Nayla baru pulang dari begadang di studio kampus, kepala penuh garis kontur dan kelopak mata berat, ketika ia melihat pria itu untuk pertama kali—dan langsung memutuskan hari ini akan jadi panjang.
Di depan kost Bu Sari, di samping pot palem kuning yang sudah setengah mati karena tak ada yang sempat menyiram, berdiri seorang lelaki paruh baya. Pakaiannya entah apa—kemeja lusuh kebesaran yang jelas bukan miliknya, mungkin pungutan dari tumpukan baju bekas. Tapi bukan itu yang membuat Nayla berhenti mengayuh langkah. Yang membuatnya berhenti adalah pria itu sedang membungkuk hormat. Pada palem.
"Maafkan saya," kata pria itu pada tanaman, suaranya pelan dan sungguh-sungguh. "Anda haus. Tak ada yang merawat Anda dengan benar. Sabarlah sebentar."
Nayla menatap, menunggu kamera tersembunyi atau teman iseng melompat keluar. Tidak ada. Pria itu lalu berbalik, menyusuri selokan kecil di tepi gang, dan menunduk lagi—kali ini pada got—sambil bergumam, "Air, kau jauh dari sumber. Pasti lelah mengalir tanpa tahu pulang ke mana."
"Oke," gumam Nayla pada dirinya sendiri. "Om-om gila."
Ia hendak menyelinap masuk, tapi Bu Sari sudah lebih dulu muncul di pintu pagar dengan sapu di tangan dan wajah perang. "Heh, Pak! Ngapain mondar-mandir dari subuh di depan kost saya? Mau nyolong jemuran ya? Saya panggil Pak RT, saya panggil satpam kompleks sebelah, lho!"
Pria itu menoleh, dan—ini yang membuat Nayla agak goyah dari teori 'om-om gila biasa'—ia tidak gugup, tidak marah, tidak mengiba. Ia malah menegakkan punggung dengan wibawa yang aneh, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada dan membungkuk dalam, persis cara orang menghormat di pendapa.
"Saya tidak bermaksud mengganggu, Nyai," katanya. "Saya hanya numpang berteduh. Nama saya Lawu. Saya tersesat jauh dari tempat asal saya, dan saya... belum makan sejak kemarin."
Bu Sari tertegun. "Nyai?" ulangnya, antara tersinggung dan geli. "Saya bukan dukun, Pak. Saya ibu kost."
Nayla menahan tawa meski lelah. Sebelum ia sadar, mulutnya sudah ikut campur, kebiasaan buruk anak arsitektur yang terlalu sering jadi penengah rapat kelompok. "Bu, kayaknya dia beneran kelaparan deh. Lihat aja mukanya." Ia tak tahu kenapa ia membela orang asing aneh ini. Mungkin karena ada sesuatu di mata pria itu—bukan gila, tapi hilang. Seperti orang yang baru saja kehilangan rumah dan belum tahu cara menangisinya.
Bu Sari mendengus, tapi Nayla tahu hati ibu kost itu lebih lembut dari sapunya. "Ya sudah. Tunggu di situ. Jangan masuk. Saya ambilkan nasi sisa. Sekali ini saja."
Ketika Bu Sari masuk, Ki Lawu—Lawu, kata Nayla dalam hati, mencatat—menoleh pada palem yang sekarat itu. Nayla melihat ekspresinya berubah jadi sedih, lalu jadi mantap, seperti orang yang memutuskan melanggar nasihat dokternya sendiri.
"Sebentar," gumam Lawu pada palem. "Setidaknya ini bisa kulakukan."
Nayla tidak tahu apa yang ia lihat berikutnya, dan selama berhari-hari ke depan ia akan terus berdebat dengan dirinya sendiri soal itu. Lawu menyentuh tepi pot dengan dua jari. Tidak ada cahaya, tidak ada asap, tidak ada hal-hal sinetron. Hanya—tanah di dalam pot itu, yang tadi kering dan retak abu-abu, mendadak menggelap lembap seperti baru disiram hujan semalaman. Dari pangkal palem yang setengah mati, dalam waktu yang tak masuk akal, mendorong keluar tunas-tunas baru hijau muda, lalu satu kuntum bunga kecil putih yang sebelumnya tidak ada, mekar penuh seolah sudah berhari-hari menabung untuk saat ini.
Nayla membeku. Matanya pasti menipu. Pasti bunga itu memang sudah ada dan ia tidak perhatikan. Pasti—
Lalu Lawu tumbang.
Tidak perlahan, tidak dramatis. Lututnya hanya tiba-tiba menyerah, dan tubuh tuanya ambruk ke trotoar dengan bunyi tumpul yang membuat Nayla refleks berteriak dan melompat menangkap kepalanya sebelum membentur semen. Pria itu dingin. Bukan dingin biasa—dingin seperti tanah subuh, lembap dan dalam. Wajahnya pucat pasi, napasnya dangkal dan jauh.
"Bu Sari!" Nayla berteriak, panik yang ia sendiri tak duga sebesar itu. "Bu Sari, pingsan! Orangnya pingsan!"
Bu Sari berhamburan keluar dengan piring nasi masih di tangan, dan kedua perempuan itu, mengeluh dan menggerutu dan tetap saja melakukannya, menyeret tubuh berat lelaki asing itu masuk ke beranda kost. Saat menariknya, Nayla melirik ke pot palem. Bunga putih itu masih di sana. Nyata. Mekar penuh, sehat, di pot yang dua menit lalu adalah kuburan kering sebuah tanaman.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia pindah ke kost ini, Nayla—mahasiswi arsitektur semester tua yang percaya pada beban struktur, momen lentur, dan tak satu pun hal yang tak bisa dihitung—merasa ada yang tidak bisa ia hitung. Ia menatap wajah pucat Lawu yang tergeletak di lantai ubin, lalu menatap bunga itu lagi, dan menelan ludah.
"Bu," katanya pelan, "orang ini siapa, sih, sebenarnya?"