Spanduk itu terpasang di mulut gang pada Senin pagi, terbentang di antara dua tiang listrik, putih dengan huruf merah besar: PERINGATAN — KAWASAN INI AKAN DITERTIBKAN. Di bawahnya, dalam huruf lebih kecil, nomor surat, pasal, tanggal, dan logo dua instansi serta logo Cakra Bumi di pojok kanan, kecil tapi tak terbantahkan.
Gang itu meledak dalam panik sebelum jam tujuh.
Ibu-ibu berkumpul di depan warung Bu Yati, ponsel di tangan, saling kirim foto spanduk ke grup WhatsApp RT. Bapak-bapak yang biasanya sudah berangkat kerja berdiri di pinggir jalan, menggaruk kepala, berdebat. Anak-anak yang mau berangkat sekolah berhenti memandangi spanduk merah itu, tak mengerti, hanya merasakan kecemasan orang dewasa menular ke udara.
Bu Sari keluar dari kost dengan daster dan rambut belum disisir, membaca spanduk itu sekali, dua kali, dan wajahnya yang biasanya tegas berubah pucat. Kost ini bukan sekadar rumahnya. Kost ini adalah hidupnya—peninggalan suaminya, sumber penghasilannya, tempat ia membesarkan anaknya yang kini merantau, tempat ia menua. Tujuh kamar yang ia rawat sepenuh hati selama dua puluh tahun. Ia menatap huruf DITERTIBKAN itu dan untuk sesaat lututnya lemas.
Lalu sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang sama kerasnya dengan tanah yang dipijaknya—menegang.
"Tidak," katanya, pelan dulu, lalu lebih keras. "Tidak. Saya tidak akan pindah."
Ia berbalik menghadap kerumunan ibu-ibu yang panik, dan dua puluh tahun jadi ibu kost yang ditakuti penunggak uang sewa keluar semua dari suaranya. "Kenapa pada bengong? Ini surat peringatan, bukan surat kematian. Suami saya almarhum dulu sekretaris RT, saya tahu beginian harus dilawan pakai apa—pakai kertas juga. Mereka punya surat, kita punya surat. Mereka punya pasal, kita cari pasal. Yang punya sertifikat tanah, kumpulkan. Yang ngontrak, ngumpul juga, karena penggusuran itu ada aturannya, ada ganti ruginya, ada haknya. Jangan ada yang teken apa pun, jangan ada yang terima amplop, jangan ada yang ketakutan sendiri-sendiri. Sore ini, balai RT, rapat. Sekarang semua mandi dulu, berangkat kerja, jangan sampai hidup berhenti cuma gara-gara kain merah!"
Dan entah bagaimana, omelan ibu kost itu lebih menenangkan daripada seribu kata penghiburan. Kerumunan mulai bubar, masih cemas, tapi tak lagi panik. Ada yang memimpin. Ada arah.
Nayla menyaksikan dari teras kost, dan dadanya sesak oleh sesuatu yang ia tak duga: pengenalan. Ia pernah berdiri di gang seperti ini. Ia pernah jadi anak kecil yang memandangi spanduk merah di depan rumahnya sendiri, bertahun-tahun lalu, di gang lain, di kota lain. Ia ingat ibunya menangis. Ia ingat ayahnya yang bingung membolak-balik surat tanah yang katanya bermasalah. Ia ingat tak ada yang memimpin, tak ada yang tahu harus melawan ke mana, dan satu per satu tetangga menyerah, menerima amplop, pindah, sampai rumahnya berdiri sendirian dan akhirnya juga roboh.
Kali ini berbeda. Kali ini ia tak buta hukum. Tiga bulan magang di firma arsitektur, akses ke dokumen, ilmu yang ia kumpulkan diam-diam, dan—ini yang baru—kemarahan yang tak lagi cuma membakar dirinya sendiri. Kemarahan yang punya arah.
Ia membuka laptopnya di teras dan mulai mengetik. Tata cara pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Syarat sah penggusuran. Hak warga atas musyawarah dan ganti rugi yang layak. Ia tahu di mana Cakra Bumi biasa curang—ia melihatnya di berkas keluarganya sendiri, sertifikat yang sengaja dilenyapkan, musyawarah yang dipalsukan. Mereka akan mengulangi modus yang sama di sini, karena modus itu selalu berhasil pada orang yang tak tahu.
Tapi gang ini tahu sekarang. Karena ada Bu Sari yang keras kepala, dan ada Nayla yang membawa pulang ilmu dari sarang serigala.
Ki Lawu berdiri di sampingnya, memandang gadis itu mengetik dengan jari-jari yang cepat dan marah dan terarah, dan ia merasakan ironi menusuk dadanya. Selama berbulan-bulan ia mendesak Nayla menyembuhkan luka kehilangan rumahnya. Gadis itu menolak, takut sembuh berarti memaafkan. Tapi sekarang ia melihat: luka itu tak perlu dimaafkan untuk sembuh. Luka itu sedang menyembuhkan dirinya sendiri dengan cara terbaik—dengan menjadi senjata, dengan dipakai untuk menjaga orang lain agar tak mengalami yang sama.
"Nak," katanya pelan. "Dulu kau tak bisa menyelamatkan rumahmu."
Nayla tak berhenti mengetik. "Iya, Pak."
"Tapi kau bisa menyelamatkan rumah ini."
Jari-jari gadis itu berhenti sejenak. Ia menatap layar, dan Ki Lawu melihat matanya berkaca, tapi rahangnya mengeras. "Itu yang aku lakukan," katanya. "Itu persis yang aku lakukan."
Dan Ki Lawu, yang tak lagi bisa menumbuhkan tanaman, menyaksikan sesuatu yang lebih indah dari tanaman tumbuh: ia menyaksikan luka berubah jadi akar.