Masalahnya, sebagaimana yang segera disadari Ki Lawu, adalah bahwa ia harus menyatukan dua dunia yang sama-sama keras kepala dan sama-sama tak percaya satu sama lain: warga gang yang melawan penggusuran, dan roh-roh tersesat yang butuh tanah dirawat. Yang pertama tak tahu yang kedua ada. Yang kedua tak percaya yang pertama akan peduli. Dan Ki Lawu, tetua keduanya, harus menjadi jembatan tanpa mengungkap terlalu banyak hingga warga memanggil ustaz dan paranormal dan tukang ruwat sekampung.
Ia memutuskan untuk tidak menjelaskan. Ia memutuskan untuk membuat keduanya melakukan hal yang sama tanpa tahu mereka sedang bekerja sama.
Rencananya, ketika dijelaskan pada Nayla, terdengar gila lalu masuk akal lalu gila lagi. "Pagar gaib," kata Ki Lawu, "dan benteng penggusuran—keduanya butuh hal yang sama: tanah hidup yang banyak, tersebar, dirawat sepenuh hati. Tiap petak tanah hijau di gang ini melemahkan jalan makhluk lapar DAN membuat warga lebih sulit digusur—karena tanah yang dirawat, yang produktif, yang jadi taman warga, lebih sulit diklaim 'lahan telantar' di pengadilan. Jadi kita suruh warga merawat tanah. Mereka pikir mereka melawan Cakra Bumi. Mereka juga, tanpa tahu, sedang menutup tabir."
Dan begitulah, dalam rapat RT berikutnya, lahir program yang namanya membuat Ki Lawu diam-diam geli sepanjang hidupnya: Gang Berdaulat. Tiap rumah, tiap sudut kosong, tiap pot, ditanami dan dirawat dan didata. Bukti bahwa tanah ini hidup, dihuni, diberdayakan. Senjata hukum dan benteng gaib dalam satu cangkul.
Warga menyambutnya dengan antusiasme yang lebih cocok untuk pertandingan bola. Pak Darto, yang pocong-pocongannya ditolak, mengalihkan energinya ke menanam terong dan ternyata berbakat luar biasa, hingga ia jadi rival Ki Lawu dalam soal 'sesepuh tanaman' dan keduanya beradu terong dalam persaingan yang akrab dan konyol. Ibu-ibu PKK membuat jadwal piket menyiram, lengkap dengan grup WhatsApp terpisah, stiker, dan—Ki Lawu tak akan pernah mengerti ini—drama soal siapa yang lupa giliran.
Yang paling lucu adalah malam ketika rapat RT, dengan wajah serius dan notulen lengkap, membahas 'jadwal nyiram benteng' seolah ronda malam. Karena Ki Lawu, melalui Nayla, telah meyakinkan mereka bahwa tanaman yang disiram tepat tengah malam 'lebih kuat menahan hama'—yang sebenarnya kode untuk: roh-roh butuh tanah disapa saat tabir paling tipis. Maka terbentuklah jadwal ronda siram, lengkap dengan kentongan—Pak Darto bersikeras pakai kentongan—dan bapak-bapak bergiliran keliling gang tengah malam menyiram pot sambil ngobrol dan minum kopi, tak tahu bahwa di tiap pot yang mereka siram, seorang roh tersesat menghangatkan diri pada pengakuan tanah dan, untuk semalam lagi, tak menjadi lapar.
Ki Lawu membawa roh-roh dari kolong jembatan, satu per satu, ke titik-titik tanah hidup baru di gang. Penunggu sumur tua ia tempatkan di dekat sumur bor lama di belakang masjid yang sudah lama tak terpakai—ia memintanya menjaga itu, dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun roh tua itu punya tugas, punya tempat, punya alasan untuk tidak memudar. Penjaga pohon kenari ia bawa ke pohon ketapang di tikungan, yang bukan kenari tapi cukup, dan roh itu menerimanya dengan haru pohon yang menemukan pohon. Dhanyang sungai kecil yang paling muda dan paling takut ia tempatkan di selokan gang yang baru dibersihkan warga dalam program Gang Berdaulat—selokan, bukan sungai, tapi air yang dirawat, dan roh muda itu menangis air gorong-gorong karena untuk pertama kalinya ada manusia yang membersihkan rumahnya tanpa tahu ia ada di sana.
Dan inilah yang Ki Lawu sadari, berdiri di gang pada suatu malam ronda siram, mendengar tawa bapak-bapak dan gemericik air dan kentongan Pak Darto yang menyebalkan: kehangatan komunal ini adalah kekuatan nyata. Bukan metafora. Bukan penghiburan. Rasa syukur kolektif, perawatan bersama, gotong royong merawat tanah—itu memberi makan roh, menebalkan tabir, dan mengusir yang lapar lebih efektif dari kuasa dhanyang mana pun yang pernah ia punya. Kota yang ia kira tak percaya penjaga ternyata, tanpa sadar, sedang menjaga dirinya sendiri.
"Mereka tidak tahu," kata Nayla pelan, berdiri di sampingnya, memandang gang yang sibuk. "Mereka pikir mereka cuma menanam terong dan melawan gusuran."
"Itu lebih baik," jawab Ki Lawu. "Penjaga yang paling kuat adalah yang tidak tahu ia sedang menjaga. Karena ia melakukannya bukan karena tugas. Ia melakukannya karena cinta." Ia menatap Pak Darto yang dengan bangga memamerkan terong raksasanya ke tetangga. "Dan cinta tidak bisa dimakan oleh yang lapar. Itu satu-satunya hal yang tidak bisa ia makan."
Di seberang kota, di sebuah gedung tinggi, makhluk lapar di dalam Renata merasakan jalan-jalannya menyempit, satu per satu, ditutup oleh terong dan kentongan dan kopi tengah malam, dan untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang asing baginya: terdesak.