Yang pertama menyadari ada yang salah dengan Mbak Yuni bukan Ki Lawu, melainkan tanaman tomatnya.
Botol gantung berisi tomat yang Yuni tanam dengan rajin saat pesta gang hijau, mendadak layu dalam dua hari. Bukan layu biasa—layu yang aneh, daunnya menghitam dari pinggir ke dalam seolah disentuh hawa dingin. Ki Lawu, yang lewat tiap subuh untuk menyapa pot-pot, berhenti di depan botol itu dan keningnya berkerut. Ia menyentuh tanahnya. Dingin. Bukan dingin pagi. Dingin tabir.
Ia menengadah ke jendela kamar atas, dan tengkuknya meremang.
Yuni berubah pelan, dan kalau bukan karena indera dhanyang yang menajam justru ketika tubuhnya melemah, mungkin tak ada yang sadar sampai terlambat. Mahasiswi yang dulu ramai itu, yang tertawanya terdengar dari lantai bawah, kini menarik diri. Ia berhenti ikut pesta gang. Ia tak lagi menyapa Pak Darto di tangga. Ketika Bu Sari mengetuk pintunya membawa kolak, Yuni menjawab lewat celah pintu dengan suara datar, "Nggak laper, Bu," lalu menutupnya. Matanya, ketika sesekali ia turun, punya kilau yang salah—bukan sedih, tapi dingin, jauh, seperti ada orang lain yang mengintip dari belakang matanya.
Ki Lawu mengendusnya suatu sore ketika berpapasan dengannya di tangga, dan ia harus menahan diri agar tidak mundur. Di bawah bau sabun dan kopi instan murahan, ada bau lain—bau dingin yang familiar, bau yang ia kenal dari malam terakhir Sumberwangi, dari Renata, dari balik dinding di malam-malam paling sepi. Tapi kali ini baunya bukan di luar Yuni. Baunya di dalam.
"Ia sudah masuk," kata Ki Lawu pada Nayla dan Bu Sari malam itu, suaranya berat. "Makhluk itu. Ia tak bisa menembus pagar pot di tanah, jadi ia berhenti mencoba. Ia menemukan jalan yang tak bisa kita tutup dengan tanah." Ia menatap mereka. "Lewat luka Yuni."
Bu Sari memucat. "Luka apa? Yuni baik-baik aja, dia cuma—akhir-akhir ini emang murung, tapi—"
"Tidak ada manusia yang 'cuma murung', Bu," kata Ki Lawu lembut. "Ada yang ia simpan. Ada luka yang ia biarkan terbuka tiap malam, sendirian, yang ia malu ceritakan. Dan makhluk lapar mencium luka seperti itu seperti aku mencium niat. Ia tidak merasuki orang yang utuh. Ia tak bisa. Ia hanya bisa masuk lewat retakan yang sudah ada—dan ia memperlebarnya, memberi makan luka itu sampai luka itu menelan seluruh orangnya."
Nayla, yang lebih dekat usia dengan Yuni dan lebih paham dunia mahasiswa, sudah punya firasat. Ia tahu Yuni anak rantau dari kampung jauh. Ia tahu kiriman Yuni sering telat. Ia tahu, dari obrolan sepintas berbulan lalu, bahwa Yuni pernah menyebut "pinjol" dengan tawa gugup yang tak benar-benar tawa.
Mereka mencari tahu dengan hati-hati. Nayla mengetuk pintu Yuni bukan dengan pertanyaan, tapi dengan mi instan dan keluhan tentang dosennya sendiri, duduk di lantai kamar Yuni yang berantakan, bicara soal hal-hal kecil sampai pertahanan gadis itu retak. Dan ketika retak, semuanya tumpah—dengan suara datar yang menakutkan, seolah Yuni menceritakan hidup orang lain.
Utang. Bermula dari satu pinjaman online untuk bayar UKT semester lalu, ketika kiriman ayahnya telat karena panen gagal. Lalu pinjaman kedua untuk menutup yang pertama. Lalu yang ketiga, keempat, sampai angkanya jadi sesuatu yang tak masuk akal, berlipat oleh bunga yang ia tak mengerti waktu menandatanganinya dengan sekali ketuk di ponsel. Penagih mulai meneror—menelepon kontaknya, menyebar foto, mengancam akan menghubungi kampus, ayahnya, seluruh kampungnya.
"Aku nggak bisa pulang," kata Yuni, dan untuk sesaat kilau dingin di matanya surut, digantikan air mata yang nyata. "Bapakku udah bangga banget anaknya kuliah di Jakarta. Kalau dia tau aku terlilit utang segini, kalau seluruh kampung tau—mendingan aku ilang aja. Mendingan aku nggak ada."
Dan di kata-kata itu—mendingan aku nggak ada—Nayla merasakannya. Suhu kamar turun. Bayangan di sudut memanjang. Dan untuk sekejap, di pantulan cermin lemari di belakang Yuni, Nayla melihat sesuatu yang bukan pantulan kamar: sosok tinggi tanpa wajah, berdiri tepat di belakang bahu Yuni, condong ke telinganya seperti membisikkan sesuatu yang sangat manis dan sangat beracun.
Nayla membeku, tapi ia memaksa dirinya tidak berteriak. Ia menggenggam tangan Yuni erat. "Kamu ada," katanya, suaranya tegas meski jantungnya menggila. "Kamu ada, Yun. Dan kamu nggak sendirian. Dengerin aku."
Di pantulan cermin, sosok tanpa wajah itu menoleh—tak punya mata, tapi Nayla merasakan tatapannya—dan untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat balik oleh makhluk yang selama ini cuma mengintainya dari jauh. Ia mengerti, dengan dingin yang menjalar ke ujung jari, bahwa pertahanan mereka yang berbulan-bulan mereka bangun dari pot dan tanah dan kompos, punya satu celah yang tak bisa ditambal dengan apa pun yang tumbuh di tanah: hati manusia yang terluka dan dibiarkan sendirian dalam gelap. Dan makhluk itu, yang sabar dan lapar, baru saja menemukannya.