Kegelapan di ruang rapat itu bukan kegelapan biasa. Ki Lawu pernah berdiri di hutan paling pekat di kaki gunung, malam tanpa bulan, dan bahkan di sana ada suara—jangkrik, daun, napas tanah. Kegelapan ini tak punya suara. Ia menelan suara seperti menelan cahaya, dan dalam keheningan yang menebal itu, Ki Lawu mendengar sesuatu yang lebih buruk dari geraman: ia mendengar Renata berdiri.
Kursi terdorong ke belakang dengan suara gesekan pelan, sopan, hampir anggun. Lalu Renata—yang ada di dalam Renata—mengangkat tangannya, dan tabir di ruangan itu robek.
Ki Lawu tak melihatnya dengan mata. Ia merasakannya di tulang, seperti kain basah yang disobek dari dua sisi, seperti jahitan lama yang putus. Udara di sekeliling meja rapat menjadi dingin yang menyengat, dan dari celah yang menganga itu—celah yang tak punya tempat di dunia mana pun—mengalir hawa lapar yang begitu pekat hingga lampu darurat di langit-langit pun padam, satu per satu, seolah dihirup.
"Lari," kata Ki Lawu pada Nayla, dan ia tak menoleh. "Lewat tangga. Jangan lift. Jangan menoleh. Jangan berhenti walau kau dengar aku."
"Pak, aku tidak akan—"
"NAYLA." Suaranya pecah, dan untuk pertama kalinya gadis itu mendengar ketakutan murni di dalamnya—bukan ketakutan untuk diri, tapi untuk dia. "Aku tidak bisa menahannya dan menjagamu sekaligus. Kalau kau di sini, aku harus memilih, dan aku akan memilihmu, dan saat itu kita berdua mati. Pergi supaya aku punya satu hal saja untuk dijaga. Pergi supaya aku bisa."
Nayla berlari.
Ki Lawu mendengar pintu darurat terhempas, langkah kaki gadis itu menuruni tangga beton, dua-dua anak tangga sekaligus, dan ia menutup matanya dan menghadap robekan.
Makhluk lapar datang lewat celah itu bukan sebagai sosok. Sosok adalah kemewahan yang ia pakai untuk menakuti. Yang datang sekarang adalah kelaparan itu sendiri—dingin yang ingin, kekosongan yang menarik, mulut tanpa bentuk yang mencoba menyedot segala yang hangat di ruangan itu menuju seberang. Ki Lawu merasakan tarikan itu mengait di dadanya, di tempat ikatan tanahnya dulu bersemayam, dan ia tahu kalau ia membiarkannya, ia akan ikut tersedot, dan Nayla yang masih di tangga akan ikut.
Maka ia berdiri di mulut robekan dan menahannya dengan satu-satunya hal yang ia punya: dirinya.
Ia tak punya beringin. Tak punya tanah keramat. Tak punya pohon yang mengakuinya. Yang ia punya adalah ratusan tahun ingatan tentang menjaga—dua belas keturunan warga Sumberwangi, mata air yang ia jaga tetap mengalir, sengketa yang ia tengahi, anak-anak yang ia beri untung kecil saat panen gagal—dan ia melemparkan semua itu ke mulut robekan seperti orang melemparkan tubuhnya sendiri ke bendungan yang jebol.
Ia merasakan jam pasir di dadanya mulai mengalir deras. Bukan butir demi butir lagi. Tumpah.
Ikatan demi ikatan terlepas dari dirinya untuk menambal robekan. Ia merasakan dirinya menyusut, menipis, menjadi sedikit, dan di tengah deras itu ia merasakan sesuatu yang spesifik tercabut—sesuatu yang selama ini ia kira adalah dirinya yang paling dalam. Kemampuan menumbuhkan. Tangan yang bisa menyentuh pot mati dan membuatnya berbunga. Napas yang bisa membangunkan benih. Ia merasakannya terlepas dari jari-jarinya, dari dadanya, dari tempat di dalam dirinya yang sejak awal mula adalah dhanyang, dan ia menjerit—bukan dengan suara, suaranya sudah lama tak ada—tapi dengan seluruh keberadaannya.
Makhluk lapar mengambilnya. Mengunyahnya. Dan untuk sesaat, kenyang.
Tapi kenyang sesaat itu cukup. Robekan menutup—tidak rapat, tidak sempurna, hanya cukup—dan tarikan dingin itu berhenti. Hawa lapar mundur ke seberang, menyeret sebagian kuasa Renata bersamanya, dan tubuh perempuan itu jatuh ke kursi, pingsan, manusia lagi untuk sementara, dengan wajah lelah yang nyaris kasihan.
Ki Lawu jatuh berlutut di lantai karpet ruang rapat. Lampu darurat menyala kembali, satu per satu, malu-malu. Ia menatap tangannya sendiri di bawah cahaya merah remang itu. Tangan tua, tangan manusia pinjaman. Ia mencoba—reflek ratusan tahun—mengalirkan kehidupan ke serat karpet di bawahnya, membayangkan rumput tumbuh dari lantai, sekadar untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih ia.
Tak ada apa-apa. Karpet tetap karpet. Tangannya hanya tangan.
Ia duduk di sana, di kantor sepi di lantai tinggi sebuah gedung yang tak mengenalnya, dan untuk pertama kalinya sejak malam beringinnya tumbang, Ki Lawu merasa benar-benar kosong—bukan lemah, bukan lelah, tapi kosong di tempat yang dulu penuh.
Langkah kaki di tangga. Nayla. Gadis itu kembali, melanggar perintahnya, tentu saja melanggar perintahnya, napas tersengal dan air mata di pipi. Ia berlutut di samping Ki Lawu dan memegang bahunya yang gemetar.
"Pak. Pak, aku di sini. Aku tidak menoleh sampai sudah aman, sumpah. Pak, kau—" Ia melihat wajah lelaki tua itu dan berhenti. "Apa yang hilang."
Ki Lawu menatap tangannya yang tak bisa lagi menumbuhkan apa pun. "Yang membuatku menjadi aku," katanya pelan. "Tapi kau hidup. Jadi aku akan belajar menjadi sesuatu yang lain."
Di luar jendela, jauh di bawah, kota Jakarta menyala seperti biasa, tak tahu, tak peduli, bahwa malam itu seorang penjaga baru saja membayar harga yang jauh lebih mahal dari satu gadis—dan tetap menganggapnya murah.