Kabar itu datang lewat ponsel Nayla, tiga hari setelah malam di firma, dalam bentuk yang paling membumi dan paling mengerikan sekaligus: sebuah pengumuman pers di situs berita properti, dengan foto Tuan Wibawa yang tak ada—hanya logo Cakra Bumi dan kutipan dari juru bicara—yang berbunyi bahwa pembangunan superblok terpadu akan dipercepat enam bulan dari jadwal, dengan pembebasan lahan tahap akhir dimulai bulan depan.
Nayla membaca peta kawasan di pengumuman itu dengan otak arsiteknya, dan tangannya mulai dingin.
"Pak," katanya, suaranya tipis. "Tahap akhir. Kawasan yang mau dibebaskan tahap akhir." Ia memutar layar ponselnya ke arah Ki Lawu, lalu sadar lelaki itu tak akan paham peta, dan menjelaskannya dengan jarinya. "Ini sungai. Ini jalan layang. Dan ini—" jarinya berhenti di satu titik, "—kolong jembatan. Tempat roh-roh berkumpul. Dan ini—" jarinya bergeser sejengkal, "—gang kita. Kost Bu Sari. Semuanya. Mereka mau menggusur semuanya sekaligus."
Ki Lawu menatap titik kecil di peta yang adalah rumahnya sekarang, dan ia merasakan sesuatu yang dingin dan keras mengeras di dadanya—bukan ketakutan, tapi kemarahan tua yang sama dengan malam beringinnya tumbang.
Selama ini ancaman datang dari dua arah yang ia anggap terpisah. Ada makhluk lapar, di pojok tabir, di luka Yuni, di tubuh Renata—horor yang ia kurung di pojok-pojok. Dan ada Cakra Bumi, korporasi dengan kertas dan tanda tangan dan alat berat—musuh manusia yang ia lawan dengan hukum dan dokumen. Ia memperlakukannya sebagai dua pertarungan. Sekarang ia melihat, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa keduanya satu. Penggusuran adalah cara makhluk lapar makan. Tiap lahan yang diuruk merobek tabir setitik. Dan kini makhluk itu lapar, terdesak oleh pagar pot dan tanah hidup mereka, dan ia menyuruh tangannya di dunia manusia untuk makan lebih cepat, lebih banyak, sekaligus.
"Ia tidak menggusur untuk membangun," kata Ki Lawu pelan. "Ia membangun untuk menggusur. Dan ia mempercepat karena lapar. Karena kita membuatnya lapar."
"Berarti—" Nayla menelan ludah. "Berarti kita yang menyebabkan ini? Pagar pot kita, kampanye gang hijau, semua tanah hidup—itu yang membuatnya kelaparan, dan sekarang ia balas dengan menggusur rumah kita?"
"Tidak." Ki Lawu menggeleng tegas. "Jangan pernah berpikir begitu, Nak. Itu cara berpikirnya. Ia ingin kau merasa bersalah karena merawat. Ia ingin kau berpikir bahwa kalau kau tidak melawan, ia akan membiarkanmu. Ia tidak akan. Ia tidak pernah. Yang lapar selalu lapar, dirawat atau tidak. Bedanya hanya: kalau kau merawat, setidaknya ada yang tersisa untuk dijaga."
Mereka membawa kabar itu ke kolong jembatan malam itu. Pak Karyo memandu mereka lewat lorong gelap di balik tiang beton, ke ruang sempit di bawah jalan layang tempat roh-roh tersesat berkumpul—penunggu sumur tua yang sumurnya sudah diuruk, penjaga pohon kenari yang pohonnya sudah ditebang, dhanyang sungai kecil yang sungainya sudah dibeton. Mereka berkumpul di sekitar satu pot tanah hidup yang Ki Lawu tinggalkan minggu lalu, menghangatkan diri pada napasnya seperti orang menghangatkan diri pada bara.
Ki Lawu, sebagai tetua mereka sekarang, harus mengatakannya.
"Tempat ini," katanya, dan suaranya berat, "akan diambil. Tanah di atas kepala kita, tiang-tiang ini, kolong ini—mereka akan menggusurnya untuk bangunan besar. Dan kalian tahu apa artinya gusuran bagi kita."
Roh-roh itu bergetar. Dhanyang sungai kecil—yang paling muda, yang paling takut—berbisik dengan suara seperti air di gorong-gorong, "Lalu kita ke mana, Ki? Kita sudah tidak punya tempat. Kolong ini satu-satunya yang tersisa. Kalau ini diambil, kita jadi lapar. Kita jadi seperti dia."
Dan itulah ketakutan terdalam mereka. Bukan mati. Roh tak mati. Tapi menjadi lapar—menjadi kekosongan, menjadi yang memburu kawan sendiri—itu lebih buruk dari mati.
Ki Lawu memandang wajah-wajah pudar itu, kaumnya yang terlempar, yang dulu masing-masing punya tanah dan pohon dan sumber air, yang kini berdesakan di bawah jalan layang di kota yang melupakan mereka. Dan ia membuat keputusan yang sudah lama tumbuh di dadanya tanpa ia akui.
"Tidak," katanya. "Kalian tidak ke mana-mana. Kita tidak lari lagi. Selama ratusan tahun kalian dijaga oleh tanah. Sekarang giliran kita menjaga tanah. Kita akan melawan. Bukan dengan kuasa—aku sudah hampir tak punya kuasa. Tapi dengan akar. Mereka mau mengambil tanah ini? Maka kita buat tanah ini terlalu hidup untuk diambil."
Di luar, alat berat Cakra Bumi sudah diparkir di mulut kawasan, oranye dan diam dalam gelap, menunggu pagi. Tapi di kolong jembatan, untuk pertama kalinya, roh-roh yang terlempar berhenti gemetar dan mulai mendengarkan rencana.