"Kita nggak bisa ngusir makhluk itu dari Yuni pakai pot," kata Ki Lawu, dan kalimat itu menggantung berat di kamar Nayla tengah malam itu. "Tanah hidup menutup pintu di tempat. Tapi pintu di dalam Yuni dibuka oleh lukanya. Selama lukanya menganga, makhluk itu punya jalan masuk, sebanyak apa pun pot kita tanam."
"Jadi gimana?" Bu Sari bertanya, tangannya meremas-remas ujung dasternya. "Kita panggil ustaz? Orang pinter? Saya kenal—"
"Bukan diusir, Bu," Ki Lawu menggeleng. "Disembuhkan. Makhluk itu masuk lewat luka. Kalau lukanya kita tutup—bukan dengan paksa, tapi dengan benar-benar menyembuhkannya—maka pintunya hilang dengan sendirinya, dan makhluk itu terlempar keluar karena tak ada lagi tempat berpijak di dalam Yuni." Ia menatap mereka satu per satu. "Luka Yuni adalah utang dan rasa malu. Maka itulah yang harus kita obati. Bukan dengan ritual. Dengan menyelesaikan masalahnya yang sungguhan."
Nayla menatapnya. "Pak. Utang Yuni itu puluhan juta. Kita—maaf ya—kita orang-orang kost yang makan mi tiap akhir bulan. Kita nggak bisa lunasin segitu."
"Tidak perlu lunas semua," kata Ki Lawu. "Luka tidak sembuh karena uang. Luka sembuh karena seseorang berhenti sendirian menanggungnya. Yuni berpikir ia harus menghilang karena malu. Tugas kita bukan membayar utangnya. Tugas kita membuat ia tahu ia tak harus menghilang."
Mereka bekerja seperti pasukan kecil. Nayla, dengan akses dan ketelitian arsiteknya, membedah utang Yuni angka demi angka—dan menemukan, seperti yang ia duga, bahwa sebagian besar adalah bunga dan denda ilegal yang berlipat dari pinjaman aslinya yang sebenarnya tak seberapa. Ia menghubungi lembaga bantuan hukum mahasiswa, mencatat mana utang sah dan mana pemerasan terselubung, menyiapkan langkah-langkah agar teror penagih bisa dilaporkan.
Bu Sari melakukan apa yang paling ia kuasai: ia menjadi ibu. Ia mengetuk pintu Yuni tiap pagi membawa sarapan dan tidak menerima penolakan, duduk di kamarnya, bicara soal apa saja, sampai gadis itu mulai makan lagi, mulai bicara lagi, mulai menangis pada bahu seseorang alih-alih menelan tangis itu sendirian dalam gelap.
Dan Ki Lawu memberi yang ia bisa—sebutir "untung kecil", dalam batas yang ia berani sekarang setelah tanah hidup di teras menanggung sebagian bebannya. Bukan keajaiban besar. Hanya, beberapa hari kemudian, sebuah pekerjaan menerjemahkan dan menata layout yang Yuni lamar berbulan lalu tanpa kabar, tiba-tiba memanggilnya balik—pekerjaan paruh waktu yang lumayan, yang cocok dengan jadwalnya, yang cukup untuk mencicil sisa utang sahnya dengan napas. Ki Lawu tidur sepanjang siang setelah itu, wajahnya kelabu, tapi ia tersenyum ketika Nayla mengomelinya.
Namun bagian tersulit bukan uang atau hukum. Bagian tersulit adalah membuat Yuni mengangkat telepon dan menelepon ayahnya.
"Aku nggak bisa," katanya, gemetar, ponsel di tangannya seperti benda yang membara. "Dia bakal kecewa. Dia bakal—"
"Dia bakal apa?" kata Bu Sari lembut, duduk di sampingnya. "Marah? Iya, mungkin. Sedih? Pasti. Tapi kamu pikir lebih sakit mana buat orang tua—anaknya bikin salah dan ngaku, atau anaknya ngilang dan nggak pernah tau ada apa?" Ia menggenggam tangan Yuni. "Ibu udah jadi orang tua, Yun. Yang paling ditakutin orang tua bukan anaknya salah. Tapi anaknya nanggung salah sendirian sampai patah."
Yuni menangis lama. Lalu, dengan tangan yang masih gemetar, ia menelepon.
Mereka tak mendengar isi percakapan itu—Yuni masuk ke kamar dan menutup pintu—tapi mereka mendengar tangis yang berubah. Yang awalnya tangis takut, lalu tangis lega, lalu, di ujungnya, tawa kecil yang basah. Ketika Yuni keluar, matanya merah dan bengkak, tapi kilau dingin yang menakutkan itu hilang dari matanya. Sepenuhnya. Yang tersisa hanya gadis lelah yang baru saja meletakkan beban yang terlalu lama ia panggul sendirian.
"Bapak nangis," katanya, suaranya serak. "Tapi bukan marah. Dia bilang—" Yuni terisak lagi. "Dia bilang, 'Ya Allah, Nduk, kenapa kamu nggak bilang dari dulu. Kita keluarga. Kita selesaikan bareng.'"
Di botol gantung di luar jendela, tomat yang tadinya layu menghitam, mendorong keluar daun hijau baru di pucuknya.
Ki Lawu, yang berdiri di teras, merasakan hawa dingin itu terlempar keluar dari kost—tercabut, kelaparan, marah—seperti tamu tak diundang yang akhirnya didorong keluar pintu. Ia menutup matanya dan menyimpan pelajaran ini baik-baik, karena ia tahu betapa pentingnya: makhluk lapar tidak dikalahkan dengan kekuatan. Ia dikalahkan dengan menutup luka. Dengan membuat orang yang terluka tahu ia tidak sendirian.
Dan ketika ia membuka matanya, ia menatap ke arah kamar Nayla, dan sesuatu yang dingin menyusup ke dadanya. Karena kalau menutup luka adalah cara mengusir makhluk itu, maka selama satu luka masih menganga—luka yang lahir dari tanah yang direnggut, kemarahan yang dibawa seseorang seperti pisau di dada—pintu itu masih terbuka. Dan ia tahu persis di kost ini, luka siapa yang paling lama dibiarkan menganga, dan yang paling keras kepala menolak disembuhkan.