Eksperimen tanah pot sudah gagal cukup banyak kali sampai Bu Sari mulai menyebut sudut teras itu "kuburan tanaman". Ada ember bekas cat yang isinya cuma tanah masam dan bangkai cabai. Ada pot retak yang tanahnya menolak Ki Lawu seperti tubuh menolak duri. Ada bahkan satu percobaan dengan tanah merah yang Nayla beli mahal dari toko taman mewah, yang ternyata sama matinya dengan yang murah—diayak, disterilkan, dipupuk kimia, tanah yang sudah lupa caranya hidup.
"Masalahnya selalu sama," kata Ki Lawu, duduk bersila di teras dengan tangan kotor sampai siku. "Tanah yang kalian jual sudah dibunuh sebelum dijual. Tak ada cacing, tak ada jamur halus, tak ada napas. Aku tak bisa berkenalan dengan yang sudah mati. Sama seperti aku tak bisa berkenalan dengan patung."
Maka Nayla, dengan otak yang tak bisa berhenti memecah masalah jadi komponen, mengubah pendekatannya. Kalau tanah harus hidup, mereka harus menghidupkannya. Dan menghidupkan tanah, ternyata, bukan urusan gaib sama sekali. Itu urusan dapur dan kebun.
Mereka mulai mengumpulkan sisa dapur kost—kulit bawang, ampas kopi Pak Karyo, kulit pisang, sisa sayur yang Bu Sari tadinya buang. Nayla menonton video sampai larut, alisnya berkerut serius seperti sedang menghitung beban kolom, lalu menjelaskan pada Ki Lawu dengan istilah yang terdengar seperti mantra modern: rasio cokelat dan hijau, kelembapan segenggam yang diperas, suhu yang harus naik lalu turun. Ki Lawu mendengarkan dengan takjub yang tulus.
"Jadi kalian sudah tahu cara menghidupkan tanah," katanya. "Selama ini. Kalian menamainya 'kompos', bukan 'menghormati yang mati agar memberi hidup'. Tapi isinya sama. Kalian hanya lupa bahwa itu suci."
"Itu bukan suci, Pak, itu mikroba," kata Nayla, tapi nadanya tak segalak biasanya.
Pak Karyo menyumbang yang paling berharga: cacing. Ia datang suatu subuh dengan ember kecil berisi tanah gembur dari kebun belakang rumah kontrakannya, tanah yang sudah ia rawat diam-diam bertahun-tahun untuk menanam cabai dan kangkung. "Ini tanah hidup beneran, Ki," katanya, menyerahkannya dengan kedua tangan seperti menyerahkan sesuatu yang sakral. "Ada cacingnya. Ada... ya, ada napasnya. Saya rawat dari dulu. Buat apa, saya juga nggak tau, kayak ada yang nyuruh."
Ki Lawu menerima ember itu dan menatap isinya lama. Lalu ia menatap Pak Karyo dengan ekspresi yang membuat tukang sampah itu salah tingkah. "Kau merawat tanah ini bertahun-tahun tanpa tahu kenapa," kata Ki Lawu pelan. "Karena di dalam dirimu masih ada yang ingat cara menghormati tanah, meski kepalamu lupa. Tanah ini hidup karena dicintai, Karyo. Itu satu-satunya cara tanah bisa hidup."
Mereka mencampur semuanya—kompos yang sudah matang dari sisa dapur, tanah bercacing Pak Karyo, dan setitik, hanya setitik, dari kantong tanah yang Ki Lawu jaga sebagai stek terakhir dari pengakuannya yang lama. Mereka menyusunnya dalam ember besar di teras, dan Ki Lawu menjalani upacara perkenalannya: bersila, tangan menyentuh permukaan, doa berirama dalam bahasa yang tak Nayla kenal, lembut seperti nyanyian menidurkan anak. Tapi kali ini ia tak memaksa. Ia tak menanam sapaan lalu menariknya kembali. Ia hanya hadir. Tiap subuh, tiap senja, ia datang dan duduk di samping ember itu, menyiramnya dengan air cucian beras, menyapa cacing-cacingnya, membiarkan tanah mengenal langkahnya di teras seperti tetangga mengenal tetangga.
Butuh sembilan hari. Pada subuh kesepuluh, Ki Lawu duduk di samping ember seperti biasa, telapak tangannya menyentuh permukaan tanah yang lembap dan gembur, dan ia merasakannya.
Tanah itu bernapas balik.
Bukan kata-kata. Bukan suara. Hanya getar samar, seperti detak jantung kecil yang terlalu lemah untuk didengar tapi cukup untuk dirasakan, naik dari tanah ke telapaknya, ke lengannya, ke dadanya. Pengakuan. Setitik, sekecil tetes embun, tapi nyata. Untuk pertama kalinya sejak beringinnya tumbang dan ia tersedot ke kota yang tak mengenalnya, ada sejengkal tanah di dunia ini yang berkata: aku tahu kau. Kau boleh berdiri di sini. Kau bukan asing.
Ki Lawu menutup matanya, dan air mata jatuh dari sudutnya tanpa ia perintahkan. Bukan air mata sedih. Sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam—air mata orang yang sudah lama berdiri di tengah hujan dan akhirnya, akhirnya, menemukan satu sudut atap.
"Nayla," panggilnya, suaranya pecah. "Nayla, bangun. Kemarilah."
Nayla, yang baru tidur tiga jam setelah begadang revisi, keluar dengan rambut berantakan dan mata setengah terbuka, siap menggerutu. Tapi ia berhenti ketika melihat wajah Ki Lawu. "Pak? Bapak nangis? Kenapa—"
"Sentuh," kata Ki Lawu, menarik tangannya ke permukaan tanah. "Kau tak akan merasakan yang kurasakan. Tapi sentuh saja. Ini berhasil, Nak." Ia tertawa, tawa yang basah dan gemetar dan penuh. "Ini hidup. Tanah ini hidup, dan ia mengenalku. Setitik. Tapi setitik sudah cukup."
Nayla menyentuh tanah lembap itu. Ia tak merasakan detak jantung gaib apa pun. Ia hanya merasakan tanah dingin yang gembur di pagi hari. Tapi ia menatap wajah dhanyang tua yang menangis bahagia di sampingnya, dan ia merasakan sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat. Karena ia tahu apa artinya ini. Bukan cuma untuk Ki Lawu.
"Berarti Bapak nggak harus pulang," katanya pelan. "Berarti Bapak bisa... berakar di sini. Beneran."
Ki Lawu menatap ember tanah yang bernapas itu, lalu menatap gang sempit di balik pagar, lalu menatap gadis yang merancang semua ini dari sisa dapur dan cacing dan keras kepala. "Iya," katanya. "Untuk pertama kalinya sejak aku tiba, aku tak takut pada subuh berikutnya." Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kotor tanah. "Aku tidak lagi mengikis umurku tiap napas, Nak. Tanah ini menanggung sebagian. Aku punya pijakan. Kecil, tapi punya." Ia tersenyum, dan untuk sesaat tampak jauh lebih muda dari wajah lima puluh tahunnya. "Harapan, ternyata, juga bisa ditanam dari sisa dapur. Siapa sangka."