Rapat RT sore itu panjang dan berisik dan, di sela-sela ketegangannya, sesekali konyol seperti semua rapat warga di muka bumi. Ada yang mengusulkan demo, ada yang mengusulkan lapor TV, ada Pak Darto yang mengusulkan—dengan serius—memasang pocong-pocongan di sepanjang gang agar alat berat takut, yang ditolak Bu Sari dengan satu pelototan. Tapi yang penting, gang itu sepakat: mereka akan melawan, lewat jalur hukum, dipimpin Bu Sari dan dibantu Nayla, dan tak ada satu pun yang akan menandatangani atau menerima amplop sendiri-sendiri.
Ki Lawu duduk di pojok balai RT sepanjang rapat, diam, sekadar hadir. Ia tak bisa memberi mereka kuasa. Ia hanya bisa memberi mereka keberadaannya, dan keberadaan itu—anehnya—menenangkan orang-orang yang bahkan tak tahu siapa ia sebenarnya. Mereka hanya tahu ia 'sesepuh tanaman' yang aneh tapi baik, yang gang hijaunya membuat kelurahan memuji mereka. Mereka tak tahu ia memikul beban yang jauh lebih besar dari spanduk merah.
Malam itu, setelah rapat bubar, Ki Lawu tak pulang ke kamarnya. Ia pergi ke pekarangan kecil di belakang kost—bukan pot-pot kali ini, tapi sepetak tanah asli, tanah sungguhan, tanah Jakarta yang keras dan padat dan tak pernah mengakui siapa pun selama puluhan tahun ditimpa semen dan diinjak dan diabaikan.
Selama ini ia menumbuhkan tanah hidup di dalam pot. Pot adalah benteng yang aman—tanah yang ia bawa, ia kendalikan, ia bangun dari nol. Tapi pot tak berakar ke bumi kota. Pot adalah tamu di atas tanah, seperti dirinya tamu di atas kota. Dan benteng yang dibuat dari tamu tak akan pernah cukup kuat untuk menahan apa yang akan datang.
Ia harus berakar ke tanah asli. Ia harus membuat tanah kota yang sebenarnya—tanah keras yang tak mengenalnya—mengakuinya.
Ia berlutut di sepetak tanah itu. Ia tak punya kuasa menumbuhkan lagi. Ia tak bisa lagi memaksa benih tumbuh atau membangunkan tanah dengan napas. Yang ia punya hanya cara—cara lama, cara satu-satunya yang tersisa: pengakuan butuh perawatan, dan perawatan butuh waktu, dan ia tak tahu apakah ia punya cukup waktu.
Maka ia melakukan apa yang ia ajarkan pada warga selama berbulan-bulan, tapi kali ini pada tanah yang sama sekali asing. Ia menggali dengan tangannya yang tua. Ia mencampurkan kompos dari dapur Bu Sari, cacing yang dibawakan Pak Karyo dalam ember, sisa tanah hidup dari pot tertua mereka—setitik ragi, setitik yang sudah mengenalnya, untuk mengenalkannya pada yang baru. Ia berbicara pada tanah keras itu, bukan dengan kuasa, tapi dengan hormat, menyebutnya dengan benar, meminta izin, menjanjikan rawatan.
Tanah itu tak menjawab. Tentu saja tidak. Tanah yang puluhan tahun diabaikan tak menjawab dalam satu malam. Ki Lawu bekerja sampai jauh malam, sampai jari-jarinya kotor dan punggungnya sakit dan tubuh manusianya yang sekarat memprotes, dan ketika ia akhirnya berhenti, tanah itu masih diam, dan ia pulang ke kamarnya dengan kekecewaan tua di dadanya.
Ia kembali keesokan malamnya. Dan malam setelahnya. Nayla membantunya di sela-sela menyiapkan berkas hukum—mereka menanam kangkung, bayam, cabai, apa pun yang cepat tumbuh, di petak itu, dan menyiramnya, dan mencabuti gulmanya, dan memberinya perhatian yang konsisten dan tak menuntut. Bu Sari menyumbang sisa sayur. Pak Karyo menyumbang cacing dan kabar. Bahkan Mbak Yuni, yang lukanya sudah ditutup, datang ikut menyiram, menebus diam-diam waktu-waktu ia hampir jadi pintu bagi yang lapar.
Dan pada malam ketujuh, ketika Ki Lawu berlutut dan menjulurkan tangannya ke tanah itu untuk yang kesekian kali, tanpa harapan, hanya kebiasaan—
tanah itu bernapas balik.
Tipis. Sangat tipis. Tak sekuat Sumberwangi, tak sekuat tanah keramat yang mengenalnya sejak masa sebelum Kompeni datang. Hanya sehelai napas, samar seperti embun. Tapi itu tanah asli. Tanah kota. Tanah Jakarta yang keras dan tak percaya, yang selama puluhan tahun tak mengakui siapa pun, malam itu mengakuinya.
Ki Lawu menahan napas. Ia memanggil tanah itu—pelan, ragu, takut salah—dan tanah itu, untuk pertama kalinya sejak ia tiba di kota ini, menjawab panggilannya. Sebuah denyut. Sebuah pengakuan. Sebuah ya yang kecil dan utuh.
Ia duduk di petak tanah itu di bawah langit kota yang oranye oleh lampu, dan ia menangis untuk kedua kalinya dalam seminggu, tapi kali ini bukan karena kehilangan. Ia berakar. Untuk pertama kalinya sejak beringinnya tumbang, ia berdiri di tanah yang adalah miliknya—bukan pinjaman, bukan tamu, tapi miliknya, ditumbuhkan dari nol dengan perawatan dan waktu dan tangan banyak orang.
Dan dalam pengakuan kecil itu, ia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya: pulang ke Sumberwangi bukan lagi satu-satunya jalan untuk berhenti memudar. Ia bisa hidup di sini. Tapi—dan tanah yang baru mengakuinya itu seolah berbisik pula—berakar di sini berarti melepas Sumberwangi. Tanah tak bisa diakui dari dua tempat sekaligus. Untuk berdiri di sini, ia harus berhenti melihat ke selatan.
Ia belum siap melepas. Tapi ia tak lagi sendirian di atas tanah.