Mereka membicarakannya di teras, dini hari, ketika gang sudah tidur dan hanya lampu warung yang menyala redup di kejauhan. Nayla membuat dua gelas kopi sachet—satu untuk dirinya, satu untuk Ki Lawu yang sebenarnya tak butuh kopi tapi suka memegang gelas hangat—dan mereka duduk di anak tangga teras, memandang petak tanah hidup baru di pekarangan yang kini, kalau diperhatikan dengan sangat saksama, tampak sedikit lebih hijau dari tanah biasa.
"Aku sudah memutuskan," kata Ki Lawu akhirnya, memecah keheningan.
Nayla menunggu. Ia sudah belajar, selama berbulan-bulan, untuk tidak mengisi diam Ki Lawu dengan tergesa.
"Aku tidak akan ke Sumberwangi dulu," lanjut lelaki itu. "Belum. Mungkin lama."
Nayla memutar gelas kopinya. "Karena makhluk itu? Karena penggusuran?"
"Karena ini." Ki Lawu mengangkat dagunya ke arah gang yang tidur, ke arah kost, ke arah petak tanah. "Aku punya tanah ke mana harus pulang—Sumberwangi, walau setengah mati, masih ada. Stek tanahnya masih menungguku. Kalau aku berangkat sekarang, mungkin aku bisa memperkuat diriku, memulihkan sebagian yang hilang, mengejar jalan pulang yang sebenarnya. Itu yang aku inginkan sejak malam pertama di gang sempit ini. Pulang."
"Tapi?"
"Tapi kalau aku pergi, siapa yang berdiri di antara mereka dan yang lapar?" Ia menggeleng pelan. "Bukan kau, Nak. Kau punya tugasmu—hukum, berkas, Bu Sari, warga. Itu tugas besar dan kau melakukannya dengan baik. Tapi tabir, roh-roh, pagar tanah—itu tugasku. Dan kalau aku pergi mengejar pulang, gang ini terbuka, kolong jembatan terbuka, dan yang lapar akan makan sebelum aku kembali." Ia menatap kopinya. "Aku tidak bisa pulang sambil membiarkan rumahku diambil. Bukankah itu lucu? Aku ingin pulang ke rumah yang sudah bukan rumah, dan untuk itu aku harus meninggalkan rumah yang sudah menjadi rumah."
Nayla diam lama. Lalu ia berkata, pelan, "Pak, aku harus mengatakan ini, walau aku tidak mau. Tiap hari kau tinggal di sini—tiap hari kau menunda ke Sumberwangi—celah pulangmu makin tertutup. Tanah baru di pekarangan itu mulai mengakuimu. Itu bagus, itu menyelamatkanmu dari memudar. Tapi tanah tak bisa mengakui dua tuan. Makin dalam akarmu di sini, makin asing kau bagi Sumberwangi nanti. Kalau kau tinggal terlalu lama, kau mungkin tak akan bisa pulang lagi. Bukan karena tak ada jalan. Tapi karena kau sudah jadi milik tempat lain."
Ki Lawu mengangguk pelan. Ia sudah tahu itu. Tanah yang baru mengakuinya telah membisikkannya. "Aku tahu," katanya. "Aku memilih dengan mataku terbuka."
"Kenapa?" Suara Nayla parau. "Kenapa kau melepas hal yang paling kau inginkan demi satu gang di kota yang bahkan tak tahu siapa kau?"
Ki Lawu memandang gadis itu lama. "Kau ingat tawaran makhluk itu? Ia menawariku Sumberwangi. Semua yang aku inginkan. Dan aku menolak, karena aku belajar bahwa rumah bukan tanah, rumah adalah yang kita jaga." Ia tersenyum tipis, lelah. "Aku tidak bisa mengucapkan itu di ruang rapat itu lalu lari pulang minggu ini. Itu akan membuat kata-kataku bohong. Aku menolak Sumberwangi sebagai harga satu nyawa. Aku tak akan menerimanya sebagai harga seluruh gang."
Nayla menunduk, menyeka matanya dengan punggung tangan, cepat, marah pada dirinya karena menangis. "Kau ini tahu nggak sih kau ngomong apa," gerutunya, dan dalam gerutuan itu ada seluruh sayang yang tak bisa ia ucapkan langsung. "Memilih kost butut ini daripada desa keramatmu. Bodoh. Bodoh banget."
"Mungkin," Ki Lawu mengakui. "Tapi bukan menyerah pulang. Hanya memilih siapa yang dijaga lebih dulu. Kita selesaikan dulu Cakra Bumi. Kita selamatkan gang ini, kolong itu, roh-roh itu. Lalu—nanti, kalau ada nanti—kita urus pulang."
Ia mengulurkan gelas kopinya, dan Nayla, mengerti maksudnya, membenturkan gelasnya pelan ke gelas itu. Sebuah perjanjian, dini hari, di anak tangga teras kost. Bukan tawar-menawar dengan yang lapar. Tawar-menawar di antara dua makhluk yang saling menjaga.
"Lawan Cakra Bumi dulu," kata Nayla.
"Lalu urus pulang," kata Ki Lawu.
Di pekarangan, petak tanah hidup yang baru itu bernapas pelan dalam gelap, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di kota ini, Ki Lawu tidak melihat ke selatan. Ia melihat ke gang di depannya, ke rumah yang ia pilih, dan ia bersiap untuk melawan.