Ki Lawu tak menunggu Nayla turun. Ia naik.
Ia yang biasanya menolak lift sebagai "kotak yang menelan orang", malam itu masuk ke kotak besi itu tanpa ragu, karena ada kemarahan tua di dadanya yang lebih kuat dari rasa asingnya pada kota. Pintu lift terbuka di lantai atas, dan ia berjalan ke ruang rapat dengan langkah seorang penjaga yang akhirnya berhadapan dengan apa yang ia lepaskan ke dunia.
Nayla berdiri ketika ia masuk, lega dan tegang sekaligus. "Pak—"
"Berdiri di belakangku, Nak," kata Ki Lawu pelan, matanya tak lepas dari Renata. "Dan jangan dengarkan apa pun yang ia tawarkan. Apa pun."
Renata—yang ada di dalam Renata—tak berdiri. Ia tetap duduk, anggun, dan menatap dhanyang tua itu dengan senyum yang membuat seluruh ruangan terasa seperti kuburan. "Akhirnya," katanya, suaranya bukan suara perempuan itu lagi, melainkan sesuatu yang lebih tua dari bahasa, yang terdengar seperti banyak suara bicara dari satu mulut. "Penjaga kecil dari desa kecil. Yang membukakan pintu untukku tanpa sengaja, lalu menghabiskan sisa hidupnya yang sedikit mencoba menutupnya lagi. Duduklah. Kita sesama tamu di dunia ini, kau dan aku. Sesama yang terlempar lewat tabir."
"Kita tidak sama," kata Ki Lawu, suaranya rendah dan keras. "Aku menjaga. Kau memakan. Aku menumbuhkan. Kau mengosongkan. Jangan menghinaku dengan kata 'sesama'."
Makhluk itu tertawa lewat bibir Renata, suara yang membuat lampu ruangan berkedip. "Begitu yakin. Begitu mulia." Ia mencondongkan tubuh ke depan, dan suaranya berubah—melembut, membujuk, mengiris. "Tapi aku tahu apa yang kau inginkan, Lawu. Aku menciumnya darimu sejak malam beringinmu tumbang. Aku merasakannya tiap kali kau memandang ke arah selatan, ke arah gunung, ke arah desa yang sudah bukan rumah lagi tapi yang masih kau impikan tiap malam. Kau ingin pulang."
Ki Lawu diam. Dan diamnya, ia tahu, adalah kesalahan, karena makhluk itu mencium kelemahan dalam diam itu seperti hiu mencium darah.
"Dengarkan tawaranku," kata si lapar, dan kini suaranya hampir lembut, hampir baik, dan itulah yang paling mengerikan. "Serahkan gadis itu. Hanya satu manusia. Satu hidangan yang sudah matang, yang lukanya sudah lama kuincar. Berikan ia padaku, dan akan kuberikan padamu segalanya yang kau inginkan. Akan kutarik kembali tanganku dari Sumberwangi. Kuhentikan proyek di sana. Kubiarkan robekan di tunggul beringinmu menutup. Kupulihkan mata air yang kering. Dan tanahmu—tanahmu yang lama, yang mengenalmu sejak masa Kompeni belum datang—akan mengakuimu lagi. Kau bisa pulang, Lawu. Bukan ke reruntuhan. Ke Sumberwangi yang hidup. Kau bisa berhenti memudar. Kau bisa menjadi dirimu lagi, utuh, kuat, di pohon yang akan kutumbuhkan kembali untukmu. Semua yang kau hilangkan, kukembalikan. Untuk harga satu gadis yang berbau seperti tanah yang direnggut."
