Yang dimulai sebagai ritual tersamar berakhir, anehnya, sebagai pesta kelurahan.
Ide "Gang Hijau" lahir dari kebutuhan: makin banyak tanah hidup di gang, makin tebal benteng melawan makhluk lapar, makin banyak roh tersesat yang bisa diberi rumah. Tapi Nayla tahu kau tak bisa menyuruh warga gang menanam demi melawan monster purba dari seberang tabir—mereka akan memanggil ambulans untukmu. Maka ia membungkusnya jadi sesuatu yang masuk akal: lomba antar-gang dari kelurahan, hadiah uang tunai, piala plastik, dan—ini yang paling ampuh—nama gang mereka terpampang di spanduk dan diliput akun media sosial kelurahan.
Dan warga, ternyata, menanam dengan semangat yang membuat Ki Lawu terharu sekaligus geli.
Pak Darto, yang buburnya kini selalu laris, menyumbang pot-pot dari kaleng bekas susu yang ia cat warna-warni. Mbak Yuni, di sela kesibukannya yang akhir-akhir ini terlihat murung, menanam tomat di botol plastik gantung. Ibu-ibu yang dulu cuma bergosip di depan warung kini bergosip sambil menyiang rumput. Anak-anak yang dulu main bola di gang sekarang berlomba siapa yang pohon cabainya berbuah duluan. Bahkan Pak RT, yang awalnya curiga ini akal-akalan untuk meminta dana, akhirnya ikut membawa cangkul dan berfoto di depan pot terbesar.
Di tengah semua itu, secara tak terduga, Ki Lawu menjadi selebriti.
Ini bermula ketika tanaman ibu-ibu mulai layu dan, entah dari mana, tersiar kabar bahwa "Pak Lawu pinter sama tanaman". Maka berdatanganlah mereka, satu per satu, membawa pot layu seperti membawa pasien ke dukun. "Pak Lawu, kenapa ya cabai saya kuning?" "Pak Lawu, tomat saya kok nggak berbuah-buah?" Dan Ki Lawu, yang tak tahu cara berbohong dan tak punya tips berkebun modern, melakukan satu-satunya hal yang ia bisa: ia jujur pada tanaman.
"Cabai ini kebanyakan dikasih air," katanya pada satu pot, setelah menyentuh tanahnya. "Akarnya tenggelam, ia tak bisa bernapas. Ibu menyayanginya terlalu erat sampai ia sesak. Biarkan tanahnya kering dulu di antara siraman. Cinta juga butuh jarak."
Ibu-ibu itu mengangguk khusyuk, mencatat di kepala, lalu menyebarkan ke seluruh gang bahwa Pak Lawu memberi "wejangan" yang dalam. Yang ia maksud cuma drainase. Mereka mendengarnya sebagai filsafat. "Cinta juga butuh jarak," terdengar dikutip seorang ibu pada anaknya yang remaja sore itu, dan Nayla, yang kebetulan lewat, harus menggigit pipinya agar tidak ngakak.
"Bapak sadar nggak," kata Nayla malam itu, masih cekikikan, "Bapak sekarang jadi mbah dukun tanaman? Tadi Bu Tinah bilang Bapak 'sesepuh yang ngerti bahasa tumbuhan'."
"Aku memang mengerti bahasa tumbuhan," kata Ki Lawu, bingung kenapa itu lucu.
"Itu dia masalahnya," Nayla mengusap mata. "Bapak nggak boong, tapi mereka denger jauh lebih ajaib dari yang Bapak maksud. Bapak ngomongin drainase, mereka denger ramalan."
Tapi di balik kelucuan itu, Ki Lawu merasakan sesuatu yang lebih dalam, dan ia membaginya pada Nayla ketika gang sudah sepi dan mereka duduk di teras di antara pot-pot baru. "Tiap tanah yang mereka hidupkan," katanya, "adalah satu paku lagi di benteng. Mereka pikir mereka berlomba. Mereka pikir mereka berkebun. Tapi sebenarnya—tiap cabai yang mereka rawat dengan sayang, tiap pot yang mereka siram dengan harapan, menipiskan jalan makhluk lapar dan menebalkan dinding. Mereka membangun pertahanan tanpa tahu ada yang harus dilawan. Dan itu, Nak, justru kekuatannya. Pertahanan yang lahir dari kebahagiaan, bukan ketakutan, jauh lebih kuat. Karena rasa syukur memberi makan roh-roh kolong, dan tanah yang dicintai menutup tabir."
Malam itu, di kolong jembatan, penunggu sumur tua merasakannya pertama kali—aliran samar rasa syukur kolektif dari gang yang sedang berpesta tanaman, mengalir lewat tanah seperti aroma masakan dari dapur tetangga. Ia menengadah, dan untuk sesaat wujudnya memadat, lebih jelas, lebih ingat. Ia menyenggol dhanyang sungai di sebelahnya. "Rasakan itu," bisiknya. "Mereka memberi kita makan. Manusia-manusia itu. Tanpa tahu." Dan dhanyang sungai, yang sudah lama tak merasa kenyang, menutup matanya dan menyesap kehangatan asing itu seperti orang kelaparan menyesap kuah.
Tapi tak semua merasakannya sebagai berkah.
Di pojok kost, di bawah jendela kamar atas, suhu turun beberapa derajat lebih dingin dari yang seharusnya. Karena makhluk lapar merasakannya juga—merasakan bentengnya menebal, jalannya menyempit, tanah-tanah baru yang menolaknya satu per satu menyala seperti pagar listrik yang baru dipasang. Ia tak bisa lagi masuk lewat tempat. Tiap petak yang dirawat warga adalah pintu yang tertutup di wajahnya.
Maka ia berhenti mencari pintu di tempat, dan mulai mencari pintu di orang. Karena tanah bisa dirawat sampai menolaknya. Tapi luka manusia—luka yang malu, luka yang disembunyikan, luka yang dibiarkan menganga di tengah malam—luka itu selalu terbuka. Dan di antara semua kebahagiaan gang yang berpesta itu, ada satu jendela yang lampunya menyala sampai larut, di kamar tempat seseorang menatap layar ponsel berisi angka utang yang tak bisa ia bayar, dan rasa malu yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Makhluk lapar mencium luka itu seperti orang lapar mencium dapur. Dan ia mulai berbisik.