yang anaknya kena masalah beasiswa—tak lagi menyapanya, dan dalam diam Pak Darto itu ada tuduhan yang lebih menyakitkan dari kata-kata.
Ki Lawu menerimanya dengan getir yang tenang. Ia sudah tua. Ia sudah ratusan tahun. Dan ia tahu, dengan pahit yang sudah lama ia kenal, bahwa di kota yang tak percaya penjaga, penjaga selalu jadi yang pertama dicurigai ketika ada yang salah. Bukan karena ia jahat. Tapi karena ia asing, dan ketakutan selalu mencari yang asing untuk disalahkan.
"Mereka tidak salah untuk takut," katanya pada Nayla dan Bu Sari malam itu, ketika fitnah sudah jadi tembok di gang. "Makhluk itu pintar. Ia tahu ia tak bisa menembus pagar tanah kita. Jadi ia tak menyerang tanah. Ia menyerang kepercayaan di antara orang-orang yang merawat tanah. Karena pagar kita bukan terbuat dari tanah. Pagar kita terbuat dari mereka yang merawatnya bersama. Dan kalau ia bisa membuat mereka saling takut, saling curiga, berhenti merawat bersama—pagar itu runtuh tanpa ia perlu menyentuhnya."
Bu Sari mengepalkan tangan. "Saya yang akan bicara ke mereka. Saya yang—"
"Tidak," potong Ki Lawu lembut. "Kalau kau membelaku terlalu keras, fitnahnya akan pindah padamu. Mereka akan bilang kau juga kena guna-guna. Itu cara kerjanya. Membela yang difitnah menulari yang membela." Ia menghela napas, dan untuk pertama kalinya sejak malam di firma, ia tampak benar-benar lelah, lelah yang lebih tua dari tubuhnya. "Mungkin aku harus pergi. Kalau aku pergi, fitnahnya kehilangan sasaran. Mereka aman. Pagar bertahan tanpa aku—aku sudah mengajari mereka caranya."
Nayla berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh. "Jangan," katanya, suaranya keras. "Jangan berani-berani. Itu persis yang dia mau. Kau pergi, semuanya runtuh, dan dia menang tanpa berkelahi." Tapi Ki Lawu hanya menatap pekarangan di luar jendela, ke tanah hidup yang baru mengakuinya, ke gang yang baru saja mulai jadi rumah dan kini menatapnya seperti orang asing, dan di matanya Nayla melihat sesuatu yang membuatnya takut lebih dari fitnah apa pun: pertimbangan.