Dan inilah yang kejam: tawaran itu nyata. Ki Lawu merasakannya. Makhluk ini cukup kuat, cukup terhubung dengan tanah-tanah yang ia makan, untuk melakukannya. Ia bisa membuka jalan pulang. Ia bisa mengembalikan semua yang gergaji dan kertas tanda tangan renggut dari Ki Lawu di malam beringinnya tumbang. Wajah ibunya yang ia lupa, nama sumber air yang ia lupa, kekuatannya yang memudar, tubuh roh-nya yang sekarat—semua, semua bisa kembali. Yang ia inginkan lebih dari apa pun di dunia ini, ditawarkan di atas meja, dengan harga satu nyawa.
Dan untuk satu detik yang membuatnya benci pada dirinya sendiri seumur sisa hidupnya, ia ragu.
Satu detik. Di mana ia melihat Sumberwangi yang hijau lagi. Di mana ia melihat wajah ibunya kembali ke ingatannya. Di mana ia berhenti lelah, berhenti memudar, berhenti menjadi lelaki tua kelaparan tanpa nama di kota yang tak peduli. Satu detik di mana bagian terdalam dirinya yang paling lelah berbisik: hanya satu manusia. Kau penjaga ratusan tahun. Kau sudah menyelamatkan ribuan. Apa artinya satu—
Lalu ia merasakan Nayla di belakangnya. Tangan gadis itu mencengkeram lengan kemejanya—batik almarhum suami Bu Sari—gemetar tapi tak melepaskan. Gadis yang menghitung sisa umurnya seperti menghitung anggaran. Yang membuat buku ingatan agar ia tak lupa siapa dirinya. Yang merancang tanah hidup dari sisa dapur dan cacing. Yang marahnya lahir dari luka yang sama dengan luka Ki Lawu sendiri. Yang menyebut namanya ketika ia tenggelam di air banjir, dan yang namanya ia genggam mati-matian ketika semua ingatan lain terlepas.
Dan ia tahu, dengan kejernihan yang dingin dan mutlak, bahwa makhluk ini telah membuat satu kesalahan besar. Ia menawarkan Sumberwangi pada Ki Lawu. Tapi Sumberwangi bukan lagi rumah. Rumah Ki Lawu sekarang berdiri di belakangnya, mencengkeram lengannya, gemetar tapi tak lari.
"Tidak," kata Ki Lawu, dan satu kata itu terasa seperti menutup robekan dengan telapak tangannya sendiri. "Aku tidak akan menyerahkannya. Tidak untuk Sumberwangi. Tidak untuk wajah ibuku. Tidak untuk segala yang kau curi dariku." Suaranya menguat, dan untuk sesaat, di tubuh manusia yang sekarat itu, terdengar wibawa dhanyang yang menjaga dua belas keturunan. "Karena yang kau tawarkan adalah pulang ke tanah. Dan aku sudah belajar, di kota yang tak percaya penjaga ini, bahwa rumah bukanlah tanah. Rumah adalah yang kita jaga. Dan aku memilih menjaga dia."
Si lapar berhenti tersenyum.
Lampu ruang rapat mati seluruhnya. Suhu jatuh sampai napas mereka mengepul. Dan di kegelapan, suara makhluk itu tak lagi lembut, tak lagi membujuk—ia menjadi sesuatu yang purba dan dingin dan sangat, sangat marah. "Kalau begitu," desisnya lewat bibir Renata, "akan kuambil dia darimu. Dan akan kupastikan kau cukup hidup untuk menyaksikannya. Penolakanmu, Lawu, baru saja membayar harga yang jauh lebih mahal dari satu gadis."
Ki Lawu menarik Nayla ke belakang punggungnya, merasakan tabir di ruangan itu mulai menipis seperti kain ditarik dari dua sisi, dan ia tahu—dengan jam pasir di dadanya mengalir butir demi butir, dengan tubuhnya yang terlalu lemah untuk pertarungan yang akan datang—bahwa tawar-menawar telah gagal, dan yang menggantikannya tak akan semanis kata-kata. Tapi ia tetap berdiri di antara gadis itu dan kegelapan yang menganga, seperti yang selalu ia lakukan, seperti yang akan selalu ia lakukan, sampai butir terakhir di jam pasirnya jatuh.