Ki Lawu siuman di kamar yang seluas tiga langkah, di atas kasur tipis yang baunya bercampur antara kapur barus dan keringat orang lain. Ada kipas angin berdiri di sudut yang berputar dengan suara berderak, mengipas udara panas dari satu pojok ke pojok lain tanpa benar-benar menyejukkan apa pun. Di atasnya, langit-langit bernoda air berbentuk seperti pulau. Ia menatap pulau itu cukup lama untuk sadar: ia masih di kota. Ini bukan mimpi yang bisa ia bangunkan.
Nayla duduk di lantai bersandar dinding, lengannya bersedekap, menatapnya dengan curiga seorang penyidik. Di sebelahnya ada gelas teh yang sudah dingin dan piring nasi yang akhirnya tak jadi disia-siakan.
"Makan dulu," kata Nayla datar. "Habis itu jelasin. Dan jangan bohong, karena saya capek dan kalau dibohongin saya bisa galak."
Ki Lawu makan. Ia makan dengan cara yang membuat Nayla diam-diam terenyuh—pelan, hati-hati, dan sebelum suapan pertama ia menunduk berterima kasih pada nasi itu, pada padi yang menumbuhkannya, pada tanah yang menumbuhkan padi. Manusia normal tidak begitu. Orang gila pun biasanya tidak begitu. Orang gila tidak punya tata krama yang setua candi.
Lalu ia bercerita. Tentang desa di kaki gunung. Tentang beringin yang ia jaga sejak ia bukan apa-apa selain niat baik tanah yang mengeras menjadi penjaga. Tentang sumber air yang ia rawat agar bening, tentang rezeki kecil yang ia atur—siapa yang panennya ia lebihkan setahun ini, siapa yang ia bisikkan agar tidak lupa membayar utang. Tentang malam terakhir, gergaji, dan robekan yang menariknya ke seberang.
Nayla mendengarkan dengan wajah yang makin lama makin masam. "Jadi," katanya akhirnya, "Bapak ngaku-ngaku jin penunggu pohon yang kesasar ke Jakarta."
"Bukan jin," Ki Lawu mengoreksi dengan sabar. "Dhanyang. Berbeda. Jin punya kehendak sendiri yang liar. Dhanyang terikat pada tempat, dan kehendaknya adalah kehendak tempat itu. Aku bukan menumpang pada tanah Sumberwangi. Aku adalah Sumberwangi, atau dulunya begitu."
"Oke. Dan saya Cinderella." Nayla berdiri. "Pak, dengar, saya udah bantuin Bapak. Tapi cerita beginian—"
Ki Lawu tidak membantah. Ia hanya menoleh pada satu-satunya benda hidup di kamar itu: tanaman lidah mertua kering di pot kaleng bekas di dekat jendela, hadiah pacar lama Nayla yang sudah lama ia lupa siram. Ki Lawu menatapnya, lalu menatap Nayla.
"Berapa banyak yang sanggup kau lihat sebelum kau memilih percaya?" tanyanya pelan. "Aku tidak bisa membuktikan banyak. Tiap pembuktian memakan diriku. Tapi sekali ini—agar kau tahu aku tidak gila, dan agar kau tahu bahaya yang kubawa nyata—aku akan tunjukkan satu, dan satu saja."
Ia menyentuh tanah di pot kaleng itu. Nayla menahan napas tanpa sadar. Sama seperti palem tadi pagi: tanah menggelap lembap, dan lidah mertua yang tinggal pelepah kering itu mendorong satu tunas baru, tegak dan hijau dan jelas-jelas tidak ada lima detik yang lalu. Lalu Ki Lawu menarik tangannya dan langsung mengatupkan rahang, wajahnya memutih lagi, keringat dingin muncul di pelipisnya. Tapi kali ini ia tidak tumbang. Kali ini ia menahannya, dengan susah payah, agar Nayla bisa melihat harganya.
"Itu," katanya terengah, "adalah tunas yang seharusnya tumbuh dalam tiga bulan. Aku mempercepatnya. Dan harganya—" ia menelan ludah, "—biar kuberitahu apa adanya, supaya kau paham, dan supaya kau tidak memintaku melakukannya untuk hal sepele."
Nayla duduk lagi, kali ini perlahan. Bukan karena ia langsung percaya pria itu makhluk halus—otak arsitekturnya menolak keras—tapi karena dua kejadian dalam sehari, di dua pot berbeda, terlalu banyak untuk disebut kebetulan, dan ia tidak suka hal yang tak bisa ia jelaskan.
Ki Lawu menjelaskan aturannya, dan ia melakukannya seperti orang menghitung sisa beras di lumbung yang sudah hampir kosong. "Pertama: aku hanya kuat di tanah yang mengakuiku. Di Sumberwangi, aku bisa menumbuhkan sehektare semalam tanpa lelah, karena tanah itu mengenalku, ia ikut bekerja. Di sini, tak ada tanah yang mengenalku. Setiap keajaiban kecil pun harus kubayar dari simpananku sendiri."
"Simpanan apa?"
"Umur. Bukan umur tubuh ini." Ia mengetuk dadanya. "Umurku yang sebenarnya. Bayangkan diriku seperti pohon dengan lingkaran tahun di dalam batang. Tiap mukjizat kecil—setunas bunga, sebenih untung—mengikis lapisan terluar. Sedikit. Tapi sekali aku memaksakan yang besar, aku bisa kehilangan berlingkar-lingkar sekaligus, dan ketika lapisan habis, aku tidak mati seperti manusia. Aku memudar. Aku lupa. Mula-mula kemampuan, lalu nama, lalu siapa aku."
Nayla diam. "Bunga di palem tadi pagi. Itu... berapa?"
"Beberapa hari, mungkin sepekan dari sisaku." Ki Lawu tersenyum tipis, lelah. "Aku bodoh. Tapi palem itu menderita, dan aku tak tahan melihat yang seharusnya hidup dibiarkan kering."
"Berapa sisanya?" Nayla bertanya, dan ia terkejut sendiri karena ia bertanya seolah jawaban itu penting baginya.
Ki Lawu menatap kedua tangan tuanya. "Tanpa tanah yang mengakuiku, dan tanpa boros mukjizat—aku menghitung kira-kira sampai akhir musim hujan. Setelah itu, lapisan terluar habis, dan aku mulai lupa. Itulah jam pasirku, Nak. Itulah kenapa aku harus menemukan tanah baru yang mau mengenalku, sebelum aku lupa cara mencarinya."
Kipas angin berderak. Di luar, ojek online berdengung lewat. Nayla menatap pria tua yang duduk tenang menerima vonisnya sendiri, dan untuk alasan yang tak bisa ia hitung dengan rumus apa pun, ia merasa tidak bisa pura-pura tidak peduli. "Oke," katanya akhirnya, suaranya serak. "Anggap aja saya setengah percaya. Setengah. Terus sekarang Bapak butuh apa biar nggak... memudar itu?"
Ki Lawu menatapnya. "Tanah," jawabnya sederhana. "Dan waktu. Dua hal yang di kota ini, sepertinya, paling mahal dari segalanya."