Ki Lawu menunggu sampai gang sepi dan Bu Sari tidur sebelum ia membicarakannya, karena ia tahu Nayla akan marah, dan ia ingin marahnya tidak punya penonton.
Mereka duduk di teras di antara pot-pot yang kini bernapas. Ki Lawu memandangi ember tanah hidup pertama mereka, lalu berkata pelan, "Yang menyelamatkan Yuni bukan uang, bukan hukum, bukan untung kecilku. Yang menyelamatkannya adalah ia berhenti menanggung lukanya sendirian. Pintunya tertutup karena ia tak lagi malu, tak lagi sembunyi, tak lagi merasa lebih baik menghilang." Ia menoleh pada Nayla. "Kau paham apa artinya ini untukmu, Nak."
Nayla, yang sudah menebak ke mana arah pembicaraan ini sejak Ki Lawu meminta bicara, mengeraskan rahangnya. "Saya beda sama Yuni."
"Tidak. Kau sama." Ki Lawu tak meninggikan suara, dan justru itu yang membuat kata-katanya menusuk. "Makhluk itu mengincarmu sejak awal, jauh sebelum Yuni. Kenapa kau, dari sekian banyak orang di kota ini? Karena kau berbau seperti tanah yang direnggut. Lukamu—rumah keluargamu yang digusur, surat tanah yang 'hilang', bapakmu yang jatuh sakit mengurusnya sampai kalah—luka itu masih terbuka, Nayla. Kau menyimpannya jadi marah, dan marah itu membakar terus. Selama luka itu menganga, kau adalah pintu yang setengah terbuka. Persis seperti Yuni."
Nayla berdiri, lengannya bersedekap, menatap ke gang gelap. "Marah saya yang bikin saya kuat," katanya, suaranya dingin. "Marah saya yang bikin saya masuk arsitektur. Marah saya yang bikin saya berani masuk firma sialan itu buat ngorek dokumen. Bapak minta saya buang itu? Bapak minta saya jadi lembek?"
"Aku tidak minta kau buang marahmu," kata Ki Lawu. "Aku minta kau sembuhkan lukanya. Itu berbeda. Marah yang sehat adalah api di tungku—ia memasak, ia menghangatkan. Marah dari luka yang tak sembuh adalah api di rumah—ia membakar habis pemiliknya, lalu mengundang yang lapar untuk menghangatkan diri di reruntuhannya." Ia menatap punggung gadis itu. "Lihat dirimu. Kau bicara soal firma, soal dokumen, soal melawan Cakra Bumi, dengan mata yang sama dinginnya dengan mata Yuni dua minggu lalu. Kau pikir kau berjuang. Sebagian dari itu adalah berjuang. Tapi sebagian lagi—sebagian lagi adalah kau memberi makan luka itu supaya tak sembuh-sembuh, karena kau takut pada apa yang terjadi kalau ia sembuh."
Nayla berputar, dan ada air di matanya sekarang, air yang ia benci. "Takut apa?" ia hampir berteriak, lalu menurunkan suaranya, ingat Bu Sari tidur. "Takut apa, Pak?"
Ki Lawu menjawab dengan sangat lembut. "Takut bahwa menyembuhkan luka itu berarti memaafkan mereka. Orang-orang yang menggusur rumahmu. Yang membuat bapakmu sakit. Kau berpikir, kalau aku berhenti marah, berarti aku merelakan. Berarti mereka menang. Berarti tiga generasi keluargaku yang tinggal di tanah itu tak ada artinya." Ia berhenti. "Maka kau memilih terus berdarah, karena berdarah terasa seperti kesetiaan. Seolah luka yang terbuka adalah satu-satunya cara mengenang apa yang hilang."
Nayla terdiam. Karena dhanyang tua itu, dengan suara setenang air, baru saja menamai sesuatu yang ia sendiri tak pernah berani namai—sesuatu yang ia simpan di dasar dirinya bertahun-tahun, yang ia kira adalah keberanian padahal sebagian adalah luka yang ia rawat seperti orang merawat bara agar tak padam.
"Bapak nggak ngerti," katanya akhirnya, suaranya pecah, tapi tak segarang tadi. "Bapak dhanyang. Bapak ratusan tahun. Bapak nggak pernah punya rumah yang bisa diambil orang dalam tiga hari pakai surat dan eskavator. Bapak nggak pernah lihat bapak Bapak nangis di depan kantor lurah sambil pegang sertifikat yang katanya nggak berlaku, padahal—" Ia berhenti, menyeka wajahnya dengan kasar. "Padahal itu satu-satunya yang dia punya buat ngebuktiin kami pernah ada di situ."
Ki Lawu berdiri, perlahan, dan menghampirinya. Ia tak menyentuhnya—ia tahu Nayla tak suka disentuh ketika menangis. Ia hanya berdiri di sampingnya, menatap gang yang sama.
"Aku kehilangan rumahku dalam satu malam, lewat surat dan gergaji," katanya pelan. "Aku kehilangan beringinku, sumberku, namaku, bahkan wajah ibuku—perempuan yang dulu menanam beringin itu, yang membuatku ada. Aku tak ingat wajahnya lagi, Nayla. Aku menukarnya untuk menarikmu menjauh dari mulut tabir malam itu di gang, dan aku akan menukarnya lagi, tapi—aku ingat kehilangannya tiap hari." Suaranya tergetar. "Jadi jangan katakan aku tak mengerti. Aku mengerti terlalu baik. Justru karena itu aku tahu: kau bisa mengenang apa yang hilang tanpa membiarkan kehilangan itu memakanmu dari dalam. Kau bisa memperjuangkan keadilan tanpa membiarkan luka itu jadi pintu. Tapi kau harus memilih sembuh dulu. Dan kau menolak."
"Saya belum siap," bisik Nayla.
"Aku tahu," kata Ki Lawu. "Dan aku tak akan memaksamu. Luka tak bisa dipaksa sembuh, sama seperti tanah tak bisa dipaksa mengakuiku. Tapi aku ingin kau tahu kebenarannya, supaya ketika kau siap, kau tahu jalan mana yang harus kau tempuh." Ia menatapnya. "Selama luka itu terbuka, makhluk itu akan terus mengincarmu. Dan suatu hari, di saat kau lengah, ia akan berbisik seperti ia berbisik pada Yuni. Dan aku—aku mungkin tak punya cukup umur tersisa untuk menariknya keluar dua kali."
Nayla menatap dhanyang tua itu, dan untuk pertama kalinya ia melihat bukan hanya kekuatan misterius atau kelucuan canggung, tapi sesama yang kehilangan, yang menawarinya bukan ramalan tapi peta keluar dari labirin yang ia sendiri tersesat di dalamnya bertahun-tahun. Ia tak menjanjikan apa pun malam itu. Tapi sebelum tidur, untuk pertama kalinya sejak ia masuk firma, ia membuka folder lama di laptopnya—folder yang ia beri nama "jangan dibuka"—berisi foto-foto rumah keluarganya sebelum digusur, dan ia menatapnya lama, sampai air matanya habis, sebelum menutupnya lagi. Belum membuka lukanya. Tapi, untuk pertama kalinya, berani menatap arah pintunya.