Pak Hendra memanggil Nayla ke ruang arsip lama firma pada jam makan siang, ketika lantai itu kosong dan AC-nya bahkan dimatikan untuk hemat. Ia berdiri di antara rak-rak berkas berdebu, arsitek senior yang ramah itu, tapi siang itu wajahnya berbeda—lebih tua, lebih lelah, seperti orang yang sudah lama tak tidur nyenyak karena ada yang menggerogotinya dari dalam.
"Saya tahu kamu ngapain, Nayla," katanya langsung, tanpa basa-basi, suaranya pelan. "Kamu nggak sepintar yang kamu kira nyembunyiinnya. Lembur Jumat malam. Akses ke folder proyek lama. Map Sumberwangi yang kamu buka berkali-kali." Ia mengangkat tangan ketika Nayla mulai gugup membela diri. "Tenang. Saya nggak lapor. Kalau saya mau lapor, kamu udah dipecat dari dua minggu lalu."
Nayla menutup mulutnya, jantungnya berdebar. "Terus kenapa Bapak manggil saya?"
Pak Hendra menatap rak-rak berkas di sekelilingnya, ribuan proyek, ribuan tanah, ribuan tanda tangan. "Saya udah dua puluh tiga tahun di dunia ini," katanya. "Saya masuk waktu masih muda, idealis, mau bikin bangunan yang bagus, yang ngehargain orang, yang ngehargain tanah. Kamu tahu apa yang terjadi sama anak muda idealis di industri ini?" Ia tertawa kecil, pahit. "Pelan-pelan dia belajar nggak nanya. Surat tanah ini kok bisa 'hilang'? Jangan nanya. Warga di lokasi ini kok pindahnya buru-buru banget? Jangan nanya. Kamu desain aja, gambar aja, dapet gaji aja. Tiap kali kamu milih nggak nanya, sepotong dari kamu mati. Sampai suatu hari kamu sadar kamu udah ngebantu ngegusur ratusan keluarga dan kamu bahkan nggak inget muka satu pun dari mereka."
Ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah flashdisk, meletakkannya di telapak tangannya, menatapnya seolah benda itu berat sekali. "Saya nggak bisa hidupin lagi yang udah mati di dalam saya, Nayla. Tapi saya bisa berhenti diem." Ia menyodorkan flashdisk itu. "Ini salinan. Bukan cuma proyek kamu—lintas proyek. Bertahun-tahun. Pola pemalsuan sertifikat yang sama, modus 'surat hilang' yang sama, dilakuin berulang di puluhan lokasi. Saya kumpulin diam-diam selama setahun terakhir, sejak nurani saya mulai ngajak ribut tiap malam. Ini cukup buat ngebongkar manipulasi sistematis. Cukup buat ngehentiin mereka di pengadilan, kalau ada yang berani."
Nayla menatap flashdisk itu, lalu menatap Pak Hendra, dan ia tahu betapa besar risiko yang baru saja lelaki itu ambil. "Kenapa saya, Pak? Kenapa Bapak percaya saya?"
"Karena kamu masih marah," kata Pak Hendra. "Dan marah kamu bener. Saya lihat cara kamu baca berkas—kamu nggak ngeliat angka, kamu ngeliat orang di balik angka. Kamu masih punya yang saya udah kehilangan. Dan—" ia ragu, "—karena rumah keluarga kamu ada di salah satu berkas itu. Saya tahu. Saya yang ngecek arsipnya beberapa minggu lalu, pas kamu mulai sering ngintipin map lama. Saya baca namamu di situ." Suaranya melembut. "Kamu pantes tahu kebenaran soal keluargamu sendiri. Dan kamu pantes bawa keadilan yang dulu nggak ada buat kalian, buat orang lain."
Nayla menerima flashdisk itu, tangannya gemetar. "Makasih, Pak."
Tapi Pak Hendra belum selesai, dan apa yang ia katakan berikutnya membuat suhu di ruang arsip terasa turun, meski AC mati. Ia menurunkan suaranya jadi nyaris bisikan, dan ia melihat sekeliling dulu, seolah dinding pun punya telinga.
"Satu lagi. Yang ini saya kasih tahu bukan sebagai bukti, tapi sebagai peringatan. Hati-hati sama Bu Renata. Dia bukan cuma manajer galak." Ia menelan ludah. "Dan hati-hati sama yang di atas dia."
"Di atas Renata?" Nayla mengernyit. "Maksud Bapak bosnya? Pemilik Cakra Bumi?"
"Saya nggak pernah lihat orangnya," kata Pak Hendra, dan ada ketakutan tulus di matanya sekarang, ketakutan seorang lelaki dewasa yang sudah melihat banyak hal kotor tapi yang ini berbeda. "Dua puluh tiga tahun, nggak pernah sekali pun. Tapi semua orang takut sama dia. Renata takut. Saya pernah lihat Renata—Renata yang nggak pernah gemetar di depan siapa pun—keluar dari telepon sama orang itu dengan tangan gemetar dan muka pucat. Keputusan-keputusan aneh, proyek-proyek yang nggak masuk akal secara bisnis, lahan-lahan rugi yang tetep dipaksa diambil—semua dari atas. Dari dia. Orang yang nggak ada fotonya, nggak ada masa lalunya, yang muncul tiba-tiba beberapa tahun lalu dan langsung megang semuanya." Ia menatap Nayla. "Saya cuma tahu namanya. Atau nama yang dia pakai. Tuan Wibawa."
Nama itu menggantung di udara berdebu ruang arsip, dan entah kenapa, mendengarnya, Nayla merasakan tengkuknya meremang—reaksi yang sama yang ia rasakan di dekat Renata, di dekat dingin yang menyusup di bawah pintu kamar di malam-malam sepi. Ia tak punya indera dhanyang Ki Lawu. Tapi tubuhnya, naluri hewani paling tua di dalamnya, mengenali sesuatu di nama itu yang akalnya belum bisa namai.
"Saya bakal hati-hati, Pak," katanya pelan.
"Hati-hati aja nggak cukup, Nayla," kata Pak Hendra, mengangkat tasnya, bersiap pergi sebelum ada yang curiga mereka terlalu lama di sini. "Tapi itu permulaan." Ia berhenti di pintu, menoleh, dan untuk sesaat tampak seperti orang yang baru saja meletakkan sebagian besar beban yang ia panggul bertahun-tahun. "Saya nggak tahu apa ini bakal nyelametin saya dari apa yang udah saya bantu rusak. Mungkin udah telat. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, malam ini saya bakal bisa tidur."
Ia keluar. Dan Nayla berdiri sendirian di antara rak-rak berkas berdebu, menggenggam flashdisk berisi setahun keberanian seorang lelaki yang kehilangan nuraninya sepotong demi sepotong dan akhirnya merebut kembali yang tersisa, sambil nama itu—Tuan Wibawa—terus berdengung di kepalanya seperti lonceng yang dipukul di kejauhan, memperingatkan sesuatu yang belum bisa ia lihat bentuknya.