Undangan itu datang lewat pesan singkat yang sopan dan dingin, dan justru kesopanannya yang membuat Nayla merinding. "Nayla, saya ingin bicara empat mata soal masa depanmu di firma. Malam ini, sehabis jam kantor, ruang rapat lantai atas. Saya pesan makan malam." Ditandatangani: Renata.
"Itu jebakan," kata Ki Lawu malam itu di kost, suaranya tegas. "Manajer yang dingin sepertinya tidak memesankan makan malam untuk magang. Ia mencurigaimu. Mungkin tahu soal Pak Hendra, soal flashdisk, soal yang kau salin. Kau tak boleh pergi sendirian."
"Saya nggak punya pilihan, Pak," kata Nayla. "Kalau saya nolak, dia makin curiga. Saya bisa kehilangan akses sebelum buktinya cukup buat ke pengadilan. Saya harus dateng, pura-pura nggak tahu apa-apa, baca dia."
"Maka aku ikut," kata Ki Lawu, dan nadanya tak menerima bantahan. "Aku akan menunggu di luar gedung. Tapi aku harus dekat. Karena ada yang harus kupastikan dari jarak dekat, sesuatu yang sudah lama kucurigai sejak pertama aku mengendus perempuan itu."
Gedung firma di malam hari adalah kerangka kaca yang kosong dan dingin. Nayla naik ke lantai atas, hatinya berdebar, flashdisk asli ia tinggal di tempat aman dan hanya membawa dirinya yang berpura-pura polos. Renata menunggunya di ruang rapat dengan dua piring makanan dari restoran mahal yang menguarkan aroma yang, anehnya, tak membangkitkan selera sama sekali di ruangan sedingin itu.
"Duduk," kata Renata. Perempuan itu cantik dengan cara yang tajam dan sempurna, tak satu helai rambut pun keluar dari tempatnya, dan ketika ia tersenyum, senyumnya tak sampai ke matanya. "Saya perhatikan kamu, Nayla. Magang yang rajin. Terlalu rajin. Lembur Jumat malam, akses ke arsip lama yang bukan urusan magang." Ia memotong sepotong daging dengan gerakan yang terlalu rapi. "Saya ingin tahu apa yang kamu cari."
Di luar gedung, di trotoar gelap di bawah lantai atas, Ki Lawu berdiri menengadah, dan ia mengerahkan inderanya yang justru menajam karena tubuhnya melemah. Ia menutup matanya, dan ia mengendus—bukan dengan hidung tubuh ini, tapi dengan bagian dirinya yang lebih tua. Ia mencari bau Renata di lantai atas itu, bau yang dulu sempat ia cium sekilas saat menjemput Nayla, bau yang membuatnya membeku.
Dan kini, dari jarak dekat, di gedung sepi tanpa keramaian kota yang menutupinya, ia memastikannya. Dan kepastian itu membuat dadanya dingin.
Renata tidak berbau seperti manusia yang dirasuki sebagian, seperti Yuni dulu—tamu tak diundang yang masuk lewat luka dan bisa diusir keluar. Renata berbau seperti rumah yang sudah lama dihuni penyewa baru, yang penghuni aslinya tinggal di kamar belakang sementara penyewa baru memakai seluruh rumah. Makhluk lapar tidak sekadar membisikinya. Ia tinggal di dalamnya. Renata adalah tangan makhluk itu di dunia manusia—mata yang melihat, mulut yang menandatangani, kaki yang berjalan ke rapat-rapat dan menggusur tanah demi tanah. Tubuh manusia yang ditukar dengan ambisi, diisi sebagian oleh sesuatu yang seharusnya terkurung di seberang tabir.
Di atas, Nayla merasakannya juga, meski tanpa indera dhanyang. Ketika Renata menatapnya menunggu jawaban, lampu ruang rapat berkedip sekali. Suhu turun. Dan di jendela kaca gelap di belakang Renata—yang seharusnya memantulkan kota di bawah—Nayla melihat pantulan yang salah. Pantulan Renata di kaca itu bukan perempuan rapi yang duduk di hadapannya. Pantulannya tinggi, terlalu tinggi, dan tanpa wajah, dengan bahu yang melebar dengan cara yang tak mungkin dimiliki tubuh manusia, condong ke depan seolah seluruh ruangan adalah hidangan.
Nayla memaksa dirinya menatap kembali ke Renata yang asli, jantungnya menggila. "Saya cuma pengen belajar, Bu," katanya, suaranya untungnya tak gemetar. "Saya anak arsitektur. Saya pengen ngerti gimana proyek besar dikerjain dari awal. Itu aja."
Renata menatapnya lama, terlalu lama, dan untuk sesaat ada sesuatu yang bergeser di balik matanya—seperti dua orang menatap dari satu pasang mata. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba terdengar lebih dalam, lebih tua, lebih dingin, sama sekali bukan suara seorang manajer proyek, ia berkata:
"Pohon kecil yang penjaganya nyasar ke kota. Saya tahu siapa kamu, Nayla. Dan saya tahu siapa teman tua kamu yang menunggu di trotoar bawah. Sampaikan padanya—" Renata, atau yang ada di dalam Renata, tersenyum, dan kali ini senyum itu sampai ke mata, dan itu jauh lebih buruk. "Sampaikan padanya bahwa saya juga menunggu. Dan bahwa saya punya sesuatu yang sangat ingin saya tawarkan padanya. Sesuatu yang dia inginkan lebih dari apa pun di dunia ini."
Di bawah, di trotoar, Ki Lawu membuka matanya, dan ia merasakan tatapan itu—merasakan makhluk di dalam Renata menoleh ke arahnya menembus lantai-lantai beton, mengenalinya, menyapanya. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di kota, antagonis manusia dan antagonis gaib yang ia lawan menyatu jadi satu wajah, satu suara, satu kehendak. Dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa permainan kucing-kucingan sudah berakhir. Mereka saling tahu sekarang. Dan yang lapar baru saja menyebut, dengan suara yang memakai bibir perempuan cantik di lantai atas, kata yang paling Ki Lawu takutkan: sesuatu yang dia inginkan lebih dari apa pun di dunia ini.