Mereka pulang naik ojek online—dua motor, karena Ki Lawu terlalu lemah untuk dibonceng berdua—dan sepanjang jalan Ki Lawu memandangi pot-pot di pinggir gang yang mereka lewati. Pot melati di depan warung. Pot cabai di teras rumah petak. Pohon ketapang di tikungan. Selama ini, tiap kali ia melewati tanaman, ada percakapan diam-diam antara dirinya dan tumbuhan itu—sapaan, pengakuan, semacam anggukan antara sesama yang tahu rahasia tanah. Malam itu, untuk pertama kalinya, tanaman-tanaman itu diam. Mereka tetap tanaman. Tapi mereka tak lagi menyapanya. Ia melewati mereka seperti orang asing melewati orang asing.
Di kost, Bu Sari sudah menunggu di teras dengan termos teh dan wajah cemas yang ia coba sembunyikan dengan omelan. "Dari mana saja sampai tengah malam begini. Nayla, kamu—astaga, Pak Lawu, mukamu kayak mayat hidup. Sini, duduk. Teh dulu."
Ki Lawu duduk. Ia memegang gelas teh hangat dengan dua tangan, merasakan panasnya merembes ke jari-jari tua yang kini hanya jari-jari tua, dan ia tak tahu harus mengatakan apa.
Nayla yang menjelaskan, pelan-pelan, sebanyak yang bisa diterima Bu Sari tanpa membuat perempuan itu memanggil ustaz atau Satpol PP. Bahwa ada bahaya di firma. Bahwa Ki Lawu menyelamatkannya. Bahwa Ki Lawu kehilangan sesuatu yang penting.
Bu Sari diam mendengarkan. Ia sudah lama berhenti menertawakan hal-hal aneh sejak melihat anak Pak Darto selamat dari demam yang dokter bilang tak masuk akal, sejak pot-pot di sudut kostnya tak pernah lagi diserang sesuatu yang menggaruk dinding di malam hari. Ia tak mengerti semuanya. Tapi ia percaya pada hasilnya.
"Yang hilang itu," tanya Bu Sari akhirnya, "yang bikin Pak Lawu bisa nanam itu?"
Ki Lawu mengangguk.
Bu Sari diam sebentar. Lalu, dengan logika ibu kost yang tak pernah meleset, ia berkata, "Ya sudah. Kalau Pak Lawu nggak bisa nanam, ya nanti yang nanam saya. Pak Lawu yang nyuruh. Wong selama ini juga yang rajin nyiram saya, kok. Pak Lawu cuma ngomong sama tanamannya, mereka yang gede sendiri."
Ia mengatakannya untuk menghibur, tanpa tahu betapa dalam kata-kata itu menusuk dan menyembuhkan sekaligus. Karena memang begitu, sebenarnya. Ki Lawu tak pernah menumbuhkan tanaman dengan paksaan. Ia menumbuhkannya dengan pengakuan—dengan menyebut tanaman itu dengan benar, dengan memberinya tempat, dengan mencintainya cukup hingga ia mau tumbuh. Kuasa yang hilang itu hanya tangan. Tapi cara itu—cara menjaga—masih ada di dadanya.
Malam itu Ki Lawu tak bisa tidur. Ia keluar ke pekarangan kecil belakang kost, tempat pot-pot tanah hidup mereka berbaris, dan ia berlutut di antara mereka. Ia menjulurkan tangan ke tanah dalam pot terdekat—tanah yang dulu ia bangunkan sendiri, kompos dari dapur dan cacing Pak Karyo dan setitik stek lama—dan ia menunggu pengakuan yang biasa: napas tanah, denyut samar, sapaan. Selama beberapa detik tak ada apa-apa, dan rasa kosong itu kembali menggigit.
Lalu, sangat samar, tanah itu bernapas balik.
Bukan karena ia menumbuhkannya. Ia tak bisa lagi. Tapi karena tanah itu masih mengenalnya. Pengakuan tak butuh kuasa menumbuhkan; pengakuan hanya butuh dirawat. Tanah dalam pot itu masih ingat tangan yang membangunkannya, dan ia menyapa Ki Lawu pelan, seperti anak menyapa kakek yang sudah tua dan rapuh tapi tetap kakeknya.
Ki Lawu menangis di sana, di antara pot-pot, di pekarangan sempit di belakang kost di kota yang tak percaya penjaga. Bukan tangis kehilangan saja. Ada lega di dalamnya. Ia kira ia adalah kemampuannya. Ternyata bukan. Ia adalah yang ia jaga, dan yang ia jaga masih ada.
Paginya, Pak Karyo datang dengan sapu lidinya dan menemukan Ki Lawu masih di pekarangan, tertidur duduk di antara pot-pot. Tukang sampah tua itu—yang bisa melihat yang halus sejak kecil—berdiri lama memandanginya, lalu berjongkok dan menepuk lutut Ki Lawu dengan lembut.
"Ki," katanya pelan, memakai panggilan hormat yang ia simpan untuk dhanyang sungguhan. "Roh-roh kolong nanya. Mereka cemas. Tabir di kantor itu sempat kebuka semalam, mereka semua ngerasa. Mereka pikir Ki ndak balik."
Ki Lawu membuka mata. "Aku balik. Tapi aku pulang membawa lebih sedikit dari yang aku bawa pergi."
Pak Karyo memandang tangan Ki Lawu, lalu memandang pot-pot di sekeliling mereka yang masih hijau, masih hidup, masih bernapas. "Tanaman-tanaman ini ndak peduli Ki bisa numbuhin atau ndak," katanya. "Mereka cuma peduli Ki masih di sini buat ngerawat. Roh-roh juga gitu. Mereka ndak butuh Ki yang kuat. Mereka butuh Ki yang ada."
Dan dalam kalimat sederhana tukang sampah itu, Ki Lawu menemukan jalan baru—pahit, lebih kecil dari masa lalunya, tapi jalan. Ia tak lagi penjaga tanah. Ia menjadi penjaga orang. Dan ternyata, untuk yang terakhir, ia tak butuh kuasa sama sekali. Ia hanya butuh tinggal.